<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>Kumpulan tulisan dari beberapa sumber yang sangat bagus, dan banyak  hikmah yang bisa dipetik....thanks buat teman2 penulis....</title>
	<link>http://yyuana.blogsome.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<pubDate>Thu, 24 May 2007 02:27:01 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Ini Bukanlah Ujian, Tetapi Sebuah Kesempatan</title>
		<link>http://yyuana.blogsome.com/2007/05/22/ini-bukanlah-ujian-tetapi-sebuah-kesempatan/</link>
		<comments>http://yyuana.blogsome.com/2007/05/22/ini-bukanlah-ujian-tetapi-sebuah-kesempatan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 May 2007 08:08:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
		<guid>http://yyuana.blogsome.com/2007/05/22/ini-bukanlah-ujian-tetapi-sebuah-kesempatan/</guid>
		<description><![CDATA[<pre><code>                    &amp;lt;div class="snap_preview"&amp;gt;&amp;lt;p&amp;gt;Oleh: &amp;lt;a target="_blank" href="http://www.bmf.org/fellowship/founder.html"&amp;gt;M. R. Bawa Muhaiyaddeen&amp;lt;/a&amp;gt;&amp;lt;/p&amp;gt; &amp;lt;p&amp;gt;Diterjemahkan oleh: Dimas Tandayu&amp;lt;/p&amp;gt; &amp;lt;p&amp;gt;Tuhan membawa pelajaran (Hikmah) kepada kita melalui berbagai cara. Seseorang bisa mendapatkan pelajaran melalui anaknya, ada yang melalui istrinya, [...]
</code></pre>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre><code>                        &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;Oleh: &lt;a target="_blank" href="http://www.bmf.org/fellowship/founder.html"&gt;M. R. Bawa Muhaiyaddeen&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Diterjemahkan oleh: Dimas Tandayu&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tuhan membawa pelajaran (Hikmah) kepada kita melalui berbagai cara. Seseorang bisa mendapatkan pelajaran melalui anaknya, ada yang melalui istrinya, ada juga yang melalui perkerjaannya. Dengan banyak jalan Tuhan memberikan kita pelajaran. Jadi, setiap saat kita berhadapan dengan sebuah masalah atau kesulitan, kita perlu menerimanya karena dengannya kita telah diangkat menuju langkah yang lebih tinggi. Setiap hal yang menyebabkan sakit atau penderitaan atau kekhawatiran, kita perlu menyadari bahwa Tuhan telah merancang hal tersebut untuk menaikkan langkah kita ke tinggkat yang lebih tinggi. Melalui kehidupan , Dia selalu memberikan kita hikmah sehingga dengannya, satu per satu, kita bisa naik menuju 99 langkah.(1)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sayangnya, kita cendrung berpikir bahwa situasi seperti ini adalah musibah, lalu kita menderita dan mengeluh. Sebuah pelajaran bisa datang melalui berbagai bentuk &amp;ndash; problem ditempat kerja, masalah menyangkut gelar atau ketenaran, pertanyaan tentang kasta atau suku, masalah politik, atau melalui kelaparan, sakit, atau wabah penyakit. Tetapi setiap hal ini merupakan kesempatan bagi kita untuk menaiki derajat kecintaan kita kepada Tuhan. Ini adalah suatu kesempatan untuk menguatkan keimanan kita kepadaNya dan memperoleh sifat-sifatNya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Untuk itu, kita seharusnya tidak mengkritik Tuhan, mengatakan, &amp;ldquo;Dia memberiku terlalu banyak masalah!&amp;rdquo; Kita perlu menyadari bahwa melalui setiap masalah Dia mencoba untuk mengangkat kita dari keterpurukan, keadaan yang tidak stabil yang kita tempati saat ini dan menempatkan kita pada langkah yang lebih tinggi, langkah yang akan menguatkan iman dan rasa syukur kita, dimana kita menjadikannya sebagai tempat berpijak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jangan pernah berpikir Tuhan mengujimu. Itu bukanlah caraNya. Selalu berpikir apapun yang datang adalah kesempatan Tuhan untuk mengangkatmu. Lihatnya seperti itu dan berpikirlah, &amp;ldquo;Hal ini terjadi untuk menunjukkan aku sesuatu, untuk menjelaskan sesuatu kepadaku.&amp;rdquo;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jadi panjatlah. Panjatlah menuju langkah berikutnya dengan keimanan, kesabaran, dan keihklasan. Jika kau berhasil dalam melakukan semua 99 langkah ini, lalu semua masalah yang kau hadapi akan hilang. Kau akan meninggalkannya dibelakang. Kau hanya akan melihat Tuhan. Masalah-masalah ini tidak baik untukmu, bahkan mereka tidak mau bersamamu, jadi tinggalkan mereka dibelakang dan panjatlah lebih tinggi. Jika kau kembali kepada tingkat mereka, itu hanya akan mendatangkan banyak masalah lainnya. Jadi panjatlah, dan tetaplah memanjat. Tuhan berkata, &amp;ldquo;Panjatlah, percayakan kepadaKu. Naiklah dan menetaplah di tempatKu, tempat kebaikan. Datanglah menujuKu dan panjatlah dengan keimanan dan kesabaran yang tinggi.&amp;rdquo; Itulah yang kau butuhkan. Lalu kau akan mengerti tentangNya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hentikan keluhan dan rengekanmu. Berhenti berkata, &amp;ldquo;Aduh, Tuhan mengujiku, Dia memberiku ujian ini. Jika Tuhan itu ada, kenapa Dia memberiku masalah-masalah ini?&amp;rdquo; Tidak seharusnya kau bersikap seperti itu. Tuhan telah mengatakan kepada kita, &amp;ldquo;Aku menciptakan kebaikan dan keburukan agar kau melihatnya dan menilai mana yang baik dan mana yang buruk. Kebaikan adalah untukmu dan keburukan adalah musuhmu. Jadi ketika keburukan mendekatimu, tinggalkan ia dibelakang dan panjatlah.&amp;rdquo;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketika masalah selanjutnya muncul, panjatlah lebih tinggi. Kau harus menghadapi masalah-masalah ini agar kau menjadi lebih arif. Jika kau tetap menyalahkan Tuhan dan mengeluh tentang kehidupanmu, kau akan menyerah dihadapan Tuhan daripada berjalan menujuNya. Kau harus mengerti akan hal ini. Ini adalah sikap keimanan. Kau harus menjaga agar tetap sabar dan tawakal dalam berjalan menujuNya. Manusia yang berhasil memanjat seluruh langkah akan menjadi manusia yang sempurna.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;September 27, 1981&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Catatan:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1)Ini adalah referensi dari 99 nama Tuhan dalam Islam, nama seperti Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Untuk memanjat adalah menerapkan sifat-sifat dari nama tersebut.&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;
</code></pre>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yyuana.blogsome.com/2007/05/22/ini-bukanlah-ujian-tetapi-sebuah-kesempatan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Menemukan Kesalahan</title>
		<link>http://yyuana.blogsome.com/2007/05/22/menemukan-kesalahan/</link>
		<comments>http://yyuana.blogsome.com/2007/05/22/menemukan-kesalahan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 May 2007 08:00:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
		<guid>http://yyuana.blogsome.com/2007/05/22/menemukan-kesalahan/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Oleh: M. R. Bawa Muhaiyaddeen</p>

<p>Artikel dari sini dan diterjemahkan oleh Dimas Tandayu</p>

<p>Cintaku untukmu, anakku, cucuku. Mendekatlah, dan aku akan memberitahu sesuatu kepadamu yang akan membantumu dalam kehidupanmu. Anakku, apakah kau pernah mengkritik orang lain dan menemukan kesalahan pada mereka, mengeluh “Kenapa mereka melakukan hal itu?” atau pernahkah kau melihat penderitaan yang ada di dunia dan [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: M. R. Bawa Muhaiyaddeen</p>

<p>Artikel dari sini dan diterjemahkan oleh Dimas Tandayu</p>

<p>Cintaku untukmu, anakku, cucuku. Mendekatlah, dan aku akan memberitahu sesuatu kepadamu yang akan membantumu dalam kehidupanmu. Anakku, apakah kau pernah mengkritik orang lain dan menemukan kesalahan pada mereka, mengeluh “Kenapa mereka melakukan hal itu?” atau pernahkah kau melihat penderitaan yang ada di dunia dan bertanya, “Kenapa Tuhan melakukan hal ini?” manusia yang bijak tidak pernah memiliki pemikiran seperti itu. Dia akan mempelajari setiap situasi dan mencoba untuk mengerti apa sebab dan akibatnya. Akhirnya, ia akan berkata, “Ahh, jadi itulah kenapa hal ini terjadi”. Dia tidak pernah menyalahkan Tuhan atau bertanya atas cara yang Tuhan lakukan.</p>

<p>Jika kau berdiri ditengah badai dan mengkritik, mengatakan “Kenapa angin ini berhembus begitu kencang?” dan kau pun akan terperangkap di dalam badai tersebut. Jangan mencoba untuk mencari kesalahan pada badainya. Hal itu hanya akan menghancurkan dirimu. Lebih baik, pelajari badai tersebut dan carilah jalan keluar.</p>

<p>Anakku, Tuhan telah menciptakan berpasang-pasang hal yang berlawanan untuk mengajarkan kepada kita tentang kehidupan kita. Dia menciptakan benar dan salah, baik dan buruk, aroma harum dan bau busuk. Jika kehidupan tidak menyediakan hal-hal yang berlawanan ini kepada kita, bagaimana kita dapat mengerti segala sesuatu?</p>

<p>Kita hanya dapat mengerti kebaikan ketika kita telah mengenal keburukan. Kita hanya dapat mengenal cahaya ketika kita telah melihat kegelapan. Kita hanya dapat mengetahui terdapat sebuah kebenaran ketika kita telah menyaksikan sebuah kebohongan. Hanya ketika kita telah mengalami hasrat (nafs) rendah dan kerusakan yang datang dari mereka, baru kita akan mengerti pesan-pesan surga. Hanya ketika kita telah mengalami sifat mementingkan diri sendiri dan keterikatan terhadap sesuatu, baru kita akan menemukan jalan kita menuju pribadi yang tidak mementingkan diri sendiri dan tidak terikat terhadap apapun.</p>

<p>Demikian juga tidak ada nilai yang didapat dari mencari kesalahan dan mengkritik Tuhan atau siapapun. Lebih baik, kita seharusnya mencoba untuk mengerti setiap situasi dan mencari penjelasan di dalamnya. Setiap hal di dalam ciptaan terdapat suatu hal yang dapat mengajari kita, adalah tugas kita untuk menemukan pelajaran yang ada di dalamnya. Kita dapat memahami kebenaran melalui contoh-contoh. Itulah yang dinamakan kedewasaan. Manusia yang dewasa memahami penyebab dan akibat dari segala sesuatu.</p>

<p>Tanpa pemahaman ini, manusia hanyalah seekor binatang. Dia akan melakukan perbuatan buruk dan kemudian mengatakan itu adalah tugasnya. Tindakannya akan membawa kerusakan kepada dirinya dan orang lain. Tetapi manusia yang mengerti perbuatannya sebelum ia bertindak akan mendapatkan banyak manfaat dan akan memberi ketenteraman kepada orang lain. Dia akan menyempurnakan karya dari khazanah Yang Maha Kuasa. Jika keadaan ini dibangun di dalam diri manusia, dia akan dikatakan seorang insan kamil, manusia yang sempurna. Dia akan memahami.</p>

<p>Kita harus menemukan nilai dari segala sesuatu di dalam kehidupan kita. Kita harus menggunakan kearifan kita untuk memahami segala sesuatu. Kebenaran akan timbul dari dalam diri kita, dan di dalam kebenaran itu kita akan melihat cahaya Tuhan. Ini adalah keindahan dan rahmat dari jiwa.</p>

<p>Permataku yang bercahaya, kau harus merenungkan hal ini. Inilah kehidupan. Mengkritik dan mencari kesalahan hanya akan mendatangkan keburukan. Kau harus menyadari dimana letak kesalahannya dan kemudian menyingkirkan mereka. Apakah kesalahannya pada Tuhan? Apakah kesalahannya pada orang lain? Atau apakah kesalahannya pada diri kita? Dimana letak kesalahannya? Kita harus memahami ini dan menghindari mereka.</p>

<p>Cintaku untukmu.</p>

<p>M. R. Bawa Muhaiyaddeen</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yyuana.blogsome.com/2007/05/22/menemukan-kesalahan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>coba read more</title>
		<link>http://yyuana.blogsome.com/2007/05/16/coba-read-more/</link>
		<comments>http://yyuana.blogsome.com/2007/05/16/coba-read-more/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2007 07:58:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
		<guid>http://yyuana.blogsome.com/2007/05/16/coba-read-more/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Mau ngebuat read more nich&#8230;.&nbsp;&nbsp;</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mau ngebuat read more nich&#8230;.&nbsp;</p><p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yyuana.blogsome.com/2007/05/16/coba-read-more/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Berani Gagal</title>
		<link>http://yyuana.blogsome.com/2007/05/15/berani-gagal/</link>
		<comments>http://yyuana.blogsome.com/2007/05/15/berani-gagal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2007 03:22:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
		<guid>http://yyuana.blogsome.com/2007/05/15/berani-gagal/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Oleh : gede Prama Untuk dapat menikmati hidup, hal terpenting yang perlu Anda lakukan adalah menjadi SADAR. Inti kepemimpinan adalah kesadaran. Inti spiritualitas juga adalah kesadaran. Banyak orang yang menjalani hidup ini dalam keadaan &rdquo;tertidur.&rdquo; Mereka lahir, tumbuh, menikah, mencari nafkah, membesarkan anak, dan akhirnya meninggal dalam keadaan &rdquo;tertidur.&rdquo;Analoginya adalah seperti orang yang terkena hipnotis. [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry"><div class="snap_preview">Oleh : gede Prama <br /><br />Untuk dapat menikmati hidup, hal terpenting yang perlu Anda lakukan adalah menjadi SADAR. Inti kepemimpinan adalah kesadaran. Inti spiritualitas juga adalah kesadaran. Banyak orang yang menjalani hidup ini dalam keadaan &rdquo;tertidur.&rdquo; Mereka lahir, tumbuh, menikah, mencari nafkah, membesarkan anak, dan akhirnya meninggal dalam keadaan &rdquo;tertidur.&rdquo;<br /><br />Analoginya adalah seperti orang yang terkena hipnotis. Anda tahu di mana menyimpan uang. Anda pun tahu persis nomor pin Anda. Dan Andapun menyerahkan uang Anda pada orang tidak dikenal. Anda tahu, tapi tidak sadar. Karena itu, Anda bergerak bagaikan robot-robot yang dikendalikan orang lain, lingkungan, jabatan, uang, dan harta benda.<br /><br />Pengertian menyadari amat berbeda dengan mengetahui. Anda tahu berolah raga penting untuk kesehatan, tapi Anda tidak juga melakukannya. Anda tahu memperjualbelikan jabatan itu salah, tapi Anda menikmatinya. Anda tahu berselingkuh dapat menghancurkan keluarga, tapi Anda tidak dapat menahan godaan. Itulah contoh tahu tapi tidak sadar!<br /><br />Ada dua hal yang dapat membuat orang menjadi sadar. Pertama, peristiwa-peristiwa pahit dan musibah. Musibah sebenarnya adalah &rdquo;rahmat terselubung&rsquo; &lsquo; karena dapat membuat kita bangun dan sadar. Anda baru sadar pentingnya kesehatan kalau Anda sakit. Anda baru sadar pentingnya olahraga kalau kadar kolesterol Anda mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.<br /><br />Anda baru sadar nikmatnya bekerja kalau Anda di-PHK. Seorang wanita karier baru menyadari bahwa keluarga jauh lebih penting setelah anaknya terkena narkoba. Seorang sopir taksi pernah bercerita bahwa ia baru menyadari bahayanya judi setelah hartanya habis. <br /></div><div class="snap_preview">                    Kematian mungkin merupakan satu stimulus terbesar yang mampu menyentakkan kita. Banyak tokoh terkenal meninggal begitu saja. Mereka sedang sibuk memperjualbelikan kekuasaan, saling menjegal, berjuang meraih jabatan, lalu tiba-tiba saja meninggal. Bayangkan kalau Anda sedang menonton film di bioskop. Pertunjukan sedang berlangsung seru ketika tiba-tiba listrik padam. Petugas bioskop berkata, </div><div class="snap_preview"><p>&rdquo;Silakan Anda pulang, pertunjukan sudah selesai!&rdquo;</p> <p>Anda protes, bahkan ingin menunggu sampai listrik hidup kembali. Tapi, si penjaga hanya berkata tegas,</p> <p>&rdquo;Pertunjukan sudah selesai, listriknya tidak akan pernah hidup kembali.&rdquo;</p> <p>Itulah analogi sederhana dari kematian. Kematian orang yang kita kenal, apalagi kerabat dekat kita sering menyadarkan kita pada arti hidup ini. Kematian menyadarkan kita pada betapa singkatnya hidup ini, betapa seringnya kita meributkan hal-hal sepele, dan betapa bodohnya kita menimbun kekayaan yang tidak sempat kita nikmati.</p> <p>Hidup ini seringkali menipu dan meninabobokan orang. Untuk menjadi bangun kita harus sadar mengenai tiga hal, yaitu siapa diri kita, darimana kita berasal, dan ke mana kita akan pergi. Untuk itu kita perlu sering mengambil jarak dari kesibukan kita dan melakukan kontemplasi.</p> <p>Ada sebuah ungkapan menarik dari seorang filsuf Perancis, Teilhard de Chardin,</p> <p>&rdquo;Kita bukanlah manusia yang mengalami pengalaman-pengalaman spiritual, kita adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman-pengalaman manusiawi.&rdquo;</p> <p>Manusia bukanlah &rdquo;makhluk bumi&rdquo; melainkan &rdquo;makhluk langit.&rdquo; Kita adalah makhluk spiritual yang kebetulan sedang menempati rumah kita di bumi. Tubuh kita sebenarnya hanyalah rumah sementara bagi jiwa kita. Tubuh diperlukan karena merupakan salah satu syarat untuk bisa hidup di dunia. Tetapi, tubuh ini lama kelamaan akan rusak dan akhirnya tidak dapat digunakan lagi. Pada saat itulah jiwa kita akan meninggalkan &rdquo;rumah&rdquo; untuk mencari &rdquo;rumah&rdquo; yang lebih layak. Keadaan ini kita sebut meninggal dunia. Jangan lupa, ini bukan berarti mati karena jiwa kita tak pernah mati. Yang mati adalah rumah kita atau tubuh kita sendiri.</p> <p>Coba Anda resapi paragraf diatas dalam-dalam. Badan kita akan mati, tapi jiwa kita tetap hidup. Kalau Anda menyadari hal ini, Anda tidak akan menjadi manusia yang ngoyo dan serakah. Kita memang perlu hidup, perlu makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan dasar lainnya.</p> <p><strong>Bila Anda sudah mencapai semua kebutuhan tersebut, itu sudah cukup!</strong></p> <p>Buat apa sibuk mengumpul-ngumpulkan kekayaan &mdash; apalagi dengan menyalahgunakan jabatan &mdash; kalau hasilnya tidak dapat Anda nikmati selama-lamanya. Apalagi Anda sudah merusak jiwa Anda sendiri dengan berlaku curang dan korup. Padahal, jiwa inilah milik kita yang abadi.</p> <p>Lantas, apakah kita perlu mengalami sendiri peristiwa-peristiwa yang pahit tersebut agar kita sadar? Jawabnya: ya! Tapi kalau Anda merasa cara tersebut terlalu mahal, ada cara kedua yang jauh lebih mudah:</p> <p><strong>Belajarlah MENDENGARKAN.</strong></p> <p>Dengarlah dan belajarlah dari pengalaman orang lain. Bukalah mata dan hati Anda untuk mengerti, mendengarkan, dan mempertanyakan semua pikiran dan paradigma Anda. Sayang, banyak orang yang mendengarkan semata-mata untuk memperkuat pendapat mereka sendiri, bukannya untuk mendapatkan sesuatu yang baru yang mungkin bertentangan dengan pendapat mereka sebelumnya. Orang yang seperti ini masih tertidur dan belum sepenuhnya bangun.</p> </div>                                 </div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yyuana.blogsome.com/2007/05/15/berani-gagal/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Telisik iman</title>
		<link>http://yyuana.blogsome.com/2007/04/23/telisik-iman-2/</link>
		<comments>http://yyuana.blogsome.com/2007/04/23/telisik-iman-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 03:14:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
		<guid>http://yyuana.blogsome.com/2007/04/23/telisik-iman-2/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Diambil dari : http://beranda.blogsome.com     Bingung, bimbang, kegelisahan adalah tiga serangkai yang biasanya cukup membuat seseorang tersiksa dalam hidupnya. Tidak ada yang mau dihinggapi perasaan itu. Setiap kita selalu ingin kejelasan, ketenangan dan kepastian hidup.    Tetapi ternyata tidak selamanya bingung membawa bencana. Adakalanya bingung, bimbang dan gelisah adalah merupakan [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diambil dari : http://beranda.blogsome.com</p><div class="post-content">     <p class="MsoNormal"><font color="#006699">Bingung, bimbang, kegelisahan adalah tiga serangkai yang biasanya cukup membuat seseorang tersiksa dalam hidupnya. Tidak ada yang mau dihinggapi perasaan itu. Setiap kita selalu ingin kejelasan, ketenangan dan kepastian hidup.</font></p>    <p class="MsoNormal"><font color="#006699">Tetapi ternyata tidak selamanya bingung membawa bencana. Adakalanya bingung, bimbang dan gelisah adalah merupakan anugerah. Kenikmatan yang akan membawa kita kepada kenikmatan yang lain.</font></p>    <p class="MsoNormal"><font color="#006699">Bingung adalah merupakan bagian proses kehidupan. Proses yang akan menghantarkan kita kepada suatu tujuan. Tujuan kebaikan dan kesenangan. Untuk mencapai tujuan itu, kita harus melalui terminal bingung tersebut.</font></p><font color="#006699">Kebingungan tidak selamanya petaka. Kebimbangan tidak mesti bencana. Kegelisahan tidak harus siksaan. Walaupun, selalu saja kebingungan adalah merupakan ketidaktenangan hati. Tetapi dengan hasil yang positif setelahnya dan kita memang harus melalui lorong bingung ini, maka kebingungan ini adalah bagian tersendiri dari karunia.</font>  <p class="MsoNormal"><font color="#006699">Kegelisahan yang luar biasa inilah yang dirasakan oleh orang-orang yang akan kembali kepada jalan kebenaran. Mereka yang sudah merasakan kemaksiatan dan kekafiran seperti ruang hampa udara yang menghimpit dada dan menyesakkannya. Segalanya hanya kesenangan sesaat. Fatamorgana.&nbsp;</font></p>   <p class="MsoNormal"><font color="#006699">Ibnu Qoyyim mengumpamakan hati orang yang melakukan dosa seperti hati yang berada di antara dua sayap burung. Hati yang diliputi rasa takut. Takut jatuh dari ketinggian, takut tergelincir, takut bencana akibat dosa. &ldquo;Ketaatan kepada Allah adalah benteng yang agung, siapa saja yang memasukinya akan merasa aman. Dan barangsiapa yang keluar darinya akan diliputi rasa takut dari setiap arah,&rdquo; jelas Ibnu Qoyyim. Selanjutnya beliau menambahkan, &quot;Dampak dari dosa akan menimbulkan rasa kesepian dan kegelisahan yang luar biasa.&quot;</font></p>   <p class="MsoNormal"><font color="#006699">Mereka yang merasa tenang-tenang saja dengan gundukan dosanya, maka itulah hati yang telah ditutup. Untuk itu, merupakan anugerah dari Allah ketika kita mendurhakai-Nya kemudian kita dapati rasa takut di hati. Rasa bersalah dan penyesalan yang luar biasa. karena syetan yang telah kita menangkan dan kita turuti, akhirnya mentertawakan kita dan lari dari kita setelah dosa itu terjadi.&nbsp;</font></p>   <p class="MsoNormal"><font color="#006699">&ldquo;(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) syetan ketika dia berkata kepada manusia, &ldquo;Kafirlah kamu.&rdquo; Maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata, &quot;Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, tuhan semesta alam.&rdquo; (Al-Hasyr: 16).</font></p>   <p class="MsoNormal"><font color="#006699">Inilah kabar gembira yang diberikan Nabi melalui perumpamaan yang beliau buat. &quot;Perumpamaan orang beriman yang berbuat dosa adalah seperti orang yang duduk di bawah gunung dia takut ditimpa gunung tersebut. Sementara orang kafir yang berbuat dosa seperti orang yang menepis lalat lewat di depan hidungnya.&rdquo;&nbsp;</font></p>   <p class="MsoNormal"><font color="#006699">Ya, sangat mendalam perumpamaan itu. Orang kafir menganggap dosa bagai meminum air putih di saat dahaga. Dosa menjadi kebutuhan hidup yang harus dipenuhi dan disalurkan. Dosa telah kerdil di matanya, seperti orang yang menepis lalat yang lewat di depan hidungnya.</font></p>   <p class="MsoNormal"><font color="#006699">Sangat berbeda dengan orang beriman yang tergelincir dalam dosa, Cahaya iman dihatinya tidak rela bercampur dengan kegelapan dosa. Dosa yang telah dilakukannya seakan menjulang seperti gunung yang akan jatuh menimbunnya. Dosa itu telah menimbulkan kegelisahan yang luar biasa dan rasa takut. Justru inilah bukti bahwa iman itu masih ada, Bersemayam di sini, di dalam hati ini.&nbsp;</font></p>    <p class="MsoNormal"><font color="#006699">Telisik iman. Inilah yang merupakan penghibur lara hati para shahabat yang mengadukan sulitnya mereka khusyu dalam sholat mereka. Mereka iri kepada orang-orang Yahudi yang rasanya begitu khusyu&rsquo; dalam ibadah mereka. Nabi mengatakan, &ldquo;Itulah telisik iman.&quot; Ya, karena syetan akan selalu menggoda ibadah yang benar. Sehingga selalu saja kita harus bertarung dengan bisikan pada setiap konsentrasi kita dalam ibadah. Sementara mereka yang menjadi teman syetan tidak mungkin merasakan gangguan syetan.</font></p>    <p class="MsoNormal"><font color="#006699">Kebingungan, kebimbangan dan kegelisahan juga bisa kita rasakan getarnya pada hati setiap orang sholeh. Mereka yang kehidupan-nya seperti menara gading yang indah itu penuh dengan pernik-pernik rasa ini. Kekhawatiran kalau ternyata tidak ada amal yang berkenan di sisi Allah. &quot;Kalau saja aku tahu ada satu rokaatku yang diterima, maka itu lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya,&quot; begitu salah seorang salafus sholeh mengungkapkan kegundahan hatinya.&nbsp;</font></p>   <p class="MsoNormal"><font color="#006699">Mahalnya surga Allah, membuat mereka telah menciptakan kebingungan dan kegelisahan tersendiri dalam hidup. Justru inilah yang membuat kita menyaksikan generasi yang rasanya sangat jauh untuk bisa dikejar kebaikannya. Karena kegundahan hati untuk mengejar surga membuat mereka mempersembahkan yang terbaik dalam hidupnya. </font></p>     <p class="MsoNormal"><font color="#006699">Masing-masing mencoba membuka pintu surga dari salah satu pintunya. Tidak ada kata santai sampai kaki ini menginjak surga. Amal, karya, usaha dan doa. Karena memang dunia ini adalah tempat berjuang dan bukan tempat beristirahat.&nbsp;</font></p>    <p class="MsoNormal"><font color="#006699">Rasa khawatir dan gelisah semakin nampak kuat ketika mereka meregang nyawa. Sakaratul maut tiba. Tangis mereka bukan karena mereka tidak rela meninggalkan dunia. Justru sudah lama mereka ingin meninggalkannya. Ingin cepat istirahat di bawah naungan rahmat Allah di akhirat sana. Tetapi setiap mereka meratapi amalnya dan dirinya. &ldquo;Aku tidak tahu ruh-ku ini akan berjalan menuju surga atau neraka,&quot; kata Imam Syafi&rsquo;i sambil berurai air mata.</font></p>     <p class="MsoNormal"><font color="#006699">Dalam konteks dunia, bimbang, gundah, gelisah adalah merupakan pendorong lahirnya sebuah ilmu dan penemuan besar. Bimbang adalah merupakan tunas rasa penasaran terhadap satu ilmu. Tanpa penasaran dan keinginan untuk terus mencoba bahkan mungkin gelisah setiap pagi karena pertanyaan yang tersisa di otaknya belum juga terjawab, tidak akan ada karya besar. Tanpa tantangan, semuanya berjalan datar dan biasa saja. Dengan tantangan, akan ada karya besar.</font></p>  <p class="MsoNormal"><font color="#006699">Termasuk mereka yang ingin menjadi orang besar di dunia ini, kegelisahan adalah resiko keinginannya. &ldquo;Kalau keinginan hati ini besar, maka fisik ini lelah mengikutinya,&rdquo; kata seorang penyair. Ya, karena dia ingin hidupnya tidak biasa seperti kebanyakan orang. Dia ingin membuat karya yang besar dan mungkin belum pernah dibuat oleh orang lain. Seperti orang yang ingin membuka jalan di tempat yang belum pernah dijamah oleh manusia, Tentu ini membutuhkan tenaga dan fikiran serta mempunyai resiko yang lebih besar. Mengingat medan ini belum pernah dilalui siapapun. Berbeda dengan jalan yang biasa dilalui orang berlalu lalang. Tidak banyak tantangan yang kita dapatkan. Kalau hanya sekolah, lulus kemudian bekerja. Atau bekerja sebulan kemudian mengambil gaji. Atau bekerja di ladang kemudian menanti hasilnya di saat panen tiba. Ini adalah karya. Tetapi tentu saja berbeda dengan karya mereka yang ingin agar tidak sekedar rutin bekerja. Tetapi ada pemikiran besar yang mendorong-nya untuk selalu berbuat lebih besar pada hari-hari berikutnya. Tidak pernah puas dengan yang dicapai. Lelah memang, tetapi inilah resiko kebesaran yang harus ditempuh.&nbsp;</font></p>  <p class="MsoNormal"><font color="#006699">Begitulah, jutru di saat hati ini tidak pernah terusik melihat dosa, kita harus cepat memeriksa iman kita. jangan-jangan iman kita benar telah pergi karena tidak nyaman berdampingan dengan dosa yang selalu menghitamkan hati kita.</font></p>     <p class="MsoNormal"><font color="#006699">Bimbang, gundah, gelisah adalah telisik iman ketika ia mulai bercampur dengan dosa. Maka bersyukurlah bahwa iman itu masih memiliki suara di hati kita. Jangan bungkam bisikannya.Bimbang, gundah, gelisah adalah terminal peringatan. Jangan berhenti di pember-hentian sementara ini, lanjutkan hingga rasa itu mempersembahkan karya besar dalam hidup kita di dunia dan di akhirat. Wallahu&rsquo;alam</font></p>           </div><p><font color="#006699">&nbsp;</font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yyuana.blogsome.com/2007/04/23/telisik-iman-2/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>PAMER UNTUK CITRA DIRI..?!</title>
		<link>http://yyuana.blogsome.com/2007/03/21/pamer-untuk-citra-diri/</link>
		<comments>http://yyuana.blogsome.com/2007/03/21/pamer-untuk-citra-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Mar 2007 08:09:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
		<guid>http://yyuana.blogsome.com/2007/03/21/pamer-untuk-citra-diri/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Dikutip dati: http://dhitos.wordpress.com</p>

<p>PAMER UNTUK CITRA DIRI..?!
18 02 2007</p>

<p>Ketika itu saya menghadiri pertemuan Reuni (temu kangen), baru-baru ini dan merupakan yang pertama kalinya diadakan setelah berpisah sekian tahun sejak lulus dari SLTA. Maka bisa dibayangkan betapa rame dan hiruk pikuknya.</p>

<p>Kalau menurut hasil pengamatan, hanya setengah jam pertamalah adalah saat-saat paling jujur dimana ada luapan kerinduan ketemu [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dikutip dati: http://dhitos.wordpress.com</p>

<p>PAMER UNTUK CITRA DIRI..?!
18 02 2007</p>

<p>Ketika itu saya menghadiri pertemuan Reuni (temu kangen), baru-baru ini dan merupakan yang pertama kalinya diadakan setelah berpisah sekian tahun sejak lulus dari SLTA. Maka bisa dibayangkan betapa rame dan hiruk pikuknya.</p>

<p>Kalau menurut hasil pengamatan, hanya setengah jam pertamalah adalah saat-saat paling jujur dimana ada luapan kerinduan ketemu kawan lama. Ada yang saling berpeluk kangen mesra, ada yang terus bercanda saling meledek “kok kamu sekarang sudah jadi jelek, sudah botak, ubanan, gigi ompong lagi”, ada yang kemudian saling mengingatkan dan bercerita masa lalu, bercerita tentang pacar lama atau mengingat ketika dihukum pak guru yang galak, adalagi yang mengingat ketika nyontek ketahuan terus dihukum dan lain-lain pokoknya meriah dan menyenangkan sekali yang kemudian dilanjutkan dengan saling bertukar nomor HP dan alamat dan lain-lain, dan lain-lain.</p>

<p>Setengah jam kemudian dan diikuti jam-jam berikutnya mulailah diisi dengan menceritakan (baca: membanggakan) prestasi di tempat kerja masing-masing. Adu prestasi, adu posisi dan adu gengsi dengan bercerita temannya pejabat anu dan sebagainya yang pendek kata akhirnya tanpa disebutkan bermuara pada penunjukkan citra diri dalam hal kekayaan materi yang mereka punya dan kelola saat ini dan itulah yang kemudian mewarnai acara kangen-kangenan ini yaitu unjuk gigi pamer. </p>

<p>Memang sepotong kata “pamer” sudah tidak asing dan mengherankan, itu seperti menjadi bagian dari tradisi salah kaprah yang mewarnai pergaulan bermasyarakat yang ada disekitar kita. Pada umumnya didalam pergaulan masyarakat disekitar kita lazimnya sebagai manusia ingin diakui keberadaannya ditengah masyarakat sebagai orang yang memiliki kelebihan-kelebihan. Kelebihan-kelebihan ini bisa saja berbentuk seperti kekayaannya, kepandaiannya, kekuasaannya atau jabatannya sehingga diharapkan dengan menunjukkan kelebihan tersebut dapat meningkatkan derajat statusnya dimata orang lain sebagai pengakuan.Memang tidak mengherankan bahwa umumnya manusia ingin sekali dihargai, diakui atau di “wah”, dan tidak ingin bahkan tidak mau diremehkan atau direndahkan derajatnya dimata orang lain. Maka itu hampir setiap orang kemudian mulai berlomba mencari bentuk citra dirinya yang dianggap baik yang digunakan untuk pengakuan. Dan “Pamer” itu mewujudkan salah satunya upaya untuk membentuk citra diri yang dimaksud. Dan cara orang pamer ini juga macam-macam: </p>

<p>Pamer yang menggunakan sarana untuk memperlihatkan citra diri umpamanya memamerkan kekayaannya dengan menunjukkan apa-apa yang dipakai serba wah, yang pamer kalungnya yang serba berlian dan emas disekujur tubuhnya, ada yang pamer mobilnya yang mewah atau ada juga rumahnya yang gede-gede mewah dan banyak. </p>

<p>Pamer yang menggunakan cerita atau kata-kata saja dan ini boleh dikatakan membual (buwalan) yaitu cerita yang dibesar2kan tidak sesuai dengan kenyataan bisa juga dikatakan cerita bohong. Untuk contohnya bisa dibayangkan sendiri.Pamer yang untuk pergaulan bermasyarakat umpamanya dengan cerita saudaranya yang jadi pengusaha kelas dunia, atau cerita menantunya yang sudah S3 dari Amerika, Jerman, atau cerita temannya yang jadi direktur bank, atau juga cerita seringkali “shopping” di Luar negeri.Jadi kalau semua orang pada pamer dan cerita sendiri-sendiri sebenarnya yang jadi pendengar tidak ada alias sama saja seperti orang ngomong sendiri “dus” artinya sama saja dengan orang gila.Sifat senang pamer itu banyak sedikitnya masih ada hubungan saudara dengan sifat sombong. Orang yang sombong itu biasanya suka meremehkan orang lain dan menganggap dirinya paling kaya, paling baik, paling pandai sedang orang lain itu miskin, jahat dan bodo dibandingkan dirinya. Sifat yang demikian dapat dikatakan sebagai sifat yang arogan, yang suka menepuk dada sendiri dan biasanya orang demikian banyak sekali mengalami masalah didalam bermasyarakat. [Versi lain tentang sombong bisa dibaca disini.]</p>

<p>Kalau kita mau menyadari, yang namanya kekayaan, kepandaian, jabatan atau derajat itu sebenarnya adalah anugerah pemberian Allah SWT Sang Hyang Maha Agung yang lebih pantas untuk di syukuri dan tidak perlu dipamer-pamerkan atau dibesar-besarkan dalam kebohongan untuk dirinya. Yang akhirnya menjadikan dia lupa bahwa sebenarnya semua itu adalah hanya pemberianNYA.Maka masih perlukah kita pamer ??[@dhitos] </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yyuana.blogsome.com/2007/03/21/pamer-untuk-citra-diri/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Anda termasuk orang yang menderita hasut?</title>
		<link>http://yyuana.blogsome.com/2007/03/21/anda-termasuk-orang-yang-menderita-hasut-3/</link>
		<comments>http://yyuana.blogsome.com/2007/03/21/anda-termasuk-orang-yang-menderita-hasut-3/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Mar 2007 08:06:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
		<guid>http://yyuana.blogsome.com/2007/03/21/anda-termasuk-orang-yang-menderita-hasut-3/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Ditulis oleh Saleh Lapadi di http://salehlapadi.wordpress.com/?s=hasud pada Februari 5th, 2007  Hasut: Pengaruhnya dalam Kehidupan Sosial   Emi Nur Hayati Ma&rsquo;sum Said   Manusia diciptakan dengan dibekali potensi dan kemampuan dalam dirinya. Setiap manusia memiliki kemampuan dan potensi yang berbeda-beda. Dengan adanya perbedaan potensi dan kemampuan maka kebutuhan dan selera manusia bisa terpenuhi. [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ditulis oleh Saleh Lapadi di http://salehlapadi.wordpress.com/?s=hasud pada Februari 5th, 2007</p><p>  Hasut: Pengaruhnya dalam Kehidupan Sosial</p><p>   Emi Nur Hayati Ma&rsquo;sum Said   </p><p>Manusia diciptakan dengan dibekali potensi dan kemampuan dalam dirinya. Setiap manusia memiliki kemampuan dan potensi yang berbeda-beda. Dengan adanya perbedaan potensi dan kemampuan maka kebutuhan dan selera manusia bisa terpenuhi. Seorang alim dengan kemampuannya ia bisa membentuk masyarakat religius. Seorang dokter dengan kemampuannya ia bisa mengabdi kepada masyarakat dan mengobati orang-orang yang sakit . Seorang insinyur bisa membuat bangunan yang megah dan seterusnya sampai kalangan yang paling bawah seperti pengabdi rumah tangga dan sebaginya. Kemampuan atau kelebihan yang dimiliki oleh manusia adalah pemberian ilahi dan masing-masing akan mendapatkan hasilnya sesuai dengan kemampuan dan jerih payahnya. Bila saudara kita memiliki kelebihan, baik kelebihan materi maupun spiritual, itu adalah sunah ilahi yang sudah ditetapkan kepada setiap manusia. Dan yang lainnya yang tidak memiliki tidak boleh menghasutnya. Karena hasut adalah sifat munafik, sementara orang mukmin adalah ahli ghebtah.    Hasut adalah kondisi nafsu di mana pemiliknya mengharapkan hilangnya nikmat yang  dikhayalkan dari orang lain dan ia berupaya untuk menghilangkan nikmat tersebut dari orang yang dihasutinya baik ia (si penghasut) menghendaki nikmat tersebut atau tidak.    Ghebtah adalah berharap untuk mendapatkan nikmat dengan tanpa mengharapkan hilangnya nikmat tersebut dari pemiliknya yakni ketika seseorang menyaksikan nikmat dan kelebihan pada orang lain ia berkata,&rdquo;Seandainya aku juga memiliki nikmat tersebut&rdquo;, karena ia menginginkannya, ia berusaha untuk mendapatkannya dan ia tidak pernah mengharapkan hilangnya nikmat tersebut dari pemiliknya dan tidak juga berusaha untuk menghilangkan dari pemiliknya. Oleh karena itu hadis mengatakan, &ldquo;Orang mukmin ahli ghebtah, akan tetapi orang munafik menghasut&rdquo;.    Hasut pada hakikatnya marah terhadap hukum Allah dan menentang sistem urusan-Nya dan menolak kebaikan Allah terhadap sebagian hamba-hamba-Nya.    Untuk lebih jelasnya, maka di sini kita sebutkan juga hasut menurut pandangan al-Quran. &ldquo;Jangan mengharapkan kelebihan yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kalian dari sebagian yang lain. Untuk laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mintalah karunia kepada Allah sesungguhnya Allah mengetahui segala sesuatu&rdquo;.[1] &ldquo;Dan dari kejahatan orang yang hasut apabila ia hasut&rdquo;.[2]    Maksudnya adalah berlindung kepada Allah dari keburukan orang yang  hasut ketika diserang penyakit hasut dan perbuatannya terhadap orang yang dihasuti. Sebagian para mufassir mengatakan bahwa ayat ini juga mencakup lirikan orang yang pandangannya membawa malapetaka orang lain atau barang yang dipandangnya, karena pandangan yang demikian itu muncul dari rasa hasutnya artinya seorang yang hasut ketika melihat sesuatu yang menurutnya menakjubkan dan indah maka hasutnya akan bangkit dan ia akan mengeluarkan keburukannya dengan pandangannya.[3]Imam Ali dalam khotbahnya mengatakan, &ldquo;Kalian jangan saling menghasut karena sesungguhnya hasut akan merusak iman, sebagaimana api membakar kayu&rdquo;.[4]   Faktor-faktor Kejiwaan Pencetus Hasut dalam Hati Manusia:   1. Egois. Setiap manusia secara fitrah senang akan kesempurnaan dan ketenangan,  akan tetapi ketika ia merasa puas akan dirinya sendiri  maka ia akan menganggap dirinya lebih tinggi dari orang lain, dan tidak melihat sedikit pun kekurangan dalam dirinya. Akhirnya ketika ia melihat kelebihan dan kesuksesan pada orang lain maka pada saat itu ia akan hasut dan tidak suka orang lain lebih tinggi darinya. Apabila keegoisannya adalah ingin berkuasa dan terkenal maka akan lebih berbahaya karena ia akan berharap hanya dia sendirilah yang harus memiliki kekuasaan dan kemasyhuran dan jangan sampai orang lain sama dengannya. Bila ada orang lain yang menyamainya dalam kekuasaan dan kemasyhuran ini maka ia akan hasut dan berusaha untuk menghilangkan nikmat tersebut dari pemiliknya.      2. Sombong dan Congkak.  Orang yang congkak senantiasa merasa dirinya rendah dan hina karena kecilnya hati dan perasaannya. Ia senantiasa ketakutan akan kedudukan dan posisinya sekalipun ia memiliki kemampuan. Ia senantiasa berusaha menjaga kedudukan dan posisinya. Bila ia merasa orang lain memiliki kedudukan dan posisi lebih tinggi darinya maka ia ketakutan dan panik dan kemudian muncul hasut dalam dirinya.   3. Kikir. Orang kikir adalah orang yang enggan memberikan kebaikan kepada orang lain. Maksud kikir di sini adalah bila ada orang berbuat baik kepada sesamanya maka ia tidak menyukai keduanya. Masalahnya di sini adalah ia tidak suka jika nikmat berada di tangan orang lain kendati tidak merugikan dirinya, bahkan menguntungkan dirinya sekalipun,  ia tetap tidak suka.   4. Rakus dan Tamak. Orang yang tamak menginginkan segalanya adalah milik dia sekalipun ia sudah memiliki dan senantiasa mengharapkan yang lebih banyak. Ketika ia tidak mampu mengendalikan kemauannya untuk senantiasa memiliki kelebihan maka akan tumbuh hasut dalam dirinya.    Tanda-tanda Hasut   Sebelum kita membahas tanda-tanda hasut, perlu diingat bahwa tanda-tanda yang akan disebutkan, masing-masing dengan sendirinya bukan sebagai tanda hasut, karena banyak orang yang memiliki sifat ini tetapi ia bukan penghasut. Oleh karenanya bila kita melihat kasus tersebut ada pada seseorang maka kita tidak boleh menghukumi bahwa orang tersebut adalah penghasut. Tujuan dari penyebutan tanda-tanda hasut di sini adalah untuk diri kita sendiri, artinya setiap saat kita mendapatkan diri kita demikian maka secepatnya kita meneliti diri kita sendiri, apakah kita sudah mengidap penyakit hasut atau belum? Bila kita dapatkan bahwa kita sudah mengidap penyakit hasut maka secepatnya berusaha untuk mengobatinya supaya diri kita dan orang lain selamat dari penyakit ini. Tanda-tanda hasut antara lain:   1. Kritikan yang dahsyat dan menjelek-jelekkan, penyebabnya adalah hasut. Kadang kala hasut yang dibarengi dengan diam berarti menjelek-jelekkan seseorang, artinya jika ada seseorang menjelek-jelekkan orang lain dan kita diam berarti kita mengesahkan orang yang menjelek-jelekkannya. Macam-macam penghasut dengan cara menjelek-jelekkan:   a. Ketika di hadapan orang yang dihasuti, penghasut berbicara secara lunak dan ramah, tetapi di belakangnya ia menjelek-jelekkan dan memfitnahnya. Imam Shadiq as berkaitan dengan hal ini bersabda, &ldquo;Lukman Hakim berkata kepada anaknya, &ldquo;Hasut memiliki tiga tanda-tanda; di belakang menjelek-jelekkannya, di depannya beramah-tamah, ketika yang dihasutinya mendapat musibah malah mencelanya.[5]   b. Tidak punya rasa malu. Kadang-kadang penghasut menjelek-jelekkan orang yang dihasutinya di hadapannya  secara terang-terangan atau dengan cara menertawakan dan mengejeknya untuk meluapkan tujuannya di mana saja ia berada dengan tanpa rasa malu.   2. Tidak banyak memuji. Ketika sebagian orang memuji orang-orang yang mulia dan bertakwa para penghasut diam saja dan tidak mau memuji mereka, kalaupun ia terpaksa harus memujinya maka ia tidak banyak memujinya. Ada istilah, &ldquo;Memuji berlebihan adalah menjilat dan kurang dalam memuji adalah hasut&rdquo;.    3. Cepat menerima celaan. Penghasut tidak senang bila ada orang lain dipuji di hadapannya. Sebaliknya jika orang tersebut dijelek-jelekkan di hadapannya ia cepat menerimanya.     4. Pendendam, tidak pemaaf dan ketika berkuasa tidak memiliki kasih sayang. Pemaaf adalah sifat manusiawi, semakin tinggi kemanusiaan seseorang maka ia cepat memaafkan.    5. Pemarah. Rasa panik tidak mengizinkan seseorang untuk tenang dan tersenyum serta bertemu orang lain dengan wajah ceria. Karena ia tidak suka melihat orang lain bahagia. Imam Shadiq AS berkata kepada sufyan Shuri, &ldquo;la rahata lihasud&rdquo; orang hasut tidak memiliki ketenangan.   Adapun tolok ukur hasut adalah penghasut menyenangi sesuatu hanya untuk dirinya dan tidak untuk orang lain. Dan ia menginginkan sesuatu untuk orang lain dan tidak untuk dirinya. Sebaliknya orang yang suci dari hasut, apa saja yang ia inginkan untuk dirinya ia juga menginginkan untuk orang lain, jika ia tidak menginginkan sesuatu untuk orang lain, ia juga tidak menginginkannya untuk dirinya.      Kesimpulan dari dua kalimat tersebut, dengan menyebutkan beberapa pertanyaan untuk orang yang ingin menguji dirinya:   1. Apakah anda sedih bila melihat dan mendengar kebahagiaan, kekayaan, kecantikan, kekuasaan dan barang-barang mahal orang lain?   2. Apakah jika ada orang menjelek-jelekkan sesamanya, anda akan cepat menerimanya?   3. Apakah anda sedih jika ada orang dipuji di hadapan anda?   4. Apakah jika ada orang memiliki kelebihan bagi anda berat untuk memujinya?   5. Apakah anda sedih bila orang lain maju, sementara anda menganggapnya lebih rendah dari anda?   6. Apakah masyarakat mengakui anda sebagai orang yang lekas naik darah dan pemarah?   7. Apakah jika anda berhadapan dengan sebagian orang anda memujinya kemudian jika di belakangnya anda menjelek-jelekkannya?   8. Apakah anda menganggap mayoritas orang lain tidak benar dan tidak baik?   9. Apakah anda senang  dengan kesusahan dan musibah yang menimpa sebagian orang?   10. Apakah buruk sangka sebagian orang, anda sampaikan kepada yang lainnya dan anda menyampaikan celaan kepada orang yang dicela.   11. Apakah rasa dendam anda tinggi?   12. Apakah anda orang yang sangat suka mengkritik dan cepat gelisah.   13. Apakah masyarakat mengenal anda sebagai orang yang buruk sangka?   Jika jawaban semua pertanyaan di atas adalah tidak maka anda bukan penghasut. Jika mayoritas jawabannya adalah iya maka anda adalah penghasut dan berusahalah untuk mengobatinya. Jika jawaban iyanya sedikit maka anda sedikit memiliki sifat hasut dan hati-hatilah jangan sampai menjadi besar. Jika jawaban iyanya satu atau dua maka tidak bisa dipastikan bahwa anda bukan penghasut, bahkan jika jawaban pertanyaan pertama saja adalah iya maka dalam diri anda terdapat penyakit hasut.   Pengaruh Hasut dalam Kehidupan Masyarakat   1. Hasut menghambat pertumbuhan masyarakat. Jika dalam sebuah komunitas didapatkan hasut maka komunitas itu tidak akan maju, karena para penghasut tidak mengizinkan orang-orang yang layak untuk mendapatkan kekuasaan. Penghasut menginginkan dirinya saja yang memegang kekuasaan dan mereka senantiasa mencari kelemahan dan kekurangan orang lain. Salah satu faktor tidak adanya kemajuan sebuah masyarakat adalah hasut. Dalam kitab &ldquo;Empat puluh maudhu ucapan Naraqy&rdquo;, semua atau sebagian besar kekuatan penghasut hanya untuk merusak masyarakat. Oleh karenanya, di samping ia menghancurkan dirinya sendiri ia juga mengancam keberadaan masyarakat.    2. Kemerosotan dan kemunduran masyarakat yang sudah maju. Masyarakat yang maju adalah masyarakat yang kaya dari sisi pengetahuan, budaya, akhlak dan manajemen. Ketika hasut muncul dalam masyarakat maka kerusuhan menjadi pengganti kebaikan dan kemuliaan. Tujuan pribadi akan menyalakan api fitnah dan menggantikan tujuan masyarakat dan akan memunculkan perselisihan.    3. Menghancurkan kerja sama dan gotong  royong. Bahaya umum  hasut adalah menghancurkan kerja sama di antara masyarakat dan tidak ada orang yang mau menolong sesamanya. Karena rahasia kesuksesan sebuah komunitas tergantung pada kerja sama anggotanya. Bahkan sebuah komunitas tidak bisa terbentuk tanpa adanya persatuan dan kerja sama. Penghasut tidak mengizinkan adanya kerja sama. Ia selalu berpikir bahwa dirinya saja yang memiliki kelayakan dan ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri dan tidak peduli dengan urusan masyarakat.   4. Kekacauan keamanan. Hasut akan merusak keamanan masyarakat. Hasut menyebarkan pembunuhan dan menimbulkan perampokan dan penjarahan dan pada akhirnya menyebabkan munculnya pemerintahan yang kejam. Menyebarnya rasa saling tidak percaya dengan sesama dan buruk sangka. Para mustad&rsquo;afin hidup dalam kesusahan dan pada akhirnya muncul kebencian dalam hati mereka terhadap orang-orang kaya. Suap menyuap dan korupsi menyebar dalam pemerintahan.  Krisis umum dan krisis ilmu akibat krisis moral dan akhlak akan menguasai negara dan akan terbukalah pintu kediktatoran.[6] Dan menggoyahkan pemerintahan islam dan mengancam keberadaan maslahat islam dan muslimin.[7]   5. Menahan orang baik untuk berbuat baik dan menghancurkan para pengabdi. Artinya para penghasut tidak mengizinkan orang-orang baik untuk mengabdi kepada masyarakat. Karena para penghasut tidak memiliki kekuatan untuk menahannya, maka yang seharusnya mereka memuji para pengabdi malah mereka  mengkritik dan menjelek-jelekkannya.    Cara Mengobati Penyakit Hasut   Di sini ada beberapa resep untuk mengobati hasut.    1. Yang harus diketahui oleh penghasut adalah bahwa hasut tidak mendatangkan keuntungan sama sekali buat dirinya, bahkan selain ia mendatangkan malapetaka di dunia, ia juga menyebabkan azab ilahi di akhirat kelak. Hasut tidak saja menyebabkan siksa batin bahkan akan melemahkan badan dan merusak iman.[8] Cara menyembuhkan hasut dengan ma&rsquo;rifat dan pengetahuan dan penyucian diri artinya selain harus membersihkan diri dari sifat-sifat yang jelek ia juga harus menghiasi dirinya dengan sifat-sifat yang mulia.[9]   2. Yang harus dibaca oleh penghasut. Penghasut harus membaca kitab-kitab yang berkaitan dengan hasut, sehingga ia bisa memastikan dirinya, apakah ia punya penyakit hasut atau tidak? Bila ia mengidap penyakit hasut maka hendaknya berusaha untuk mengobatinya. Membaca kitab-kitab hasut bagi orang yang tidak mengidap penyakit hasut fungsinya adalah untuk mencegah jangan sampai mengidap penyakit hasut.[10]   3. Yang harus dilakukan oleh penghasut. Penghasut jangan sampai melakukan apa yang diinginkan hatinya, dengan kata lain di hadapan orang yang dihasutinya ia harus melakukan sebaliknya dari apa yang diinginkan hatinya. Misalnya jika hatinya ingin memfitnah atau menjelek-jelekkan orang yang dihasutinya maka ia harus mengambil keputusan untuk memujinya dan menyebutkan kebaikan-kebaikannya.[11] Rasulullah saww bersabda, &ldquo;Jika kamu hasut maka jangan mengikuti Kemauannya&rdquo; .[12]    Kesimpulannya, hasut merupakan virus yang sangat berbahaya bagi kehidupan manusia karena tidak saja menghancurkan kehidupan dunia akan tetapi juga kehidupan akhirat seseorang. Hasut, selain ia menghancurkan kehidupan pribadi seseorang ia juga menahan pertumbuhan dan perkembangan kehidupan sosial.  Akhlak islami betul-betul menganjurkan jangan sampai ada hasut dalam hati kita, kalaupun ada Islam memberikan jalan keluar untuk menyembuhkannya.    Cara menyembuhkan hasut dengan mengenal akhlak yang buruk dan akhlak  yang baik. Berbuat sebaliknya dari apa yang dikehendaki hati yang hasut. Jika hati hasut menghendaki untuk menjelek-jelekkan seseorang maka sebaiknya diam saja. Bila kita tahu bahwa kita mengidap penyakit ini maka secepatnya kita membasmi penyakit yang berbahaya ini sebelum ia mengakar.  [1] . QS, An-Nisa&rsquo;: 32.  [2] . QS, Al-Falaq: 5.  [3] . Terjemah Al-Mizan, jilid 20, hal 682.  [4] . Nahjul Balaghah. Khotbah 86/12, hal 144.  [5] . Safinah A-Bihar, jilid 1, hal 598, bagian hasut.  [6] . Sayyid Redho Sadr, Hasut, hal  256.  [7] . Misbah Yazdi, Akhlak dar Quran, hal 239.  [8] . Sayyid Redho Sadr, Hasut, hal 295.  [9] . Ibid, hal 239.  [10] . Ibid, hal 238.  [11] . Inid, hal 242.  [12]. Bihar Al-Anwar, jilid 74, hal 153, hadis ke 122.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yyuana.blogsome.com/2007/03/21/anda-termasuk-orang-yang-menderita-hasut-3/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Life Value : The Source of Motivation</title>
		<link>http://yyuana.blogsome.com/2007/01/19/life-value-the-source-of-motivation/</link>
		<comments>http://yyuana.blogsome.com/2007/01/19/life-value-the-source-of-motivation/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jan 2007 08:27:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
		<guid>http://yyuana.blogsome.com/2007/01/19/life-value-the-source-of-motivation/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Baru-baru ini saya bertemu dengan seorang kawan yang mengajukan pertanyaan, �Saya telah membaca banyak buku pengembangan diri, mendengar banyak kaset/CD motivasi, menghadiri berbagai seminar motivasi dan pengembangan diri, namun mengapa sampai saat ini saya masih belum sukses? Mengapa saat mengikuti seminar motivasi, saat masih di ruang seminar, saya sangat bersemangat dan termotivasi, namun setelah pulang [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Baru-baru ini saya bertemu dengan seorang kawan yang mengajukan pertanyaan, �Saya telah membaca banyak buku pengembangan diri, mendengar banyak kaset/CD motivasi, menghadiri berbagai seminar motivasi dan pengembangan diri, namun mengapa sampai saat ini saya masih belum sukses? Mengapa saat mengikuti seminar motivasi, saat masih di ruang seminar, saya sangat bersemangat dan termotivasi, namun setelah pulang ke rumah, motivasi saya hilang ?, �Apa ada yang salah dengan diri saya?�. <p> Cukup sulit bagi saya untuk bisa memberikan jawaban langsung. Kawan saya ini termasuk maniak buku. Buku-buku yang dia baca juga bukan buku sembarangan. Sebut saja nama penulis terkenal seperti Zig Ziglar, Erich Fromm, Maslow, Carl Rogers, Victor Frankl, William Glasser, Kiyosaki, Anthony Robbins, Maxwell Maltz, Stephen Covey, Dale Carnigie, Michael Hutchinson, Goleman, Martin Seligman, Bandler dan Grinder, Milton Erickson, dan sederet nama besar lainnya. Seminar yang ia datangi juga seminar-seminar mahal tidak hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri. </p><p> Setelah minta waktu untuk berpikir, saya akhirnya mengajukan pertanyaan yang berhasil menemukan sumber masalahnya, �Apa yang paling penting bagi hidup anda?�. Mendengar pertanyaan ini kawan saya menjawab, �Ah, pertanyaan ini sudah sering ditanyakan pada saya. Dan saya sudah tahu jawabannya�. �Kalau begitu, apa jawaban anda untuk pertanyaan ini ?�, kejar saya lagi. �Saya ingin sukses�, jawab kawan saya singkat dan sedikit jengkel. Mungkin ia merasa bahwa pertanyaan saya ini terlalu sederhana bagi seseorang yang telah �kenyang� dengan hal-hal yang berhubungan dengan pengembangan diri. �Mengapa sukses penting bagi diri anda ?�, tanya saya lagi. �Ya, pokoknya saya mau sukses. Semua orang mau sukses. Siapa yang mau hidup susah !�, jawab kawan saya lagi. </p><p>Mendengar jawaban ini, saya langsung tahu mengapa ia sampai sekarang belum sukses. Saat ia menjawab bahwa ia ingin sukses, saya masih belum puas. Saat ia menjawab pertanyaan kedua, �Mengapa sukses penting bagi diri anda ?�, saya langsung tahu sumber masalahnya. Mengapa saya bisa tahu ? Karena ia tidak bisa memberikan alasan yang jelas mengapa ia ingin sukses. Bila ia tidak punya alasan yang kuat untuk sukses maka pikiran bawah sadarnya mengartikan sukses sebagai sesuatu yang tidak penting, tidak mendesak, dan tidak perlu dicapai. </p><p>Saat saya menjelaskan hal ini pada kawan saya ini, ia langsung protes, �Ah, itu nggak mungkin. Sukses itu sangat penting bagi saya. Masa saya nggak mau sukses�. Namun saat saya menunjukkan bahwa ia tidak bisa memberikan alasan yang jelas mengapa sukses penting bagi dirinya, ia langsung diam dan sedikit kaget. Hal berikut ini adalah apa yang saya jelaskan padanya. </p><p>Kita bisa sukses, di bidang apa saja, bila sukses adalah hal yang penting bagi diri kita. Hal ini dibuktikan dengan adanya alasan yang kuat, dengan muatan emosi yang tinggi, untuk bisa mencapai keberhasilan. Bila sesuatu menjadi penting bagi diri kita maka sesuatu itu akan bernilai dan berharga untuk dicapai. Hal ini yang dinamakan value. Semakin tinggi �nilai� atau value sesuatu hal maka kita akan semakin bersemangat dan fokus untuk bisa mencapainya. Demikian juga sebaliknya. Bila sesuatu itu tidak penting bagi diri kita maka kita tidak akan mau bersusah payah mencapainya. Buat apa mengerjakan sesuatu yang menurut kita tidak penting, bukan ? Kecuali kalau memang kita ini kengangguran atau kurang kerjaan.</p><p> Secara sederhana value dapat diartikan sebagai sesuatu yang kita percayai sebagai hal yang penting bagi diri kita atau suatu emosi yang kita pandang penting untuk kita alami atau kita hindari. </p><p>Value berperan sebagai filter yang beroperasi di bawah sadar yang menentukan fokus kita dan bagaimana kita memanfaatkan waktu. Semakin tinggi value sesuatu maka semakin banyak waktu yang kita luangkan untuk melakukan hal tersebut. </p><p> Apakah value ini harga mati ? Tentu tidak. Value dapat berubah sewaktu-waktu sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan diri kita. Ada hal yang dulunya kita anggap penting, misalnya saat masih di SMA atau saat kuliah, ternyata kini sudah tidak penting lagi bagi hidup kita. </p><p> Value merupakan sumber motivasi. Saat saya menjelaskan hal ini pada kawan saya, ia tampak bingung dan bertanya, �Maksudnya ?�. Saya lalu menunjukkan buku yang sedang saya baca. Buku ini judulnya Abhiddhammatasangaha, tebalnya sekitar 550 halaman. Buku ini mengenai manajemen pikiran dan berisi sangat banyak istilah dalam bahasa Pali. Saya berkata, �Kalau anda saya minta untuk membaca buku ini, mau nggak ?�. Setelah melihat sekilas isi buku ia menjawab, �Ngapain baca buku ini. Apa saya kurang kerjaan ?�. �Persis !�, jawab saya. �Apanya yang persis ?�, kejar kawan saya dengan penasaran. �Kalau saya kasih uang Rp. 1 juta dan anda saya minta membaca buku ini dalam waktu 1 malam, mau nggak ?�, tanya saya lagi. �Nggak mau !�, jawabnya singkat. �Kalau misalnya ada seseorang ingin memberi anda rumah mewah dengan syarat anda harus membaca habis buku ini dalam satu malam, kira-kira anda mau nggak ?�, tanya saya lagi. �Wah, kalau ada hadiah rumah tentu saya mau�, jawab kawan saya dengan cepat. </p><p> Mengapa ia bisa berubah pikiran dari yang tadinya tidak mau akhirnya menjadi mau ? Ini semua berhubungan dengan seberapa penting membaca buku tersebut. Tadinya ia merasa tidak ada gunanya membaca buku. Namun saat ia melihat reward yang bisa ia dapatkan, maka membaca buku menjadi penting. </p><p> Alasan mengapa kawan saya belum sukses adalah karena sukses bukan hal penting bagi dirinya. Walaupun pikiran sadarnya akan tetap bersikeras mengatakan bahwa sukses itu penting bagi dirinya, pikiran bawah sadarnya berpikir hal yang sebaliknya. Saat ia tidak bisa menjawab mengapa sukses penting bagi dirinya, ini adalah jawaban yang berasal dari pikiran bawah sadarnya. Dan dari penelitian diketahui bahwa besarnya pengaruh pikiran bawah sadar terhadap diri manusia adalah sebesar 90% dan pikiran sadar hanya 10%. </p><p> Kawan saya tidak fokus untuk mengejar impiannya. Ia mudah sekali goyah dan berubah arah. Sesuatu yang dikerjakan tidak dengan fokus yang kuat tentu tidak akan bisa memberikan hasil maksimal. Sama seperti kaca pembesar. Kita dapat menggunakan kaca pembesar untuk membakar kertas dengan cara memfokuskan sinar matahari menjadi satu titik. Hal ini tidak mungkin bisa dicapai bila sebentar-sebentar kita menggerak-gerakkan kaca pembesar itu, naik turun, dan mengubah fokus. Motivasi untuk mempertahankan fokus ditentukan oleh seberapa penting, menurut pikiran kita, kita perlu membakar kertas itu. </p><p> Setelah mendengarkan penjelasan ini kawan saya akhirnya hanya bisa manggut-manggut. Ia lalu bertanya, �Kalau boleh tahu, anda dapat informasi ini dari sumber mana ? Apa ada buku yang menjelaskan hal ini ?�. �Sudah tentu ada. Ada buku sangat bagus yang akan segera terbit. Buku ini ditulis oleh pengarang terkenal yang telah menghasilkan dua buku best seller�, jawab saya. �Apa judul bukunya dan siapa nama penulisnya ?�, kejar kawan saya sambil bersiap-siap mencatat. �Catat baik-baik ya. Buku ini akan terbit bulan Agustus 2005, judulnya <em>Manage Your Mind For Success</em>. Penulisnya adalah Adi W. Gunawan dan Ariesandi Setyono�, jawab saya. �Ah, dasar. Ditanya serius koq malah guyon�, jawab kawan saya agak kesel. �Eh, saya ini serius lho. Bulan depan buku <em>Manage Your Mind For Success</em> akan terbit. Ini draft final yang sedang saya koreksi sebelum saya kirimkan ke penerbit�, jawab saya dengan serius sambil menunjukkan draft tersebut. �Lho, kamu sungguh-sungguh ya. Saya kira tadi guyonan. Kalau begitu saya catat ya judulnya�, jawab kawan saya lagi. �Oh ya, satu hal lagi, bulan depan yang terbit bukan cuma satu buku. Bulan depan juga akan terbit buku saya yang keempat yang berjudul <em>Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan ?� </em>, saya menambahkan. �Edan ! Bagaimana kamu bisa sempat-sempatnya nulis dua buku padahal jadwalmu begitu padat ?�, tanyanya dengan penuh penasaran. �Ini semua karena motivasi dan fokus. Saya termotivasi dan bisa tetap fokus karena bagi saya menulis buku adalah bagian dari proses aktualisasi diri. Dan saya sangat ingin untuk bisa membantu orang lain melalui karya saya. <em>The secret of living is giving</em>�, jawab saya mengakhiri diskusi kita.  </p><p> Kawan saya pulang dengan hati senang. Saya juga senang karena berhasil membantu seorang kawan mendapatkan suatu pemahaman yang benar, yang tentunya akan sangat bermanfaat bagi hidupnya. Saya lebih senang karena sekali lagi berhasil menyesatkan orang ke jalan yang benar. </p><p>  <em> *Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pembicara publik dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis best seller Born to be a Genius dan Genius Learning Strategy. Adi dapat dihubungi melalui email adi@adiwgunawan.com</em>  </p><p>&nbsp;</p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yyuana.blogsome.com/2007/01/19/life-value-the-source-of-motivation/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Rule Your Mind Or It Will Rule You</title>
		<link>http://yyuana.blogsome.com/2007/01/18/rule-your-mind-or-it-will-rule-you/</link>
		<comments>http://yyuana.blogsome.com/2007/01/18/rule-your-mind-or-it-will-rule-you/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Jan 2007 08:56:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
		<guid>http://yyuana.blogsome.com/2007/01/18/rule-your-mind-or-it-will-rule-you/</guid>
		<description><![CDATA[<p>&rdquo;Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu,  pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk&rdquo;  Buddha Pikiran merupakan hamba yang sangat berguna namun merupakan majikan yang paling kejam. Oleh sebab itu, berhati-hatilah dengan pikiran anda. Berita baiknya, sebelum saya menjelaskan maksud pernyataan di atas, adalah bahwa manusia adalah satu-satunya mahluk di dunia ini yang memiliki kemampuan [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&rdquo;Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, <br /><p> pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk&rdquo; <br /> <strong>Buddha</strong></p><p> Pikiran merupakan hamba yang sangat berguna namun merupakan majikan yang paling kejam. Oleh sebab itu, berhati-hatilah dengan pikiran anda. Berita baiknya, sebelum saya menjelaskan maksud pernyataan di atas, adalah bahwa manusia adalah satu-satunya mahluk di dunia ini yang memiliki kemampuan berpikir mengenai proses berpikir. Istilah teknisnya adalah metakognisi. Berita buruknya adalah bahwa sangat banyak orang yang tidak sadar, tidak tahu, pura-pura tidak tahu, atau bahkan tidak mau tahu bahwa mereka sebenarnya memiliki kemampuan ini. Dan oleh sebab itu mereka tidak pernah sadar bahwa seumur hidup mereka telah menjadi budak atau hamba dari pikiran mereka sendiri. </p><p> Apapun yang terjadi di dalam hidup kita merupakan realisasi dari pikiran kita yang dominan. Semakin kita memikirkan hal yang tidak kita inginkan, maka kita semakin cenderung mendapatkannya. Ada seorang remaja putri, yang tidak suka dengan tingkah laku ibunya dan berkata, &rdquo;Nanti, kalau saya dewasa, saya tidak akan jadi seperti ibu saya.&rdquo; Apa yang terjadi saat ia dewasa? Ia menjadi persis seperti ibunya. Mengapa? Karena semakin ia pikirkan bahwa ia tidak mau menjadi seperti ibunya, maka pikiran ini menjadi semakin dominan, semakin menguasai dirinya, dan dengan demikian mengarahkan ia untuk menjadi seperti ibunya. </p><p>Demikian juga orang gagal, yang pencapaian prestasi hidupnya rendah. Coba anda tanyakan pada mereka, &rdquo;Apa yang anda ingin capai dalam hidup?&rdquo; Mereka akan selalu berkata, &rdquo;Saya ingin agar hidup saya tidak kekurangan, tidak miskin, tidak susah, tidak menderita, tidak ini&#8230;., tidak itu&#8230;..&rdquo; Yang mereka katakan selalu apa yang tidak mereka ingin terjadi pada diri mereka. Namun yang tidak mereka sadari adalah semakin mereka fokus untuk menghidari apa yang tidak mereka inginkan maka pikiran mereka akan semakin membuat hal itu menjadi kenyataan. </p><p> Sebaliknya kalau orang sukses ditanya, &rdquo;Apa yang anda ingin capai dalam hidup?&rdquo; maka mereka pasti akan menjawab, &rdquo;Saya ingin menjadi pengusaha sukses, saya ingin membantu orang yang tidak mampu dengan kekayaan saya, saya ingin mendirikan panti asuhan, saya ingin menyekolahkan anak ke luar negeri, saya ingin&#8230;&#8230;., saya ingin&#8230;&#8230;..&rdquo; Semua jawaban itu selalu yang positip. Anda bisa lihat bedanya sekarang? </p><p>Anda mungkin akan bertanya, &rdquo;Mengapa terjadi perbedaan hasil antara orang gagal dan orang sukses, padahal mereka memikirkan tujuan yang sama?&rdquo; Sebelum saya jawab, saya perlu meralat pertanyaan anda. Mereka memang terkesan memikirkan hal yang sama, padahal tidak sama. Bukankah tidak mau hidup miskin sama dengan hidup dalam kelimpahan? Bukankah hidup tidak menderita sama dengan hidup senang atau bahagia? Secara bahasa, apa yang mereka nyatakan memang artinya sama. Tapi secara kerja pikiran, kedua pernyataan itu bertolak belakang. Lho, koq bisa? </p><p>Sekarang saya ingin bermain dengan pikiran anda sejenak. Coba anda lakukan hal berikut ini. Saya ingin anda untuk tidak memikirkan seekor gajah warna merah muda. Sekali lagi, saya minta anda tidak memikirkan gajah warna merah muda. OK! Berhenti sejenak. Lakukan eksperimen kecil ini. Setelah itu baru anda boleh meneruskan membaca. </p><p> Bila anda melakukan dengan benar apa yang saya minta maka pikiran anda malah memikirkan seekor gajar warna merah muda. Mengapa bisa terjadi demikian? Bukankah perintahnya tadi adalah anda diminta tidak memikirkan gajah merah muda?</p><p> Inilah perbedaan kerja bahasa dan kerja pikiran. Secara struktur kalimat, instruksi yang saya berikan sudah benar. Namun tidak demikian bila instruksi ini mau dilaksanakan oleh pikiran. Bahasa mengenal negasi. Pikiran tidak. Kalimat &rdquo;tidak memikirkan&rdquo; secara kaidah bahasa memang berarti &rdquo; tidak boleh memikirkan atau jangan memikirkan&rdquo;. Namun di pikiran, untuk bisa menegasi suatu pernyataan maka yang terjadi adalah harus terlebih dahulu muncul &rdquo;sesuatu&rdquo; untuk kemudian dinegasi. </p><p> Dalam contoh yang saya berikan, untuk bisa &rdquo;tidak memikirkan gajah merah muda&rdquo;, maka yang terjadi di pikiran adalah: </p><p> 1.  pikiran harus memunculkan gambar gajah warna merah muda</p><p> 2.   baru setelah itu pikiran akan menegasi gajah merah muda</p><p>Namun, begitu gambar gajah merah muda telah muncul di pikiran maka efek negasi tidak berlaku. Artinya, gambar gajah merah muda itu akan tetap berada di dalam pikiran. Semakin dominan pikiran itu maka semakin kuat pengaruhnya pada diri seseorang. </p><p>Hal ini sama efeknya dengan orangtua yang &rdquo;memotivasi&rdquo; anaknya, yang malas belajar, dengan kalimat, &rdquo;Nak, jangan malas. Kalau malas kamu nggak bisa sukses&rdquo;. Apa yang terjadi? Anaknya justru tambah malas dan tambah sulit sukses. Demikian juga saat orangtua mendorong anak untuk rajin bangun pagi dengan, &rdquo;Kalau bangun jangan suka telat. Jangan suka bangun siang. Nanti bisa telat masuk sekolah.&rdquo; Apa yang terjadi? Anaknya tetap bangunnya telat. Mengapa bisa demikian? </p><p> Komunikasi mengandung tiga hal. Pertama adalah ide, kedua adalah gambaran mental, dan yang ketiga adalah emosi. Saat orangtua berkata jangan bangun telat, maka ini adalah ide. Selanjutnya dalam pikiran akan muncul gambar orang yang bangun telat. Setelah itu muncul emosi. Kalau emosi yang muncul adalah ia merasa enak kalau tidur sampai siang, maka kebiasaan ini akan semakin kuat. </p><p> Untuk dapat benar-benar bisa mengendalikan pikiran kita harus menyadari bahwa kita dan pikiran kita adalah dua hal yang berbeda. Dengan kata lain, kita menggunakan pikiran namun pikiran bukanlah diri kita. Diri kita adalah sebuah kesadaran yang menggunakan pikiran sebagai alat untuk menghasilkan buah pikir. Kesadaran ini merupakan langkah awal untuk mengendalikan pikiran. Untuk mudahnya anda cukup mengingat tiga hukum pengendalian pikiran berikut: </p><p> Hukum pengendalian pikiran yang pertama berbunyi:  <em>Buat pikiran anda memikirkan apa yang anda ingin pikirkan.</em> </p><p>Pikiran selama ini telah dengan sangat bebas memikirkan apapun yang &rdquo;ia&rdquo; inginkan. Dengan demikian selama ini pikiran yang mengendalikan diri anda. Sekarang, setelah menyadari hal ini, anda perlu membalik prosesnya, kenali bahwa pikiran hanyalah merupakan suatu aktivitas, yang dapat berjalan sesuai dengan keinginan anda. Untuk dapat mengendalikan pikiran, anda harus disiplin dalam menjalankan hukum pertama ini. Belajarlah untuk mengatur pikiran seperti anda menjalankan sebuah mesin. Anda dapat menyalakan atau mematikan menurut keinginan anda. </p><p>Hukum pengendalian pikiran  yang kedua berbunyi:  <em>Buat pikiran anda berpikir saat anda menginginkannya berpikir dan berhenti berpikir saat anda menginginkannya berhenti. </em></p><p> Bagi kebanyakan orang pikiran mereka dapat melakukan apa saja, meskipun tanpa persetujuan mereka, sehingga pikiran yang menentukan apa yang akan ia pikirkan. Akibatnya, pikiran yang muncul sering kali tidak terkendali dan mengakibatkan pikiran yang kacau. Untuk mengatasi hal ini anda harus bisa menjadi tuan dari pikiran anda, bukan sebaliknya. Gunakan pikiran saat anda ingin menggunakannya dan tidak menggunakannya saat anda tidak ingin menggunakannya. Dengan kata lain, anda harus belajar untuk bisa membuat pikiran menjadi tenang saat anda menginginkannya tenang. </p><p> Hukum pengendalian pikiran yang ketiga berbunyi:  <em>Menjadi pengamat dari pikiran yang anda pikirkan. </em></p><p>Semakin ahli anda dalam memainkan peran sebagai pengamat dalam mengamati pikiran maka anda akan semakin mampu menguasai pikiran. Mainkan peran pengamat dalam setiap bentuk kegiatan mental yang anda lakukan. Jadikan hal ini sebagai sebuah kebiasaan. Bila anda mampu menjadikan peran pengamat sebuah kebiasaan, maka kebiasaan ini akan sangat membantu mengembangkan kemampuan persepsi anda. Selanjutnya anda akan mampu mengendalikan pikiran dan berpikir secara sadar. </p><p> Pada mulanya, keadaan pikiran orang pada umumnya relatif tidak terstruktur, obyektif, fleksibel, dan terbuka terhadap pengalaman belajar baru. Seiring berjalannya waktu, kondisi ini perlahan tapi pasti berubah menjadi semakin kaku, bias, dan sulit menerima persepsi, pembelajaran, atau respon yang tidak dapat diterima oleh struktur sebelumnya. Pada akhirnya, seluruh ruang lingkup kesadaran pikiran sadar didikte dan tunduk pada kerangka berpikir yang tadinya dibentuk sebagai landasan untuk mengembangkan kemampuan berpikir itu sendiri. </p><p> Pikiran sadar atau rasional sebenarnya merupakan pikiran yang paling tidak rasional. Mengapa demikian? Pikiran rasional, berdasarkan kesan yang diterimanya melalui perspektif yang terbatas, membentuk struktur-struktur yang kemudian menentukan apa yang akan diterima dan ditolaknya secara bebas. Mulai saat itu tidak peduli bagaimana dunia berjalan, pikiran rasional akan mengikuti aturan yang diciptakannya sendiri dan mencoba memaksa dunia mengikuti aturan itu. Celakanya lagi, kita menggunakan pikiran sadar untuk berpikir, menganalisis, mensistesis, dan mengevaluasi. </p><p>  Saya ingin mengakhiri artikel ini dengan satu kutipan favorit saya sebagai berikut: </p><p>     <em>&rdquo;I think, therefore I am&rdquo; </em><br />                                                  <strong>Descartes</strong></p><p> Bila diterjemahkan bebas artinya &rdquo;Saya berpikir, maka saya ada&rdquo;. Sebaliknya ada pihak yang menentang pendapat Descartes dengan beragumentasi, &ldquo;Saya ada, maka saya bisa berpikir&rdquo;. </p><p> Nah, pertanyaan saya pada anda, manakah yang benar &rdquo;Saya berpikir, maka saya ada&rdquo;, ataukah &rdquo;Saya ada, maka saya bisa berpikir&rdquo;? </p><p> Selamat berpikir !! </p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yyuana.blogsome.com/2007/01/18/rule-your-mind-or-it-will-rule-you/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Mitos Motivasi : Antara Harapan dan Kenyataan</title>
		<link>http://yyuana.blogsome.com/2007/01/12/mitos-motivasi-antara-harapan-dan-kenyataan/</link>
		<comments>http://yyuana.blogsome.com/2007/01/12/mitos-motivasi-antara-harapan-dan-kenyataan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Jan 2007 08:47:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
		<guid>http://yyuana.blogsome.com/2007/01/12/mitos-motivasi-antara-harapan-dan-kenyataan/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Minggu lalu beberapa orang kawan dari sebuah bank nasional ternama mengajak saya makan siang sambil mendiskusikan detil acara yang akan mereka laksanakan, di mana saya adalah pembicara di acara tersebut. Saat menunggu makanan kawan saya, yang kebetulan adalah seorang Area Manager, bertanya, �Pak Adi apa bisa memberikan seminar motivasi?�  �Maksudnya?� saya balik bertanya.  [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Minggu lalu beberapa orang kawan dari sebuah bank nasional ternama mengajak saya makan siang sambil mendiskusikan detil acara yang akan mereka laksanakan, di mana saya adalah pembicara di acara tersebut. Saat menunggu makanan kawan saya, yang kebetulan adalah seorang Area Manager, bertanya, �Pak Adi apa bisa memberikan seminar motivasi?� <p> �Maksudnya?� saya balik bertanya. </p><p> �Kami pernah mengundang pembicara untuk memberikan motivasi bagi staff kami. Apa Bapak juga bisa memberikan seminar motivasi untuk membangkitkan semangat staff?� tanyanya lagi.</p><p>  Sebelum menjawab pertanyaan kawan saya ini, saya bertanya, �Apa yang Ibu harapkan dari seminar motivasi?� </p><p> �Kami ingin semangat kerja staff kami meningkat. Namun selama ini motivasi yang mucul setelah mengikuti seminar tidak bisa bertahan lama. Paling lama satu-dua hari. Setelah itu semangat kerja kembali ke keadaan semula seperti saat sebelum mengikuti seminar. Saya sendiri sudah sangat sering menghadiri berbagai seminar motivasi. Biasanya kalau saat seminar, motivasi saya akan sangat tinggi. Tapi satu dua hari setelah seminar, motivasi saya gembos seperti balon kehabisan udara. Mengapa bisa begini ya, Pak?� kejar kawan saya dengan penasaran.</p><p> Pernahkah anda mengalami seperti yang diceritakan kawan saya ini? Saya sendiri telah mengalaminya. Kesulitan yang selalu ditemui setiap peserta seminar motivasi adalah motivasi yang mereka dapatkan di seminar tidak bisa bertahan lama. Mengapa ini terjadi ? Apakah ada cara untuk bisa mempertahankan motivasi ? Kalau ada, bagaimana caranya? Saya mulai aktif menghadiri berbagai seminar motivasi sejak tahun 1994. Saya membaca sangat banyak buku motivasi, mendengarkan ratusan kaset seminar motivasi, dan bahkan sampai beberapa kali mengikuti seminar motivasi yang lamanya dua hari, di luar negeri, yang dihadiri lebih dari 35.000 (tiga puluh lima ribu) orang dalam satu stadion. Saat di seminar biasanya saya membuat �keputusan besar� untuk sukses, untuk berubah, untuk ini, untuk itu, dan masih banyak �keputusan besar� yang lain. Namun apa yang terjadi setelah itu? Semangat yang begitu menggebu-gebu dengan cepat hilang tak berbekas dan saya kembali seperti diri saya sebelum menghadiri seminar motivasi itu. </p><p> Pertanyaannya sekarang adalah, �Apakah pembicara motivasinya tidak mampu memotivasi audiensnya?�.Wah, kalau soal memotivasi, mereka sungguh luar biasa. Saya katakan �mereka� karena yang berbicara di seminar motivasi selama dua hari itu adalah para pembicara kaliber internasional. Mereka adalah figur sukses yang menjadi contoh bagi banyak orang. Mereka telah berhasil mengubah hidup mereka dari orang biasa menjadi luar biasa. Mereka sukses secara finansial dengan <em>income</em> 6 digit, dan ini dalam dollar Amerika bukan rupiah.</p><p>Mereka banyak membantu orang lain, keluarganya bahagia, kondisi mental dan fisik sangat prima. Mereka adalah orang yang <em>walk the talk</em>. Bukan sekedar <em>talk the talk</em> seperti kebanyakan orang. Namun mengapa motivasi saya masih tetap seperti yo-yo? Sebentar naik, sebentar turun? Padahal saya sudah dimotivasi oleh pembicara yang sangat luar biasa?</p><p> Cukup lama saya mencari jawaban atas pertanyaan ini. Dalam upaya mencari jawaban atas pertanyaan ini saya terus menghadiri berbagai seminar motivasi. Saya membandingkan <em>style</em> pembicara satu dengan pembicara lainnya. Saya mengajak diskusi dan bertukar pikiran dengan sesama peserta seminar. Diakui oleh peserta seminar, ada pembicara yang sangat bagus memotivasi audiens sehingga motivasi bisa bertahan lama. Ada yang motivasinya hanya bisa bertahan satu atau dua hari. Dari perbandingan yang saya lakukan saya mendapatkan satu pola yang konsisten. Pembicara motivasi yang mampu memotivasi audiens dengan baik, sehingga audiens tetap bersemangat untuk waktu yang lama, mempunyai kelebihan tersendiri. Meskipun demikian, motivasi ini tidak dapat bertahan seterusnya. Cepat atau lambat, seperti yang telah saya alami, motivasi ini akan berkurang dan akhirnya habis&#8230; bis&#8230;. seperti balon yang kehabisan udara. </p><p> Apa sebabnya? Motivasi yang didapat saat mengikuti seminar adalah motivasi yang berasal dari luar atau motivasi ekstrinsik. Motivasi jenis ini tidak bisa bertahan lama. Untuk berubah dan mencapai sukses kita harus mempunyai motivasi yang tumbuh dari dalam (intrinsik). Pembicara motivasi yang lihai adalah pembicara yang mampu menimbulkan motivasi intrinsik dalam diri audiensnya dan mengajarkan cara mempertahankan motivasi itu, setelah audiens pulang ke rumah dan menjalani kehidupan sehari-hari yang penuh tantangan. Jika audiens tidak diajarkan cara memelihara dan mempertahankan motivasinya maka motivasi itu pasti gembos dengan sendirinya.</p><p> Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang datang dari luar dan bersifat sementara. Motivasi eksternal membuat kita sangat bersemangat, pada saat di seminar, namun tidak bisa membuat semangat itu bertahan lama. Motivasi eksternal dapat mempengaruhi kita untuk melakukan perubahan namun tidak bisa membuat perubahan bagi kita. </p><p> Mungkin anda akan bertanya, �Mengapa motivasi yang berasal dari luar tidak dapat bertahan lama?� Ini semua berhubungan dengan program pikiran. Motivasi eksternal membuat kita berpikir, dan ini adalah kerja pikiran sadar, bahwa kita dapat melakukan apa saja untuk mencapai semua impian hidup kita. Kita tentu ingin percaya bahwa kita bisa mencapai goal kita. Namun program pikiran, yang mempengaruhi 90% kemampuan berpikir kita, berkata lain, �Ah&#8230;. goal itu nggak masuk akal. Saya nggak mungkin bisa mencapainya. Saya sudah gagal berulang kali. Latar belakang saya berbeda dengan si pembicara. Saya punya banyak masalah dan hambatan. Saya nggak bisa ini&#8230;. nggak bisa itu&#8230; Tentu saya akan sangat sulit berhasil.�</p><p> Kembali saya ulangi pertanyaan, �Mengapa motivasi yang berasal dari luar tidak dapat bertahan lama?� Karena motivasi eksternal hanya mampu membuat perubahan yang bersifat sementara. Motivasi eksternal bekerja <strong>tidak sejalan</strong> dengan prinsip kerja otak dan pikiran bawah sadar.  </p><p>Lalu, bagaimana caranya untuk bisa menghasilkan perubahan yang permanen? Inilah rahasianya. <em>Empowerment</em> atau peningkatan diri bukanlah hasil dari proses kerja pikiran sadar. <em>Empowerment</em>  adalah suatu pengalaman pribadi yang kita alami karena pikiran bawah sadar berhasil mencapai <em>goal</em> dan kemudian pengalaman ini naik ke level pikiran sadar dalam bentuk perasaan �<em>in control</em>� terhadap hidup kita.</p><p>   Kita bisa �mencoba� untuk merasa berubah. Kita bisa menggunakan kekuatan kehendak (<em>will power</em>) kita. Kita bisa datang ke berbagai seminar, membaca berbagai buku, mendengarkan kaset-kaset motivasi, dan setelah itu, untuk beberapa saat, kita merasa lebih mampu mengendalikan diri dan lebih fokus. Meskipun demikian kita tetap tidak bisa berubah atau mengalami <em>empowerment</em> bila tidak mendapat dukungan pikiran bawah sadar kita.</p><p> Inti perubahan adalah kita harus mengganti program-program negatip yang ada di pikiran bawah sadar kita dengan program yang positip. Saat kita termotivasi untuk berubah kita memutuskan untuk meng-uninstall program negatip. Namun kita tidak diajarkan, di seminar motivasi itu, bagaimana cara untuk meng-install program positip. </p><p> Mengapa kita perlu mengganti program negatip dengan yang positip? Karena program mental yang ada di pikiran bawah sadar adalah program lama � program yang akan menolak setiap informasi yang tidak sejalan dengan informasi yang telah tersimpan sebelumnya. Sesuai dengan cara kerja pikiran, semakin lama suatu program �menetap� di pikiran bawah sadar maka semakin kuat program itu. Salah satu hukum penting yang berhubungan dengan pikiran yaitu bila terjadi konflik antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar maka yang menang adalah pikiran bawah sadar.</p><p> Satu hal yang luar biasa mengenai program ini adalah bahwa setiap program bertindak seperti mahluk hidup yang mempunyai kehidupan sendiri. Saat kita akan mengganti program lama dengan yang baru, program lama ini akan melawan dengan segala cara untuk bisa bertahan �hidup�. Itulah sebabnya mengapa orang biasanya sulit untuk melakukan perubahan.</p><p> Seorang pakar di bidang pikiran, yang bukunya baru-baru ini saya baca, malah mengatakan bahwa pikiran bawah sadar bekerja mirip dengan suatu jaringan komputer (<em>network</em>) yang terdiri dari sangat banyak komputer (baca: proses berpikir/program). Setiap komputer ini ada yang saling berbagai <em>resource</em> dan ada yang menutup diri tidak mau berbagi <em>resource</em>. Setiap komputer ini saling mempengaruhi.</p><p> Satu kisah menarik saya alami saat saya membantu seorang kawan memprogram ulang pikirannya. Selang beberapa saat, saya didatangi kawan saya ini dan sambil menangis ia berkata, �Pak, saya merasa diri saya saat ini bukanlah diri saya yang sesungguhnya. Namun di sisi lain saya merasakan ada sesuatu yang baru dalam diri saya. Seakan-akan ada dua bagian dalam diri saya yang saling tarik ulur, saling bertempur. Ada apa yang dengan diri saya?� </p><p> Saya lalu menjelaskan bahwa ini adalah sesuatu yang normal. Saya pernah mengalami keadaan ini. Kawan saya yang lain juga pernah. Saya kemudian meminta ia meneruskan <em>programming</em>-nya. Jika ia terus bertahan dengan program barunya maka program ini akan semakin kuat dan akhirnya akan mengalahkan pengaruh program yang lama. Seminggu kemudian ia memberikan laporan bahwa ia sudah merasa jauh lebih baik dan program barunya yang menang. </p><p>suk ke pikiran bawah sadar yaitu repetisi, identifikasi kelompok/keluarga, informasi yang disampaikan oleh figur yang dipandang mempunyai otoritas, emosi yang intens, dan hipnosis. Kita bisa menggunakan satu cara saja atau kombinasi dari beberapa cara sekaligus. Begitu kita dapat masuk ke pikiran bawah sadar maka akan sangat mudah untuk melakukan perubahan atau modifikasi program. </p><p>  Pemrograman ulang bawah sadar ada banyak cara. Yang pertama adalah dengan mengubah <em>self-talk</em> kita (untuk <em>self-talk</em>, saya akan bahas di artikel tersendiri). Cara lain adalah dengan visualisasi kreatif, kisah sukses, simbol sukses, dan <em>self-hypnosis</em>. Yang lebih rumit adalah dengan bantuan seorang hipnoterapis yang berpengalaman. Khusus untuk hipnoterapi saya sarankan agar anda mencari orang yang benar-benar kompeten agar jangan sampai terjadi kesalahan prosedur terapi. Salah satu cara pemrograman ulang pikiran bawah sadar yang cukup efektif adalah seperti yang dilakukan oleh kawan saya, seorang motivator berbasis NLP, Tommy Siawira, dengan Fire Walk Experience. Pengalaman berjalan di atas bara api, yang mana pikiran sadar merasa tidak mungkin untuk dilakukan namun ternyata bisa, memberikan efek luar biasa untuk mengubah program di pikiran bawah sadar. Efek perubahan diperkuat lagi dengan konseling yang biasa Tommy berikan sehingga peserta seminarnya tahu apa yang harus dilakukan untuk bisa tetap mempertahankan motivasi mereka.[]</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yyuana.blogsome.com/2007/01/12/mitos-motivasi-antara-harapan-dan-kenyataan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
