January 19, 2007

Life Value : The Source of Motivation

Baru-baru ini saya bertemu dengan seorang kawan yang mengajukan pertanyaan, �Saya telah membaca banyak buku pengembangan diri, mendengar banyak kaset/CD motivasi, menghadiri berbagai seminar motivasi dan pengembangan diri, namun mengapa sampai saat ini saya masih belum sukses? Mengapa saat mengikuti seminar motivasi, saat masih di ruang seminar, saya sangat bersemangat dan termotivasi, namun setelah pulang ke rumah, motivasi saya hilang ?, �Apa ada yang salah dengan diri saya?�.

Cukup sulit bagi saya untuk bisa memberikan jawaban langsung. Kawan saya ini termasuk maniak buku. Buku-buku yang dia baca juga bukan buku sembarangan. Sebut saja nama penulis terkenal seperti Zig Ziglar, Erich Fromm, Maslow, Carl Rogers, Victor Frankl, William Glasser, Kiyosaki, Anthony Robbins, Maxwell Maltz, Stephen Covey, Dale Carnigie, Michael Hutchinson, Goleman, Martin Seligman, Bandler dan Grinder, Milton Erickson, dan sederet nama besar lainnya. Seminar yang ia datangi juga seminar-seminar mahal tidak hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri.

Setelah minta waktu untuk berpikir, saya akhirnya mengajukan pertanyaan yang berhasil menemukan sumber masalahnya, �Apa yang paling penting bagi hidup anda?�. Mendengar pertanyaan ini kawan saya menjawab, �Ah, pertanyaan ini sudah sering ditanyakan pada saya. Dan saya sudah tahu jawabannya�. �Kalau begitu, apa jawaban anda untuk pertanyaan ini ?�, kejar saya lagi. �Saya ingin sukses�, jawab kawan saya singkat dan sedikit jengkel. Mungkin ia merasa bahwa pertanyaan saya ini terlalu sederhana bagi seseorang yang telah �kenyang� dengan hal-hal yang berhubungan dengan pengembangan diri. �Mengapa sukses penting bagi diri anda ?�, tanya saya lagi. �Ya, pokoknya saya mau sukses. Semua orang mau sukses. Siapa yang mau hidup susah !�, jawab kawan saya lagi.

Mendengar jawaban ini, saya langsung tahu mengapa ia sampai sekarang belum sukses. Saat ia menjawab bahwa ia ingin sukses, saya masih belum puas. Saat ia menjawab pertanyaan kedua, �Mengapa sukses penting bagi diri anda ?�, saya langsung tahu sumber masalahnya. Mengapa saya bisa tahu ? Karena ia tidak bisa memberikan alasan yang jelas mengapa ia ingin sukses. Bila ia tidak punya alasan yang kuat untuk sukses maka pikiran bawah sadarnya mengartikan sukses sebagai sesuatu yang tidak penting, tidak mendesak, dan tidak perlu dicapai.

Saat saya menjelaskan hal ini pada kawan saya ini, ia langsung protes, �Ah, itu nggak mungkin. Sukses itu sangat penting bagi saya. Masa saya nggak mau sukses�. Namun saat saya menunjukkan bahwa ia tidak bisa memberikan alasan yang jelas mengapa sukses penting bagi dirinya, ia langsung diam dan sedikit kaget. Hal berikut ini adalah apa yang saya jelaskan padanya.

Kita bisa sukses, di bidang apa saja, bila sukses adalah hal yang penting bagi diri kita. Hal ini dibuktikan dengan adanya alasan yang kuat, dengan muatan emosi yang tinggi, untuk bisa mencapai keberhasilan. Bila sesuatu menjadi penting bagi diri kita maka sesuatu itu akan bernilai dan berharga untuk dicapai. Hal ini yang dinamakan value. Semakin tinggi �nilai� atau value sesuatu hal maka kita akan semakin bersemangat dan fokus untuk bisa mencapainya. Demikian juga sebaliknya. Bila sesuatu itu tidak penting bagi diri kita maka kita tidak akan mau bersusah payah mencapainya. Buat apa mengerjakan sesuatu yang menurut kita tidak penting, bukan ? Kecuali kalau memang kita ini kengangguran atau kurang kerjaan.

Secara sederhana value dapat diartikan sebagai sesuatu yang kita percayai sebagai hal yang penting bagi diri kita atau suatu emosi yang kita pandang penting untuk kita alami atau kita hindari.

Value berperan sebagai filter yang beroperasi di bawah sadar yang menentukan fokus kita dan bagaimana kita memanfaatkan waktu. Semakin tinggi value sesuatu maka semakin banyak waktu yang kita luangkan untuk melakukan hal tersebut.

Apakah value ini harga mati ? Tentu tidak. Value dapat berubah sewaktu-waktu sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan diri kita. Ada hal yang dulunya kita anggap penting, misalnya saat masih di SMA atau saat kuliah, ternyata kini sudah tidak penting lagi bagi hidup kita.

Value merupakan sumber motivasi. Saat saya menjelaskan hal ini pada kawan saya, ia tampak bingung dan bertanya, �Maksudnya ?�. Saya lalu menunjukkan buku yang sedang saya baca. Buku ini judulnya Abhiddhammatasangaha, tebalnya sekitar 550 halaman. Buku ini mengenai manajemen pikiran dan berisi sangat banyak istilah dalam bahasa Pali. Saya berkata, �Kalau anda saya minta untuk membaca buku ini, mau nggak ?�. Setelah melihat sekilas isi buku ia menjawab, �Ngapain baca buku ini. Apa saya kurang kerjaan ?�. �Persis !�, jawab saya. �Apanya yang persis ?�, kejar kawan saya dengan penasaran. �Kalau saya kasih uang Rp. 1 juta dan anda saya minta membaca buku ini dalam waktu 1 malam, mau nggak ?�, tanya saya lagi. �Nggak mau !�, jawabnya singkat. �Kalau misalnya ada seseorang ingin memberi anda rumah mewah dengan syarat anda harus membaca habis buku ini dalam satu malam, kira-kira anda mau nggak ?�, tanya saya lagi. �Wah, kalau ada hadiah rumah tentu saya mau�, jawab kawan saya dengan cepat.

Mengapa ia bisa berubah pikiran dari yang tadinya tidak mau akhirnya menjadi mau ? Ini semua berhubungan dengan seberapa penting membaca buku tersebut. Tadinya ia merasa tidak ada gunanya membaca buku. Namun saat ia melihat reward yang bisa ia dapatkan, maka membaca buku menjadi penting.

Alasan mengapa kawan saya belum sukses adalah karena sukses bukan hal penting bagi dirinya. Walaupun pikiran sadarnya akan tetap bersikeras mengatakan bahwa sukses itu penting bagi dirinya, pikiran bawah sadarnya berpikir hal yang sebaliknya. Saat ia tidak bisa menjawab mengapa sukses penting bagi dirinya, ini adalah jawaban yang berasal dari pikiran bawah sadarnya. Dan dari penelitian diketahui bahwa besarnya pengaruh pikiran bawah sadar terhadap diri manusia adalah sebesar 90% dan pikiran sadar hanya 10%.

Kawan saya tidak fokus untuk mengejar impiannya. Ia mudah sekali goyah dan berubah arah. Sesuatu yang dikerjakan tidak dengan fokus yang kuat tentu tidak akan bisa memberikan hasil maksimal. Sama seperti kaca pembesar. Kita dapat menggunakan kaca pembesar untuk membakar kertas dengan cara memfokuskan sinar matahari menjadi satu titik. Hal ini tidak mungkin bisa dicapai bila sebentar-sebentar kita menggerak-gerakkan kaca pembesar itu, naik turun, dan mengubah fokus. Motivasi untuk mempertahankan fokus ditentukan oleh seberapa penting, menurut pikiran kita, kita perlu membakar kertas itu.

Setelah mendengarkan penjelasan ini kawan saya akhirnya hanya bisa manggut-manggut. Ia lalu bertanya, �Kalau boleh tahu, anda dapat informasi ini dari sumber mana ? Apa ada buku yang menjelaskan hal ini ?�. �Sudah tentu ada. Ada buku sangat bagus yang akan segera terbit. Buku ini ditulis oleh pengarang terkenal yang telah menghasilkan dua buku best seller�, jawab saya. �Apa judul bukunya dan siapa nama penulisnya ?�, kejar kawan saya sambil bersiap-siap mencatat. �Catat baik-baik ya. Buku ini akan terbit bulan Agustus 2005, judulnya Manage Your Mind For Success. Penulisnya adalah Adi W. Gunawan dan Ariesandi Setyono�, jawab saya. �Ah, dasar. Ditanya serius koq malah guyon�, jawab kawan saya agak kesel. �Eh, saya ini serius lho. Bulan depan buku Manage Your Mind For Success akan terbit. Ini draft final yang sedang saya koreksi sebelum saya kirimkan ke penerbit�, jawab saya dengan serius sambil menunjukkan draft tersebut. �Lho, kamu sungguh-sungguh ya. Saya kira tadi guyonan. Kalau begitu saya catat ya judulnya�, jawab kawan saya lagi. �Oh ya, satu hal lagi, bulan depan yang terbit bukan cuma satu buku. Bulan depan juga akan terbit buku saya yang keempat yang berjudul Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan ?� , saya menambahkan. �Edan ! Bagaimana kamu bisa sempat-sempatnya nulis dua buku padahal jadwalmu begitu padat ?�, tanyanya dengan penuh penasaran. �Ini semua karena motivasi dan fokus. Saya termotivasi dan bisa tetap fokus karena bagi saya menulis buku adalah bagian dari proses aktualisasi diri. Dan saya sangat ingin untuk bisa membantu orang lain melalui karya saya. The secret of living is giving�, jawab saya mengakhiri diskusi kita.

Kawan saya pulang dengan hati senang. Saya juga senang karena berhasil membantu seorang kawan mendapatkan suatu pemahaman yang benar, yang tentunya akan sangat bermanfaat bagi hidupnya. Saya lebih senang karena sekali lagi berhasil menyesatkan orang ke jalan yang benar.

*Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pembicara publik dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis best seller Born to be a Genius dan Genius Learning Strategy. Adi dapat dihubungi melalui email adi@adiwgunawan.com

 

January 18, 2007

Rule Your Mind Or It Will Rule You

”Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu,

pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk”
Buddha

Pikiran merupakan hamba yang sangat berguna namun merupakan majikan yang paling kejam. Oleh sebab itu, berhati-hatilah dengan pikiran anda. Berita baiknya, sebelum saya menjelaskan maksud pernyataan di atas, adalah bahwa manusia adalah satu-satunya mahluk di dunia ini yang memiliki kemampuan berpikir mengenai proses berpikir. Istilah teknisnya adalah metakognisi. Berita buruknya adalah bahwa sangat banyak orang yang tidak sadar, tidak tahu, pura-pura tidak tahu, atau bahkan tidak mau tahu bahwa mereka sebenarnya memiliki kemampuan ini. Dan oleh sebab itu mereka tidak pernah sadar bahwa seumur hidup mereka telah menjadi budak atau hamba dari pikiran mereka sendiri.

Apapun yang terjadi di dalam hidup kita merupakan realisasi dari pikiran kita yang dominan. Semakin kita memikirkan hal yang tidak kita inginkan, maka kita semakin cenderung mendapatkannya. Ada seorang remaja putri, yang tidak suka dengan tingkah laku ibunya dan berkata, ”Nanti, kalau saya dewasa, saya tidak akan jadi seperti ibu saya.” Apa yang terjadi saat ia dewasa? Ia menjadi persis seperti ibunya. Mengapa? Karena semakin ia pikirkan bahwa ia tidak mau menjadi seperti ibunya, maka pikiran ini menjadi semakin dominan, semakin menguasai dirinya, dan dengan demikian mengarahkan ia untuk menjadi seperti ibunya.

Demikian juga orang gagal, yang pencapaian prestasi hidupnya rendah. Coba anda tanyakan pada mereka, ”Apa yang anda ingin capai dalam hidup?” Mereka akan selalu berkata, ”Saya ingin agar hidup saya tidak kekurangan, tidak miskin, tidak susah, tidak menderita, tidak ini…., tidak itu…..” Yang mereka katakan selalu apa yang tidak mereka ingin terjadi pada diri mereka. Namun yang tidak mereka sadari adalah semakin mereka fokus untuk menghidari apa yang tidak mereka inginkan maka pikiran mereka akan semakin membuat hal itu menjadi kenyataan.

Sebaliknya kalau orang sukses ditanya, ”Apa yang anda ingin capai dalam hidup?” maka mereka pasti akan menjawab, ”Saya ingin menjadi pengusaha sukses, saya ingin membantu orang yang tidak mampu dengan kekayaan saya, saya ingin mendirikan panti asuhan, saya ingin menyekolahkan anak ke luar negeri, saya ingin……., saya ingin……..” Semua jawaban itu selalu yang positip. Anda bisa lihat bedanya sekarang?

Anda mungkin akan bertanya, ”Mengapa terjadi perbedaan hasil antara orang gagal dan orang sukses, padahal mereka memikirkan tujuan yang sama?” Sebelum saya jawab, saya perlu meralat pertanyaan anda. Mereka memang terkesan memikirkan hal yang sama, padahal tidak sama. Bukankah tidak mau hidup miskin sama dengan hidup dalam kelimpahan? Bukankah hidup tidak menderita sama dengan hidup senang atau bahagia? Secara bahasa, apa yang mereka nyatakan memang artinya sama. Tapi secara kerja pikiran, kedua pernyataan itu bertolak belakang. Lho, koq bisa?

Sekarang saya ingin bermain dengan pikiran anda sejenak. Coba anda lakukan hal berikut ini. Saya ingin anda untuk tidak memikirkan seekor gajah warna merah muda. Sekali lagi, saya minta anda tidak memikirkan gajah warna merah muda. OK! Berhenti sejenak. Lakukan eksperimen kecil ini. Setelah itu baru anda boleh meneruskan membaca.

Bila anda melakukan dengan benar apa yang saya minta maka pikiran anda malah memikirkan seekor gajar warna merah muda. Mengapa bisa terjadi demikian? Bukankah perintahnya tadi adalah anda diminta tidak memikirkan gajah merah muda?

Inilah perbedaan kerja bahasa dan kerja pikiran. Secara struktur kalimat, instruksi yang saya berikan sudah benar. Namun tidak demikian bila instruksi ini mau dilaksanakan oleh pikiran. Bahasa mengenal negasi. Pikiran tidak. Kalimat ”tidak memikirkan” secara kaidah bahasa memang berarti ” tidak boleh memikirkan atau jangan memikirkan”. Namun di pikiran, untuk bisa menegasi suatu pernyataan maka yang terjadi adalah harus terlebih dahulu muncul ”sesuatu” untuk kemudian dinegasi.

Dalam contoh yang saya berikan, untuk bisa ”tidak memikirkan gajah merah muda”, maka yang terjadi di pikiran adalah:

1. pikiran harus memunculkan gambar gajah warna merah muda

2. baru setelah itu pikiran akan menegasi gajah merah muda

Namun, begitu gambar gajah merah muda telah muncul di pikiran maka efek negasi tidak berlaku. Artinya, gambar gajah merah muda itu akan tetap berada di dalam pikiran. Semakin dominan pikiran itu maka semakin kuat pengaruhnya pada diri seseorang.

Hal ini sama efeknya dengan orangtua yang ”memotivasi” anaknya, yang malas belajar, dengan kalimat, ”Nak, jangan malas. Kalau malas kamu nggak bisa sukses”. Apa yang terjadi? Anaknya justru tambah malas dan tambah sulit sukses. Demikian juga saat orangtua mendorong anak untuk rajin bangun pagi dengan, ”Kalau bangun jangan suka telat. Jangan suka bangun siang. Nanti bisa telat masuk sekolah.” Apa yang terjadi? Anaknya tetap bangunnya telat. Mengapa bisa demikian?

Komunikasi mengandung tiga hal. Pertama adalah ide, kedua adalah gambaran mental, dan yang ketiga adalah emosi. Saat orangtua berkata jangan bangun telat, maka ini adalah ide. Selanjutnya dalam pikiran akan muncul gambar orang yang bangun telat. Setelah itu muncul emosi. Kalau emosi yang muncul adalah ia merasa enak kalau tidur sampai siang, maka kebiasaan ini akan semakin kuat.

Untuk dapat benar-benar bisa mengendalikan pikiran kita harus menyadari bahwa kita dan pikiran kita adalah dua hal yang berbeda. Dengan kata lain, kita menggunakan pikiran namun pikiran bukanlah diri kita. Diri kita adalah sebuah kesadaran yang menggunakan pikiran sebagai alat untuk menghasilkan buah pikir. Kesadaran ini merupakan langkah awal untuk mengendalikan pikiran. Untuk mudahnya anda cukup mengingat tiga hukum pengendalian pikiran berikut:

Hukum pengendalian pikiran yang pertama berbunyi: Buat pikiran anda memikirkan apa yang anda ingin pikirkan.

Pikiran selama ini telah dengan sangat bebas memikirkan apapun yang ”ia” inginkan. Dengan demikian selama ini pikiran yang mengendalikan diri anda. Sekarang, setelah menyadari hal ini, anda perlu membalik prosesnya, kenali bahwa pikiran hanyalah merupakan suatu aktivitas, yang dapat berjalan sesuai dengan keinginan anda. Untuk dapat mengendalikan pikiran, anda harus disiplin dalam menjalankan hukum pertama ini. Belajarlah untuk mengatur pikiran seperti anda menjalankan sebuah mesin. Anda dapat menyalakan atau mematikan menurut keinginan anda.

Hukum pengendalian pikiran yang kedua berbunyi: Buat pikiran anda berpikir saat anda menginginkannya berpikir dan berhenti berpikir saat anda menginginkannya berhenti.

Bagi kebanyakan orang pikiran mereka dapat melakukan apa saja, meskipun tanpa persetujuan mereka, sehingga pikiran yang menentukan apa yang akan ia pikirkan. Akibatnya, pikiran yang muncul sering kali tidak terkendali dan mengakibatkan pikiran yang kacau. Untuk mengatasi hal ini anda harus bisa menjadi tuan dari pikiran anda, bukan sebaliknya. Gunakan pikiran saat anda ingin menggunakannya dan tidak menggunakannya saat anda tidak ingin menggunakannya. Dengan kata lain, anda harus belajar untuk bisa membuat pikiran menjadi tenang saat anda menginginkannya tenang.

Hukum pengendalian pikiran yang ketiga berbunyi: Menjadi pengamat dari pikiran yang anda pikirkan.

Semakin ahli anda dalam memainkan peran sebagai pengamat dalam mengamati pikiran maka anda akan semakin mampu menguasai pikiran. Mainkan peran pengamat dalam setiap bentuk kegiatan mental yang anda lakukan. Jadikan hal ini sebagai sebuah kebiasaan. Bila anda mampu menjadikan peran pengamat sebuah kebiasaan, maka kebiasaan ini akan sangat membantu mengembangkan kemampuan persepsi anda. Selanjutnya anda akan mampu mengendalikan pikiran dan berpikir secara sadar.

Pada mulanya, keadaan pikiran orang pada umumnya relatif tidak terstruktur, obyektif, fleksibel, dan terbuka terhadap pengalaman belajar baru. Seiring berjalannya waktu, kondisi ini perlahan tapi pasti berubah menjadi semakin kaku, bias, dan sulit menerima persepsi, pembelajaran, atau respon yang tidak dapat diterima oleh struktur sebelumnya. Pada akhirnya, seluruh ruang lingkup kesadaran pikiran sadar didikte dan tunduk pada kerangka berpikir yang tadinya dibentuk sebagai landasan untuk mengembangkan kemampuan berpikir itu sendiri.

Pikiran sadar atau rasional sebenarnya merupakan pikiran yang paling tidak rasional. Mengapa demikian? Pikiran rasional, berdasarkan kesan yang diterimanya melalui perspektif yang terbatas, membentuk struktur-struktur yang kemudian menentukan apa yang akan diterima dan ditolaknya secara bebas. Mulai saat itu tidak peduli bagaimana dunia berjalan, pikiran rasional akan mengikuti aturan yang diciptakannya sendiri dan mencoba memaksa dunia mengikuti aturan itu. Celakanya lagi, kita menggunakan pikiran sadar untuk berpikir, menganalisis, mensistesis, dan mengevaluasi.

Saya ingin mengakhiri artikel ini dengan satu kutipan favorit saya sebagai berikut:

”I think, therefore I am”
Descartes

Bila diterjemahkan bebas artinya ”Saya berpikir, maka saya ada”. Sebaliknya ada pihak yang menentang pendapat Descartes dengan beragumentasi, “Saya ada, maka saya bisa berpikir”.

Nah, pertanyaan saya pada anda, manakah yang benar ”Saya berpikir, maka saya ada”, ataukah ”Saya ada, maka saya bisa berpikir”?

Selamat berpikir !!

 

 

January 12, 2007

Mitos Motivasi : Antara Harapan dan Kenyataan

Minggu lalu beberapa orang kawan dari sebuah bank nasional ternama mengajak saya makan siang sambil mendiskusikan detil acara yang akan mereka laksanakan, di mana saya adalah pembicara di acara tersebut. Saat menunggu makanan kawan saya, yang kebetulan adalah seorang Area Manager, bertanya, �Pak Adi apa bisa memberikan seminar motivasi?�

�Maksudnya?� saya balik bertanya.

�Kami pernah mengundang pembicara untuk memberikan motivasi bagi staff kami. Apa Bapak juga bisa memberikan seminar motivasi untuk membangkitkan semangat staff?� tanyanya lagi.

Sebelum menjawab pertanyaan kawan saya ini, saya bertanya, �Apa yang Ibu harapkan dari seminar motivasi?�

�Kami ingin semangat kerja staff kami meningkat. Namun selama ini motivasi yang mucul setelah mengikuti seminar tidak bisa bertahan lama. Paling lama satu-dua hari. Setelah itu semangat kerja kembali ke keadaan semula seperti saat sebelum mengikuti seminar. Saya sendiri sudah sangat sering menghadiri berbagai seminar motivasi. Biasanya kalau saat seminar, motivasi saya akan sangat tinggi. Tapi satu dua hari setelah seminar, motivasi saya gembos seperti balon kehabisan udara. Mengapa bisa begini ya, Pak?� kejar kawan saya dengan penasaran.

Pernahkah anda mengalami seperti yang diceritakan kawan saya ini? Saya sendiri telah mengalaminya. Kesulitan yang selalu ditemui setiap peserta seminar motivasi adalah motivasi yang mereka dapatkan di seminar tidak bisa bertahan lama. Mengapa ini terjadi ? Apakah ada cara untuk bisa mempertahankan motivasi ? Kalau ada, bagaimana caranya? Saya mulai aktif menghadiri berbagai seminar motivasi sejak tahun 1994. Saya membaca sangat banyak buku motivasi, mendengarkan ratusan kaset seminar motivasi, dan bahkan sampai beberapa kali mengikuti seminar motivasi yang lamanya dua hari, di luar negeri, yang dihadiri lebih dari 35.000 (tiga puluh lima ribu) orang dalam satu stadion. Saat di seminar biasanya saya membuat �keputusan besar� untuk sukses, untuk berubah, untuk ini, untuk itu, dan masih banyak �keputusan besar� yang lain. Namun apa yang terjadi setelah itu? Semangat yang begitu menggebu-gebu dengan cepat hilang tak berbekas dan saya kembali seperti diri saya sebelum menghadiri seminar motivasi itu.

Pertanyaannya sekarang adalah, �Apakah pembicara motivasinya tidak mampu memotivasi audiensnya?�.Wah, kalau soal memotivasi, mereka sungguh luar biasa. Saya katakan �mereka� karena yang berbicara di seminar motivasi selama dua hari itu adalah para pembicara kaliber internasional. Mereka adalah figur sukses yang menjadi contoh bagi banyak orang. Mereka telah berhasil mengubah hidup mereka dari orang biasa menjadi luar biasa. Mereka sukses secara finansial dengan income 6 digit, dan ini dalam dollar Amerika bukan rupiah.

Mereka banyak membantu orang lain, keluarganya bahagia, kondisi mental dan fisik sangat prima. Mereka adalah orang yang walk the talk. Bukan sekedar talk the talk seperti kebanyakan orang. Namun mengapa motivasi saya masih tetap seperti yo-yo? Sebentar naik, sebentar turun? Padahal saya sudah dimotivasi oleh pembicara yang sangat luar biasa?

Cukup lama saya mencari jawaban atas pertanyaan ini. Dalam upaya mencari jawaban atas pertanyaan ini saya terus menghadiri berbagai seminar motivasi. Saya membandingkan style pembicara satu dengan pembicara lainnya. Saya mengajak diskusi dan bertukar pikiran dengan sesama peserta seminar. Diakui oleh peserta seminar, ada pembicara yang sangat bagus memotivasi audiens sehingga motivasi bisa bertahan lama. Ada yang motivasinya hanya bisa bertahan satu atau dua hari. Dari perbandingan yang saya lakukan saya mendapatkan satu pola yang konsisten. Pembicara motivasi yang mampu memotivasi audiens dengan baik, sehingga audiens tetap bersemangat untuk waktu yang lama, mempunyai kelebihan tersendiri. Meskipun demikian, motivasi ini tidak dapat bertahan seterusnya. Cepat atau lambat, seperti yang telah saya alami, motivasi ini akan berkurang dan akhirnya habis… bis…. seperti balon yang kehabisan udara.

Apa sebabnya? Motivasi yang didapat saat mengikuti seminar adalah motivasi yang berasal dari luar atau motivasi ekstrinsik. Motivasi jenis ini tidak bisa bertahan lama. Untuk berubah dan mencapai sukses kita harus mempunyai motivasi yang tumbuh dari dalam (intrinsik). Pembicara motivasi yang lihai adalah pembicara yang mampu menimbulkan motivasi intrinsik dalam diri audiensnya dan mengajarkan cara mempertahankan motivasi itu, setelah audiens pulang ke rumah dan menjalani kehidupan sehari-hari yang penuh tantangan. Jika audiens tidak diajarkan cara memelihara dan mempertahankan motivasinya maka motivasi itu pasti gembos dengan sendirinya.

Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang datang dari luar dan bersifat sementara. Motivasi eksternal membuat kita sangat bersemangat, pada saat di seminar, namun tidak bisa membuat semangat itu bertahan lama. Motivasi eksternal dapat mempengaruhi kita untuk melakukan perubahan namun tidak bisa membuat perubahan bagi kita.

Mungkin anda akan bertanya, �Mengapa motivasi yang berasal dari luar tidak dapat bertahan lama?� Ini semua berhubungan dengan program pikiran. Motivasi eksternal membuat kita berpikir, dan ini adalah kerja pikiran sadar, bahwa kita dapat melakukan apa saja untuk mencapai semua impian hidup kita. Kita tentu ingin percaya bahwa kita bisa mencapai goal kita. Namun program pikiran, yang mempengaruhi 90% kemampuan berpikir kita, berkata lain, �Ah…. goal itu nggak masuk akal. Saya nggak mungkin bisa mencapainya. Saya sudah gagal berulang kali. Latar belakang saya berbeda dengan si pembicara. Saya punya banyak masalah dan hambatan. Saya nggak bisa ini…. nggak bisa itu… Tentu saya akan sangat sulit berhasil.�

Kembali saya ulangi pertanyaan, �Mengapa motivasi yang berasal dari luar tidak dapat bertahan lama?� Karena motivasi eksternal hanya mampu membuat perubahan yang bersifat sementara. Motivasi eksternal bekerja tidak sejalan dengan prinsip kerja otak dan pikiran bawah sadar.

Lalu, bagaimana caranya untuk bisa menghasilkan perubahan yang permanen? Inilah rahasianya. Empowerment atau peningkatan diri bukanlah hasil dari proses kerja pikiran sadar. Empowerment adalah suatu pengalaman pribadi yang kita alami karena pikiran bawah sadar berhasil mencapai goal dan kemudian pengalaman ini naik ke level pikiran sadar dalam bentuk perasaan �in control� terhadap hidup kita.

Kita bisa �mencoba� untuk merasa berubah. Kita bisa menggunakan kekuatan kehendak (will power) kita. Kita bisa datang ke berbagai seminar, membaca berbagai buku, mendengarkan kaset-kaset motivasi, dan setelah itu, untuk beberapa saat, kita merasa lebih mampu mengendalikan diri dan lebih fokus. Meskipun demikian kita tetap tidak bisa berubah atau mengalami empowerment bila tidak mendapat dukungan pikiran bawah sadar kita.

Inti perubahan adalah kita harus mengganti program-program negatip yang ada di pikiran bawah sadar kita dengan program yang positip. Saat kita termotivasi untuk berubah kita memutuskan untuk meng-uninstall program negatip. Namun kita tidak diajarkan, di seminar motivasi itu, bagaimana cara untuk meng-install program positip.

Mengapa kita perlu mengganti program negatip dengan yang positip? Karena program mental yang ada di pikiran bawah sadar adalah program lama � program yang akan menolak setiap informasi yang tidak sejalan dengan informasi yang telah tersimpan sebelumnya. Sesuai dengan cara kerja pikiran, semakin lama suatu program �menetap� di pikiran bawah sadar maka semakin kuat program itu. Salah satu hukum penting yang berhubungan dengan pikiran yaitu bila terjadi konflik antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar maka yang menang adalah pikiran bawah sadar.

Satu hal yang luar biasa mengenai program ini adalah bahwa setiap program bertindak seperti mahluk hidup yang mempunyai kehidupan sendiri. Saat kita akan mengganti program lama dengan yang baru, program lama ini akan melawan dengan segala cara untuk bisa bertahan �hidup�. Itulah sebabnya mengapa orang biasanya sulit untuk melakukan perubahan.

Seorang pakar di bidang pikiran, yang bukunya baru-baru ini saya baca, malah mengatakan bahwa pikiran bawah sadar bekerja mirip dengan suatu jaringan komputer (network) yang terdiri dari sangat banyak komputer (baca: proses berpikir/program). Setiap komputer ini ada yang saling berbagai resource dan ada yang menutup diri tidak mau berbagi resource. Setiap komputer ini saling mempengaruhi.

Satu kisah menarik saya alami saat saya membantu seorang kawan memprogram ulang pikirannya. Selang beberapa saat, saya didatangi kawan saya ini dan sambil menangis ia berkata, �Pak, saya merasa diri saya saat ini bukanlah diri saya yang sesungguhnya. Namun di sisi lain saya merasakan ada sesuatu yang baru dalam diri saya. Seakan-akan ada dua bagian dalam diri saya yang saling tarik ulur, saling bertempur. Ada apa yang dengan diri saya?�

Saya lalu menjelaskan bahwa ini adalah sesuatu yang normal. Saya pernah mengalami keadaan ini. Kawan saya yang lain juga pernah. Saya kemudian meminta ia meneruskan programming-nya. Jika ia terus bertahan dengan program barunya maka program ini akan semakin kuat dan akhirnya akan mengalahkan pengaruh program yang lama. Seminggu kemudian ia memberikan laporan bahwa ia sudah merasa jauh lebih baik dan program barunya yang menang.

suk ke pikiran bawah sadar yaitu repetisi, identifikasi kelompok/keluarga, informasi yang disampaikan oleh figur yang dipandang mempunyai otoritas, emosi yang intens, dan hipnosis. Kita bisa menggunakan satu cara saja atau kombinasi dari beberapa cara sekaligus. Begitu kita dapat masuk ke pikiran bawah sadar maka akan sangat mudah untuk melakukan perubahan atau modifikasi program.

Pemrograman ulang bawah sadar ada banyak cara. Yang pertama adalah dengan mengubah self-talk kita (untuk self-talk, saya akan bahas di artikel tersendiri). Cara lain adalah dengan visualisasi kreatif, kisah sukses, simbol sukses, dan self-hypnosis. Yang lebih rumit adalah dengan bantuan seorang hipnoterapis yang berpengalaman. Khusus untuk hipnoterapi saya sarankan agar anda mencari orang yang benar-benar kompeten agar jangan sampai terjadi kesalahan prosedur terapi. Salah satu cara pemrograman ulang pikiran bawah sadar yang cukup efektif adalah seperti yang dilakukan oleh kawan saya, seorang motivator berbasis NLP, Tommy Siawira, dengan Fire Walk Experience. Pengalaman berjalan di atas bara api, yang mana pikiran sadar merasa tidak mungkin untuk dilakukan namun ternyata bisa, memberikan efek luar biasa untuk mengubah program di pikiran bawah sadar. Efek perubahan diperkuat lagi dengan konseling yang biasa Tommy berikan sehingga peserta seminarnya tahu apa yang harus dilakukan untuk bisa tetap mempertahankan motivasi mereka.[]

 

 

 

Kuburan : Tempat Terkaya di Dunia

Life is a daring adventure or nothingHelen Keller

Saat anda membaca kata �kuburan� apa yang muncul dalam pikiran anda? Apakah anda akan langsung teringat orang-orang yang anda kasihi yang telah lebih dulu meninggalkan dunia ini? Atau anda teringat film tentang Drakula, Vampire, Kuntilanak, Forever Night, Simanis Jembatan Ancol, Pemburu Hantu, Dunia Lain, Suara Kubur, atau gambaran lain yang lebih menyeramkan? Atau mungkin yang muncul dalam pikiran anda adalah gundukan tanah dengan batu nisan di ujungnya?

Bila saya mendengar kata kuburan maka yang muncul dalam pikiran saya adalah suatu tempat yang paling kaya di dunia ini. Lho, kok bisa begitu? Benar, saya melihat gundukan tanah dan batu nisan yang bertuliskan nama, tanggal lahir � tanggal meninggal. Namun yang lebih saya perhatikan adalah garis kecil yang memisahkan tanggal lahir dan tanggal meninggal. Mengapa? Karena garis kecil inilah yang sebenarnya jauh lebih penting dari pada tanggal lahir atau tanggal meninggal seseorang. Garis kecil ini menggambarkan kehidupan yang telah dilalui seorang manusia, apa yang telah ia lakukan dalam hidupnya, apa yang ia lakukan dengan hidupnya, prestasi apa saja yang telah ia capai baik untuk dirinya sendiri, untuk keluarganya, untuk masyarakat, dan untuk umat manusia.

Garis kecil ini merupakan jawaban dari suatu pepatah bijak yang saya dengar bertahun-tahun lalu, yang masih sangat kuat mengiang di hati saya hingga saat ini, �God�s gift to you is your life. What you do with your life is your gift back to God�.

Mengapa saya mengatakan bahwa kuburan adalah tempat terkaya di dunia? Karena ada begitu banyak orang yang sebenarnya tidak hidup selama mereka hidup, hanya sekedar �ada� atau �exist�, hingga mereka meninggal.

Lha, kalau mereka tidak hidup lalu apakah mereka telah meninggal? Bukan. Kebanyakan orang hanya sekedar �hidup � hidupan�. Mengutip yang dikatakan Benjamin Franklin, �Most men die from the neck up at age 25 because they stop dreaming�.

Saya sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh Benjamin Franklin. Dan saya ingin menambahkannya menjadi, �Most men die from the neck up at age 25 not because they stop dreaming but because they don�t have the courage, passion ,commitment, and burning desire to pursue their worthwhile dreams while they are awake and alive�.

Seorang guru spiritual pernah berkata, �Dalam hidup ada kehidupan. Kita harus menghidupkan kehidupan ini agar kita benar-benar hidup di dalam hidup kita, tidak sekedar hidup-hidupan. Setelah kita benar-benar hidup, mengerti hidup, mengapa kita hidup, dan untuk apa kita hidup, baru kita dapat membantu orang lain untuk menghidupkan kehidupan mereka sehingga mereka benar-benar hidup di dalam kehidupan mereka�.

Kuburan adalah tempat terkaya di dunia karena ada begitu banyak orang yang meninggal dengan membawa impian-impian besar mereka yang belum terwujud, ke dalam kubur. Mereka menyimpan semua harapan dan impian mereka tanpa mampu, sempat, atau berani mewujudkan impian mereka. Ada banyak faktor yang menyebabkan orang tidak hidup sesuai dengan potensi mereka. Ada banyak pencuri impian yang berkeliaran di sekitar kita, yang senantiasa siap mencuri impian-impian kita.

Dalam berbagai kesempatan saya berinteraksi dengan orang, saya selalu melakukan survei kecil-kecilan. Apa yang saya tanyakan? Saya berusaha mencari tahu benang merah antara bidang pekerjaan atau karir yang mereka kerjakan sekarang dengan latar belakang pendidikan formal atau bidang keunggulan mereka. Hasilnya? Selalu membuat hati saya sedih.

Hampir semua, saya ulangi hampir semua, orang yang saya temui ternyata melakukan pekerjaan yang berbeda atau tidak sejalan dengan disiplin ilmu yang mereka pelajari saat masih kuliah. Ada sarjana arsitek atau teknik sipil yang jadi debt collector. Ada lulusan luar negeri yang buka depot atau catering. Ada sarjana teknik kimia yang jadi guru Play Group/TK. Ada sarjana teknik mesin yang jadi sales mobil atau agen asuransi dan masih banyak contoh lain.

Saya sering menjumpai orangtua dan orang tua yang berkata, �Coba dulu saya melakukan… pasti keadaan hidup saya berbeda�, �Saya menyesal setelah kini sadar ternyata impian saya yang sesungguhnya adalah…� Apakah anda pernah bertemu dengan orang-orang seperti ini?

Saya juga sering bertemu dengan orang yang dulunya begitu bersemangat mengenai masa depan mereka, impian-impian mereka, dan hidup mereka, ternyata setelah sekian tahun kemudian, saya tidak lagi melihat passion atau gairah hidup yang dulu pernah ada di dalam diri mereka. Saat saya bertanya mengenai hal ini jawaban mereka biasanya, �Yah… kita harus realistis. Ekonomi sekarang lagi sulit. Dapat kerja atau bisa cari makan saja sudah syukur. Nggak usah macam-macam lah.�

Setelah membaca cerita saya sejauh ini mungkin anda akan bertanya, �Kalau begitu Pak Adi pasti tidak termasuk orang-orang yang diceritakan di atas?� Anda salah. Saya juga termasuk orang yang pernah salah jurusan. Impian-impian saya sempat hampir padam. Namun saya bersyukur karena saya dapat segera sadar dan segera menyusun ulang program hidup saya. Saya juga pernah tersesat. Besar harapan saya, setelah anda membaca cerita saya, anda bisa saya sesatkan kembali ke jalan yang benar.

Lalu bagaimana caranya untuk bisa mengetahui impian kita yang sesungguhnya? Butuh waktu untuk melakukan perenungan mendalam. Impian hidup hanya bisa ditemukan melalui serangkaian proses perjalanan pencarian ke dalam diri (inner journey). Impian ini hanya bisa didapatkan bila kita sungguh-sungguh bangun, sadar, dan mencarinya secara sadar. Impian setiap orang berbeda. Namun bila impian itu berasal dari lubuk hati terdalam, maka esensi setiap impian hidup pasti akan sama dan sangat mulia. Karena impian bersifat sangat pribadi maka saya tidak akan membahasnya dalam artikel ini. Yang akan saya bahas adalah potensi diri atau bidang keunggulan kita.

Setelah menemukan impian hidup barulah kita menentukan strategi untuk mencapainya. Untuk itu, kita perlu mengenal potensi diri. Yang saya maksudkan dengan potensi diri adalah kekuatan atau bidang keunggulan kita. Untuk menemukan bidang keunggulan atau potensi diri yang sesungguhnya maka kita perlu, untuk sementara waktu, melupakan semua pendidikan formal yang pernah kita jalani. Lakukan analisa diri dengan cermat dan jujur.

Bidang pekerjaan yang kita lakukan saat ini belum tentu sejalan dengan potensi diri yang menjadi keunggulan kita. Lalu bagaimana caranya untuk mengetahui bidang keunggulan kita? Kawan karib saya, Paulus Winarto, memberikan resepnya dengan sangat gamblang, seperti yang saya kutip di bawah ini:

1. Kita menyukai pekerjaan/aktivitas tersebut
2. Kita mau melakukan pekerjaan/aktivitas tersebut meski tidak dibayar
3. Kita merasakan mudah melakukannya sedangkan orang lain merasa sulit
4. Semakin sering kita melakukannya maka semakin baik kita dalam bidang ini
5. Kita sering dipuji orang karena melakukannya (pekerjaan ini mampu kita lakukan dengan baik)
6. Kita selalu bersemangat saat membicarakan pekerjaan/aktivitas tersebut
7. Kita selalu bersemangat dan memiliki energi yang besar saat melakukan pekerjaan/aktivitas tersebut
8. Kita sering lupa waktu saat melakukan pekerjaan/aktivitas tersebut
9. Kita merasa puas ketika melakukan pekerjaan/aktivitas tersebut
10. Kita merasa bangga saat melakukan pekerjaan/aktivitas tersebut
11. Kita mudah mempengaruhi orang dalam bidang pekerjaan/aktivitas tersebut

Ada seorang kawan saya yang memiliki latar belakang pendidikan akuntansi namun bekerja di bagian purcashing/pembelian. Saat ditanya apa pelajaran favoritnya saat di SMA ia menjawab, �Saya sangat suka bahasa Inggris. Saya selalu mendapat nilai sangat tinggi dalam bidang studi ini.� Saat ditanya mengapa ia memilih jurusan akuntansi, ia menjawab, �Saya ambil jurusan akuntansi karena dulu saya pikir jurusan ini menjanjikan masa depan yang baik. Hasil tes minat dan bakat saya sebenarnya lebih condong ke aspek bahasa.�

Kisah lainnya adalah tentang kawan saya, Lina. Kawan saya ini telah menggeluti dunia desain pakaian selama lebih dari 15 tahun. Ia selalu berkata bahwa passion-nya adalah di dunia mode. Benarkah demikian? Ternyata kalau saya cek dengan 11 kriteria di atas maka dunia mode bukanlah bidang keunggulannya. Mengapa? Karena selama lebih dari 15 tahun dia tidak berkembang. Semakin banyak job yang ia dapatkan maka semakin stres dirinya. Bahkan sampai jatuh sakit.

Saya menyarankan ia untuk beralih profesi dengan mengembangkan diri sejalan dengan bidang keunggulannya. Kembali Lina beralasan bahwa dunia mode adalah dunianya. Di samping itu semua kawannya sudah mengenal dirinya sebagai desainer pakaian. Sayang kalau harus meninggalkan dunia ini karena sudah digeluti lebih dari 15 tahun.

Lalu, siapakah orang yang �menyesatkan� kita sehingga kita melakukan pekerjaan yang bukan bidang keunggulan kita? Bisa lingkungan, bisa orangtua, bisa pihak sekolah, bisa siapa saja. Mereka adalah orang yang sebenarnya bertujuan baik namun masih menggunakan paradigma lama. Hal ini akan membuat seorang anak tumbuh dewasa tanpa mampu atau sempat mengembangkan potensi mereka yang sesungguhnya.

Sering kali bidang keunggulan seseorang �dibelokkan� oleh orangtua, teman, guru, atau orang yang dipandang mempunyai otoritas sehingga seorang anak, yang nantinya akan menjadi pribadi dewasa, akhirnya yakin dan mengembangkan diri tidak sejalan dengan potensinya yang sesungguhnya.

Kawan saya, Ariesandi Setyono, lima tahun lalu, pernah membantu seorang anak SMU, sebut saja Agus, untuk menemukan bidang keunggulannya. Agus berasal dari keluarga kurang mampu. Ayahnya terkena stroke dan ibunya kerja serabutan untuk menghidupi keluarganya. Agus adalah anak laki paling besar yang diharapkan menjadi tulang punggung keluarganya.

Saat Aries bertanya, �Apa hobi atau kegiatan yang sangat suka kamu lakukan?� �Saya sangat suka merangkai bunga,� jawab Agus cepat. �Ok, kalau begitu, karena orangtuamu tidak akan mampu membiayai kamu kuliah, maka sebaiknya kamu belajar di Florist dan mendalami hobimu untuk dijadikan sumber uang,� jelas Aries.

Agus benar-benar menjalankan apa yang Aries sarankan. Agus tidak kuliah dan begitu tamat SMU, dengan meminjam uang dari ibunya, langsung belajar merangkai bunga di sebuah Florist terkenal di Surabaya. Hasilnya? Tahun lalu, saat Agus masih berusia 23 tahun, ia telah berhasil membeli satu unit ruko di lokasi yang strategis seharga Rp650 juta tunai. Ia juga mampu membeli mobil baru, seharga lebih dari Rp100 juta, secara tunai. Yang paling penting adalah ia mampu menjadi tulang punggung keluarganya dalam hal finansial.

Anda pasti bertanya bagaimana si Agus ini kok bisa begitu berhasil? Ternyata dari hobinya merangkai bunga Agus kemudian �melarikan� kecakapannya ini ke bidang wedding decoration. Hebatnya lagi Agus membidik segmen pasar kelas atas yaitu hanya menerima dekor pengantin di hotel bintang lima. Apa yang Agus lakukan pasti akan sangat maksimal karena usahanya dilakukan sejalan dengan bidang keunggulannya. Kabar terakhir yang kami dengar tentang Agus yaitu jadwalnya untuk setahun sudah penuh. Ck..ck…ck… luar biasa anak muda ini.

Bagaimana dengan anda, para pembaca yang budiman? Apakah anda sudah mengembangkan potensi anda yang sesungguhnya? Apakah anda selama ini hanya menjalani rutinitas pekerjaan yang bukan di bidang keunggulan anda?

 

 

Nikmatnya kebiasaan

Nikmatnya Kebiasaan

Rimbabuntu, Beberapa waktu lalu, saya pernah ditanya sama teman saya saat disibukkan dengan pekerjaan saya di depan komputer. Saya lupa harinya tapi saya ingat saat itu pukul 14.30 wib. Dia bertanya, "Kamu dah sholat?" Saya langsung terhenyak. Konsentrasi pekerjaan saya buyar seketika. "Oh ya saya lupa." Sayapun bergegas ke musholla untuk sholat.

"Saya lupa". Entah sudah berapa ribu kali saya mengulang kata2 tersebut. Mungkin benar "saya lupa", atau mungkin saya sengaja menunda sholat sehingga akhirnya "saya lupa", atau mungkin saya memang ngga niat untuk sholat. Waktu itu saya akui kalau saya lebih memikirkan kebutuhan horizontal saya daripada vertical.

Setelah hari itu saya jadi heran dengan diri saya sendiri ketika saya jadi rajin sholat kembali meskipun hanya pada waktu di tempat bekerja karena tiap hari selalu ada saja salah satu dari teman saya yang menanyakannya. Dan ketika suatu hari tak ada yang bertanya jadi terasa aneh. Ada perasaan kehilangan yang celakanya saya dengan sadar kembali meninggalkan sholat.

Saya bertanya dalam hati, mengapa saya merasa kehilangan? Mengapa saya jadi rajin sholat ketika ada yang menanyakannya? Mengapa teman saya menyempatkan waktunya beberapa detik hanya untuk menanyakan sholat saya? Mengapa saya tidak dengan kesadaran diri melakukan ibadah agung ini tanpa menunggu ada yang menanyakan? dan masih banyak "mengapa" yang lain yang terus berkecamuk dalam pikiran saya.

Jawaban dari pertanyaan itu saya dapat ketika suatu malam di tengah-tengah pekerjaan saya, rokok saya habis dan saya selalu kebingungan jika hal itu terjadi. Namun pada saat itu bukan rokok yang habis yang saya pikirkan. Yang saya pikirkan adalah kebiasaan-kalau tak bisa disebut kecanduan- merokok saya, yang bila kehabisan akan merasa bingung, merasa kehilangan, merasa kecewa. Ya kebiasaan.
Terjawab sudah semua jawaban di atas. Saya rajin sholat karena terbiasa diingatkan. Teman-teman saya selalu menanyakan sholat saya karena mungkin terbiasa melihat temannya yang tidak sholat. Dan saya dengan sadar meninggalkan sholat karena saya tidak terbiasa sholat -untuk saat itu. Saat itulah saya mulai terbiasa bertanya pada diri sendiri setiap waktu, "Saya sudah sholat belum ya?" Dan sehabis bertanya begitu saya akan langsung mengambil air wudhu untuk sholat. Tenang dan nikmat sekali saya rasakan dalam hati. Nikmat sekali memiliki kebiasaan ini.

Dari sini ternyata PR saya masih banyak. Satu persatu saya harus berusaha membiasakannya. Membiasakan untuk tidur tepat waktu di malam hari. Membiasakan untuk datang ke kantor tepat waktu. Membiasakan merencanakan keuangan. Membiasakan makan teratur. Membiasakan peduli dengan sekitar, dan banyak lagi. InsyaAllah hidup ini akan terasa nikmat.

Satu catatan, saya sudah terbiasa berpakaian rapi di kantor lo.

Special thanks to ard, kul, tri, and zla.

ardi_doang

January 11, 2007

You Were Born Rich

Man’s mind mirrors a universe which mirrors man’s mind Joseph Chilton Pearce

Dalam perjalanan dari Surabaya ke Semarang minggu lalu saya sempat berbincang dengan seorang kawan lama. Setelah berbincang sesaat ia lalu menanyakan apa yang sekarang saya lakukan. Saya lalu menjelaskan mengenai kegiatan saya akhir-akhir ini sebagai ‘pria panggilan” dan “pria penghibur”.

Mendengar penjelasan ini mukanya langsung berubah. Dan saya tahu apa yang ada di pikirannya. Saya langsung meluruskan bahwa saya biasa ”dipanggil” untuk memberikan seminar/workshop dan cara saya membawakan sangat entertaining sehingga peserta biasanya betah duduk sampai 8 jam. Mendengar penjelasan ini kawan saya akhirnya manggut-manggut dan tersenyum menandakan ia mengerti.

Pembicaraan akhirnya berlanjut ke topik menarik yaitu mengenai sukses. Kawan saya ini berkeluh kesah bahwa sekarang susah cari uang. Ekonomi lagi sulit. Dia harus kerja ekstra keras untuk bisa mendapatkan income yang ia inginkan. Kawan saya ini seorang salesman di perusahaan peralatan listrik.

Sebenarnya tidak ada yang namanya ekonomi sulit bagi orang yang siap dengan perubahan. Ekonomi menjadi sulit karena kita tidak mampu melakukan adaptasi secara tepat dan cepat mengikuti perubahan keadaan.

Dalam setiap perubahan yang terjadi adalah polarisasi kemakmuran. Apa maksudnya? Uang atau aset yang ada di masyarakat jumlahnya sama sebelum dan pada masa ekonomi sulit terjadi. Yang terjadi sebenarnya adalah perpindahan kemakmuran dari suatu kelompok masyarakat ke kelompok masyarakat lainnya. Jadi, jumlah uang dan aset tetap namun pemiliknya berganti. Dengan kata lain orang kaya makin kaya dan orang miskin makin miskin.

Mendengar penjelasan ini kawan saya langsung protes, ”Lho, semua orang tahu kalo sekarang ini ekonomi makin sulit. Orang kaya makin kaya karena mereka menggunakan kekayaan mereka untuk menekan orang miskin sehingga mereka dapat memetik keuntungan yang sebesar-besarnya.”

”Tahu nggak mengapa kondisi keuangan kamu payah saat ini?” saya balik bertanya. ”Ya itu tadi, saat ini persaingan semakin ketat. Cari uang nggak gampang. Pokoknya sulit banget,” jawabnya cepat. ”Nah, ini dia alasannya mengapa kamu sulit cari duit,” jawab saya lagi.

Saya melihat kawan saya ingin protes lagi. Namun sebelum ia sempat berbicara saya langsung meneruskan dengan berkata, ”Coba dengar apa yang akan saya jelaskan. Nanti kalo sudah selesai baru kamu boleh komentar lagi. Ok?” ”Ok,” jawab kawan saya dengan penasaran.

Saya lalu menjelaskan, ”Mengapa orang sulit cari uang? Karena ada keyakinan atau blocking atau resistansi atau program negatip atau apapun istilah yang ternyata menghambat mereka dalam mencari uang. Saya mengerti bahwa sekarang ini cari uang itu sulit, bagi kebanyakan orang. Nah, mengapa nggak terpikir untuk membuat uang yang nyari kita? Kan lebih mudah kalo uang nyari kita dan ……..”

Tanpa memberikan saya waktu untuk menyelesaikan kalimat saya, kawan saya ini langsung memotong, ”Nggak masuk akal. Saya nggak pernah dengar ”uang nyari kita”. Yang benar adalah kita nyari uang.”

”Nah, itulah sebabnya mengapa kamu nggak bisa maju dan berkembang dalam aspek finansial. Kamu berpikiran negatip soal kemakmuran. Kamu bilang orang kaya itu nggak baik karena menyalahgunakan kekayaan mereka untuk menindas orang miskin,” jawab saya.

”Lho, saya nggak negatip soal orang kaya. Saya hanya tidak senang dengan cara mereka menggunakan kekayaan mereka dan cara mereka cari uang,” jawab kawan saya cepat, membela diri.

“Coba perhatikan kalimat kamu yang terakhir. Di sini tampak jelas bahwa ada muatan emosi negatip saat kamu bicara soal orang kaya, lebih tepatnya perasaan iri dan dengki. Coba kamu jujur memeriksa dirimu sendiri,” ujar saya.

Kawan saya lalu diam sejenak. Sambil menunggu ia berpikir saya lalu berkata, ”Tahukah kamu bahwa sebenarnya kita ini terlahir sebagai orang kaya. We were born rich.” Kali ini kawan saya nggak protes ataupun berkomentar. Ia malah meminta saya untuk menjelaskan maksud pernyataan saya.

Saya percaya bahwa Tuhan, ada yang menyebutnya dengan Supra Sadar atau Semesta Alam, sangat adil. Semua orang punya hak yang sama untuk bisa sukses. Pertanyaannya sekarang adalah mengapa nggak semua orang bisa sukses?

Ternyata ada sangat banyak faktor yang menghambat diri kita untuk sukses. Salah satunya adalah karena kita hidup tidak selaras dengan hukum alam. Diri kita, sebagai manusia, adalah mikro kosmos. Semesta alam adalah makro kosmos. Saat kita hidup tidak selaras dengan hukum alam maka saat itu kita mengalami ”bocking” sehingga sangat sulit untuk bisa berhasil.

Apa yang membuat mikro kosmos tidak selaras dengan makro kosmos? Salah satunya adalah sistem kepercayaan atau program negatip yang ada di dalam pikiran kita. Pada kasus kawan saya, secara tidak sadar, ia membenci orang kaya. Ia mempunyai persepsi yang negatip mengenai uang atau kemakmuran. Kepercayaan yang negatip ini berlaku sebagai suatu penghambat yang menghalangi dirinya untuk sukses.

Pada saat kita berhasil mengatasi mental block saat itu pula kita mampu menarik energi yang sangat besar dari Semesta Alam. Dengan selarasnya diri kita dengan makro kosmos maka kita tidak perlu cari uang. Uang yang akan mencari kita. Lha, kok bisa?

Sudah tentu bisa. Apa buktinya? Saat kita telah selaras dengan ”vibrasi” Semesta Alam, saat itu kita akan dapat mencapai tujuan atau cita-cita kita dengan sangat mudah. Akan ada banyak ”kebetulan” yang mengarahkan kita mencapai tujuan kita.

Misalnya? Kita akan bertemu dengan orang yang akan membantu kita. Kita akan secara ”kebetulan” mendapatkan informasi dari sumber yang tidak kita perhitungkan sebelumnya, yang ternyata mampu membawa kita ke tujuan yang kita ingin capai.

Saya melihat kening kawan saya berkerut, tanda ia sedang berpikir keras. ”Ada yang ingin kamu tanyakan?” tanya saya. ”Saya masih belum bisa menerima sepenuhnya konsep yang kamu sampaikan. Namun saya juga tidak menolak. Bisa lebih detil penjelasannya?” minta kawan saya.

Saya lalu menjelaskan, ”Pikiran itu bekerja seperti pemancar radio. Saat kita benar-benar menginginkan sesuatu, dengan intensitas emosi yang tinggi, maka seketika itu juga ”berita” ini terpancar ke seluruh alam. Saat itu frekwensi pikiran kita akan mencari berbagai kemungkinan untuk pencapaian target yang telah kita tetapkan. Besarnya daya pancar pikiran bergantung pada keyakinan kita. Kalau ada banyak mental block maka daya pancarnya kecil. Akibatnya? Area jangkauannya sempit. Mental block ini berfungsi sebagai penghambat energi (semesta) yang kita akses. Kalau mental block ini sangat minim maka daya pancarnya akan sangat kuat, sehingga area jangkauannya menjadi sangat luas. Dengan demikian kita mempunyai lebih banyak peluang untuk menarik atau menciptakan berbagai ”kebetulan” yang akan membantu kita sukses. Omong gampangnya, kita nggak usah cari uang. Uang yang akan nyari kita.”

”Masih tetap bingung dan kayaknya nggak masuk akal,” kawan saya berkomentar.

”Ini nggak masuk akalmu. Mengapa? Karena di data-base kamu nggak ada data seperti yang saya sampaikan. Benar, nggak?” saya langsung balik bertanya.

Saya lalu melanjutkan, ”Begini saja deh. Saya berikan contoh kasus yang mudah untuk kamu praktekkan. Nanti kalo pas malam minggu, coba kamu ke Mall. Cari jam sibuk di mana cari parkir sangat sulit. Nah, saat kamu mau berangkat ke Mall itu, tetapkan keinginan yaitu kamu mau mendapatkan satu tempat parkir yang nyaman. Setelah itu jangan lagi memikirkan mengenai hal ini. Nanti kamu lihat apa yang terjadi.”

”Apa yang akan terjadi?” tanya kawan saya dengan penasaran.

”Kalo kamu yakin sekali akan mendapatkan tempat parkir maka meskipun sangat padat pengunjung, kamu pasti akan dapat. Dapatnya juga secara ”kebetulan”. Pas kamu lewat ternyata di depanmu ada mobil yang keluar. Nah, saat itu kamu bisa langsung parkir. Ini bukan kebetulan lho. Ini adalah hasil kerja gelombang pikiranmu. Tapi kalo kamu, setelah menetapkan keinginan mendapatkan tempat parkir, mulai ragu karena berpikir bahwa akan sangat sulit mendapat tempat parkir, karena saat ini malam Minggu, saat padat-padatnya lahan parkir, maka keraguan kamu ini mengakibatkan kamu nggak akan dapat tempat parkir,” jawab saya.

”Apakah apa yang kamu jelaskan telah dibuktikan?” kawan saya kembali bertanya.

”Lha, saya sudah mempraktekkan dengan hasil yang sangat memuaskan. Saya mengajarkan orang lain melakukan hal ini dan mereka mendapatkan hasil yang sama. Kalo sudah dilakukan berkali-kali, oleh orang yang berbeda, di tempat yang berbeda, dengan hasil yang sama, apakah ini kebetulan?” saya balik bertanya.

”Tapi ini kan soal parkir. Kan nggak sama dengan kekayaan atau cari uang,” kembali kawan saya menunjukkan salah satu program negatipnya.

”Lha, apa bedanya antara cari lahan parkir dengan cari duit. Misalnya kamu mau menjual sesuatu. Saat kamu menetapkan keinginanmu dengan yakin, dengan catatan mental block-mu sudah diberesin lho, maka kamu akan bertemu dengan pembeli secara kebetulan. Yang membuat kamu nggak bisa melakukan hal ini karena kamu nggak yakin ini bisa berhasil. Dan bila kamu nggak yakin maka hasilnya ya nggak ada. Ada yang mengatakan bahwa keyakinan sebesar biji sesawi bisa memindahkan gunung lho,” jawab saya sedikit filosofis.

Mendengar penjelasan ini kawan saya kembali hanya bisa manggut-manggut dan tidak lagi berkomentar namun ia bertanya, ”Ok, kalo gitu apa yang harus saya lakukan?”

”Oh mudah, beresin dulu berbagai mental block-mu maka kamu akan mampu untuk selaras dengan vibrasi alam dan kamu akan dapat lebih mudah mencapai sukses,” jawab saya.

Saya lalu menjelaskan mengenai mengapa kita harus menulis impian-impian kita dan bagaimana hubungannya dengan cara kerja hukum alam. Sayang, saat diskusi menjadi semakin asyik, saya terpaksa mengakhiri mengakhiri pembicaraan karena ada boarding call.

Para pembaca yang budiman, kita sebenarnya terlahir dengan potensi menjadi orang sukses atau kaya. Yang menghambat diri kita selama ini adalah bahwa nilai hidup, belief system, karakter, kebiasaan berpikir, dan apa yang kita lakukan dalam hidup ternyata tidak selaras dengan hukum alam (Supra Sadar). Ketidakselarasan ini mengakibatkan timbulnya berbagai hambatan hidup yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Ada banyak kawan kami yang setelah berhasil mengatasi mental block mereka dan me-reprogram pikiran bawah sadar dengan program yang positip dan powerful mengatakan, ”Kami mengalami miracle. Belum pernah selama ini Kami merasakan bahwa hidup itu ternyata mudah. Kami bertemu dengan begitu banyak kebetulan yang secara ajaib mengarahkan kami pada pencapaian tujuan kami.”

Hal ini menjawab mengapa pada orang-orang tertentu, biar bagaimana buruk situasi ekonomi, mereka tetap bisa menghasilkan sangat banyak uang. Situasi ekonomi sama sekali tidak mempengaruhi mereka.

Mental block inilah yang selama ini tidak dapat kita bereskan hanya dengan membaca buku-buku positip atau mengikuti berbagai seminar motivasi. Hal ini pula menjawab mengapa ada begitu banyak orang yang hanya jadi penggembira di berbagai seminar. Saya sendiri dulunya seperti itu. Ternyata selama blocking ini nggak dibereskan maka suskes akan menjadi sangat sulit. Saya telah mengalaminya selama tujuh tahun. Saya membaca berbagai buku positip dan menghadiri berbagai seminar motivasi bahkan sampai ke luar negeri. Seorang kawan saya, yang juga sangat gemar membaca buku dan menghadiri berbagai seminar juga mengalami hal yang sama.

Bahaya “Berpikir” Positif

Dunia objektif muncul dari pikiran itu sendiri

-Buddha

Ide menulis artikel ini muncul saat saya berbincang dengan rekan saya, Ariesandi Setyono, saat mengevaluasi mekanisme pikiran. Kami mengevaluasi pengalaman hidup kami berdasarkan berbagai buku positif yang telah kami baca. Diskusi berjalan seru, sangat inspiring dan mind challenging.

Jujur saya akui bahwa tidak mudah untuk bisa benar-benar menjadi seorang pengamat atas belief system dan proses pikiran kami. Kami harus melepaskan keterikatan dan kemelekatan terhadap berbagai informasi dan konsep yang telah kami terima selama ini, yang kami yakini sebagai hal yang benar. Bill Gould, mentor kami selalu berpesan, ”You have to challenge everything, including your own belief system or assumptions. That’s the key to quantum leap in personal growth and consciousness expansion”.

Salah satu topik yang kita bahas dengan intens adalah mengapa berpikir positif justru semakin memperburuk kinerja seseorang. Topik ini menjadi materi yang menarik untuk didiskusikan karena kami sendiri telah mengalami efek negatip dari “berpikir” positif.

Benar. Anda tidak salah baca. Kami mengalami efek negatip dari ”berpikir” positif. Namun tolong jangan protes dulu. Saya menempatkan kata berpikir dalam tanda kutip. Apa maksudnya?

Sering kali kita merasa yakin, diyakinkan, atau asal percaya bahwa kita harus berpikir positif. Menurut berbagai buku dan motivator atau trainer berpikir positif baik bagi diri kita. Yang jarang diungkapkan adalah bahwa berpikir positif itu harus benar-benar tulus dan holistik.

Yang saya maksudkan dengan holistik adalah baik pikiran sadar maupun bawah sadar keduanya saling setuju, sinkron, kongruen dalam berpikir positif.

Ambil contoh orang yang menetapkan suatu target penjualan. Misalnya target bulan ini adalah 50% lebih tinggi dari bulan sebelumnya. Pikiran sadar kita ”percaya”, lebih tepatnya dipaksa untuk percaya, bahwa kita mampu mencapai target ini. Kita melakukan afirmasi setiap hari, menempel kata-kata positif di berbagai tempat, dan melakukan visualisasi. Apa yang terjadi?

Ternyata ada bagian dari diri kita yang menolak hal ini karena kenaikan target dianggap terlalu tinggi sehingga dirasa tidak mungkin bisa dicapai. Akibatnya kita tidak berhasil mencapai target ini. Namun kita tetap ”percaya” dan ”positive thinking” bahwa kita dapat mencapai apapun asal kita yakin. Bukankah ini yang diajarkan di hampir semua buku positif dan berbagai seminar motivasi?

Lalu apa yang kita lakukan? Kata orang, ”Kegagalan adalah sukses yang tertunda”, ”Tidak penting berapa kali kita jatuh yang penting adalah kita bangkit setiap kali kita jatuh”, ”Tidak ada namanya kegagalan, yang ada adalah hasil yang tidak kita inginkan”, dan masih banyak lagi kata-kata mutiara berkenaan dengan kegagalan. So….? Keep trying….. pokoke maju tak gentar, pantang menyerah.

Setelah dua bulan, tiga bulan, empat bulan, dan kita masih belum berhasil mencapai goal kita maka kita mulai merasa nggak enak. Tapi kita tetap berusaha berpikir positif. Why? Karena memang begitulah yang kita baca di buku-buku positif.

Lalu, mengapa ”berpikir” positif justru akan sangat berbahaya bagi diri kita? Pada kasus di atas, yang terjadi sebenarnya adalah kita, secara tidak sadar, telah mengedukasi pikiran bawah sadar bahwa kita sebenarnya memang tidak kompeten alias gagal. Lho, kok bisa begitu ? Lha, buktinya kita sudah berkali-kali tidak berhasil mencapai target. Pikiran sadar kita dapat kita paksa untuk berpikir positif. Namun pikiran bawah sadar kita tidak bisa kita bohongi. Setiap kali kita gagal mencapai goal maka pikiran bawah sadar diedukasi dengan suatu pelajaran negatip, ”Ternyata memang saya nggak bisa mencapai goal ini”. Dengan mengalami kegagalan beruntun maka efek repetisi terjadi (ingat prinsip pemrograman pikiran). Dan kita, secara bawah sadar, semakin percaya bahwa kita memang tidak mampu.

Kalau anda tidak percaya apa yang saya jelaskan coba anda rasakan perasaan anda saat saya berkata, ”Set Goal”. Bagaimana perasaan anda saat anda melakukan Goal Setting. Apakah yang muncul perasaan positif atau negatip?

Dari pengalaman saya, kata ”goal setting” ternyata mempunyai konotasi negatip. Mengapa ? Karena kata ini mengingatkan kita akan kegagalan kita. Banyak kawan saya yang secara jujur berkata, ”Sekarang kalau saya diminta set goal maka perasaan saya langsung menolak. Ada perasaan nggak enak di hati saya. Nggak tahu kenapa bisa seperti ini”.

Sebenarnya jawabannya sederhana. Goal karena terlalu sering tidak berhasil dicapai akhirnya mempunyai konotasi negatip. Kita secara bawah sadar menghubungkan/meng-anchor kata goal setting dengan perasaan gagal. Jadi setiap kali kita mendengar kata ”goal setting” maka yang muncul adalah memori atau pengalaman kita saat gagal (berkali-kali) dalam mencapai goal kita.

Jadi, semakin seseorang berusaha untuk positif maka semakin negatip ia jadinya. Mengapa bisa begini? Karena memori manusia bersifat holographic sehingga mempunyai kemampuan/sifat cross referenced. Artinya, tidak ada memori yang berdiri sendiri. Semuanya saling terkait. Saat kita berusaha positif maka pada saat yang sama pula kita mengaktifkan memori negatip, di bawah sadar. Semakin kita berusaha positif maka semakin kuat efek negatip. Hal ini jarang disadari dan dimengerti orang.

Seorang kawan yang bergerak di bidang marketing, satu minggu setelah menerapkan konsep keselarasan pikiran positif (sadar dan bawah sadar) mampu meningkatkan penghasilan 3 (tiga) kali lipat dibandingkan sebelumnya. Dan yang lebih hebat lagi ia tidak usah kerja keras untuk mencapai hal ini. Kesannya adalah semua sudah ada yang mengatur.

Satu hal yang perlu anda ketahui yaitu kawan saya ini adalah orang yang selalu berusaha berpikir positif, telah membaca sangat banyak buku positif, menghadiri berbagai seminar di dalam negeri dan di luar negeri. Ia malah telah bertemu dengan dua orang top. Seorang di bidang motivasi dan seorang lagi adalah penulis buku keberhasilan finansial yang sangat terkenal. Sudah tentu ia membayar sangat mahal untuk bisa menghadiri seminar-seminar ini. Apalagi seminarnya dilakukan di Singapore.

Namun apa yang terjadi? Semakin ia berusaha positif maka semakin dalam ia terperosok ke dalam perangkap berpikir negatip. Kawan saya ini protes keras saat pertama kali mendengar tentang ”Bahaya Berpikir Positif”. Baginya statement ini nggak masuk akal. Namun setelah berdiskusi cukup panjang kawan saya akhirnya bisa memahami maksud saya.

Lalu bagaimana cara berpikir positif yang benar-benar positif? Ya itu tadi. Pikiran sadar dan bawah sadar harus selaras. Yang harus menjadi landasan pijak adalah apa yang ada di pikiran bawah sadar. Jadi, untuk benar-benar mampu berpikir positif yang positif maka pikiran positif itu harus berawal di pikiran bawah sadar. Bila ini berhasil kita lakukan maka efeknya akan sangat luar biasa. Kita akan dapat dengan sangat mudah mencapai target yang kita inginkan.

Anda pasti bertanya, ”Ok, kalau begitu bagaimana caranya?” Ada banyak cara untuk bisa menyelaraskan pikiran sadar dan bawah sadar, untuk bisa membuatnya kongruen. Kita bisa menggunakan NLP, Hypnotherapy (ada sangat banyak teknik), SMC, Visualisasi, Mind Reprogramming dengan bantuan guided imagery, menggunakan musik/audio dengan muatan frekwensi khusus, atau teknik lainnya. Akan sangat panjang dan teknis bila saya jelaskan dalam artikel ini.

 

Becoming a Money Magnet

All physical existence is a concrete corresponding manifestation of the thought which gave it birth.

-Thomas Troward

Benar, anda tidak salah membaca judul artikel ini. Mungkin anda akan berkata, ”Apa lagi yang akan Pak Adi jelaskan dalam artikel ini?” Saya bisa menyadari hal ini. Dua artikel saya sebelumnya yaitu “Why Affirmations Fail?” dan ”Bahaya ’Berpikir’ Positif” mendapat tanggapan yang sangat beragam.

Saya mendapat banyak email. Ada yang setuju dengan tulisan saya. Ada yang bahkan menentang pendapat saya. Bahkan seorang kawan baik saya, seorang leader di industri MLM, berkata bahwa apa yang saya ajarkan kebanyakan melawan arus karena sangat berbeda dengan yang ia baca dan pelajari selama ini.

Hmm, sesuatu yang tampaknya melawan arus bukan berarti salah, kan ? Ingat kasusnya Galileo? Galileo adalah orang yang berani berkata bahwa matahari adalah pusat tata surya padahal main-stream saat itu menyatakan bahwa bumi sebagai pusat tata surya. Ia bahkan sampai dihukum mati, dengan dibakar hidup-hidup, karena dianggap sesat dan tidak mau menarik pernyataannya.

Kali ini saya ingin berbagi pengalaman saat saya membantu kawan dalam meningkatkan kondisi finansial mereka.

Seorang kawan, sebut saja Pak Herman, datang ke tempat saya dan menceritakan kesulitannya. Ia adalah seorang eksportir besar yang pernah sangat berhasil. Namun saat krisis moneter tahun 1997 dan 1998 ia mengalami kerugian besar. Pengalaman pahit ini sangat mengguncang kondisi dan cash flow perusahaannya. Setelah itu ia sangat sulit kembali pulih seperti sebelum krismon.

Setelah saya bantu, dengan melakukan terapi dan teknik pemrograman ulang pikiran bawah sadar, hanya dalam waktu singkat terjadi perubahan besar. Saya sudah mengingatkan bahwa ia akan mengalami banyak ”kebetulan” yang aneh.

Kebetulan pertama adalah saat ia mendapat tawaran, mencari suatu produk, dari seorang buyer di Sydney. Buyer ini mempunyai 800 outlet di Australia. Pak Herman telah berusaha mencari ke semua supplier atau pabrik yang ia kenal namun tidak ada satupun yang mempunyai produk yang ia cari. Setelah tidak bisa mendapatkan produk ini dengan upaya sadar Pak Herman lalu menggunakan ”Attractor Factor”nya, yang telah diaktifkan saat sesi terapi dan programming pikiran, untuk mencari produk itu. Apa yang terjadi setelah itu?

Selang beberapa hari ia mendapat kunjungan dari empat orang kawan lamanya dari Jakarta. Kawannya ini ternyata meminta Pak Herman memasarkan produk mereka, yang menurut mereka agak sulit dipasarkan. Ternyata produk yang ditawarkan kawan Pak Herman ini persis sama dengan produk yang diminta oleh buyer dari Sydney.

Kebetulan kedua, dan masih banyak lagi, dialami Pak Herman saat ia sedang memikirkan seorang buyer-nya di luar negeri. Sudah cukup lama buyer ini tidak memesan barang dari Pak Herman. Saat Pak Herman sedang berpikir apakah sebaiknya ia menghubungi buyer ini, eh…. tiba-tiba pesanan dari buyer ini masuk. Dan jumlahnya juga nggak sedikit, satu kontiner 40 feet.

Anda mungkin akan berkata, ”Ah, itu kan kebetulan. Dan juga kasusnya hanya pada satu orang saja.”

Untuk menjawab keraguan anda saya akan menceritakan kisah kawan saya yang lain. Kawan saya ini adalah seorang pembicara publik terkenal. Ia ingin memecah rekornya sendiri dalam hal speaking fee. Kali ini ia ingin mendapatkan suatu jumlah yang sangat besar, yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya. Lalu, apa yang ia lakukan?

Ia lalu mengaktifkan ”Attractor Factor”nya dan mengirim getaran pikirannya. Selang dua hari kemudian ia mendapat telpon dari kawannya dari kota lain. Kawannya ini sudah tiga tahun tidak pernah kontak dengannya. Singkat cerita, kawannya lalu membantunya memasarkan program pelatihannya. Hanya dalam waktu satu minggu setelah ia mengirimkan getaran pikirannya ia mendapat deal dengan perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia. Dan bagaimana dengan speaking fee-nya? Jumlahnya persis sama dengan yang ia inginkan. Dan benar, ia berhasil memecahkan rekornya sendiri.

 

Para pembaca yang budiman. Ada sangat banyak contoh ”kebetulan” yang sulit diterima nalar. Namun kalau kita mengacu pada hukum alam maka kita akan mengerti apa yang terjadi. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Segalanya terjadi berdasarkan hukum Sebab – Akibat. Hukum ini menyatakan bahwa untuk suatu akibat yang spesifik maka pasti ada sebab yang spesifik pula.

Lalu, bagaimana caranya untuk bisa mengalami ”kebetulan” yang membawa keberuntungan? Caranya sebenarnya sederhana namun tidak mudah.

Langkah awalnya adalah kita perlu menyadari bahwa kita terhubung dengan alam semesta. Kita adalah mikro kosmos sedangkan alam adalah makro kosmos. Selanjutnya kita perlu melakukan penyelarasan dengan hukum-hukum alam. Penyelarasan ini hanya bisa dilakukan dengan mengotak-atik berbagai program yang ada di pikiran bawah sadar.

Mengapa harus di pikiran bawah sadar? Karena pikiran bawah sadar adalah media komunikasi untuk berhubungan dengan Pikiran Supra Sadar. Pertanyaan selanjutnya adalah, ”Mengapa hanya sedikit orang yang mampu menyelaraskan dirinya (mikro kosmos) dengan makro kosmos dan memetik manfaat maksimal? Bagaimana caranya?”

Akan sangat panjang bila saya uraikan semuanya di artikel ini. Intinya, langkah awalnya, adalah kita perlu menemukan dan menghacurkan mental block, di dalam pikiran kita, yang bersifat menghambat. Langkah selanjutnya adalah dengan memprogram ulang pikiran bawah sadar kita.

Mengapa ini adalah langkah awal? Karena dengan hancurnya mental block yang selama ini menghambat kita maka kepercayaan (belief) yang kondusif dan mendukung keberhasilan kita akan bertumbuh dan berkembang.

Apakah cukup hanya sampai di sini? Oh, tidak dong. Masih ada langkah selanjutnya.

Setelah kita mereprogram pikiran bawah sadar kita perlu menetapkan tujuan yang ingin kita capai. Tujuan ini berfungsi sebagai sasaran tembak. Cara menetapkan tujuan mengikuti suatu aturan ketat yaitu harus sejalan dengan nilai-nilai hidup kita. Tujuan yang tidak sejalan dengan nilai hidup justru akan menjadi suatu mental block baru.

Tujuan juga berfungsi menetapkan frekwensi gelombang yang kita pancarkan. Frekwensi ini selanjutnya akan menarik hal-hal, orang, kejadian, sumber daya, bantuan, atau apa saja, yang akan membantu kita mencapai tujuan. Salah satu alasan mengapa ada begitu banyak orang yang tidak sukses adalah karena mereka tidak menetapkan tujuan sukses, dengan demikian pikiran mereka tidak memancarkan frekwensi sukses.

Setelah itu kita perlu menaikkan daya pancar dan vibrasi pikiran kita. Di sini kita bicara belief system. Vibrasi akan semakin tinggi dengan memanfaatkan kekuatan emosi. Sudah tentu dalam hal ini adalah emosi positip.

Oh ya, emosi negatif harus sedapat mungkin dikurangi atau kalau bisa dihilangkan karena bersifat sebagai lintah energi yang akan menyedot dan menguras energi psikis kita. Emosi-emosi negatif yang saya maksudkan biasanya dalam bentuk trauma, phobia, ketakutan, rasa diri tidak berharga, khawatir, marah, dendam, cemas/gelisah, geram, stres,murka, gusar, terluka, galau, frustasi, jengkel, depresi, dan yang sejenisnya.

Vibrasi pikiran yang telah terpancar perlu kita jaga arahnya. Caranya? Kita harus fokus dalam mengerjakan sesuatu. Inilah yang banyak ditulis di buku-buku motivasi dan pengembangan diri. Kekuatan fokus hanya akan bermanfaat bila sinyal yang dikirim cukup kuat dengan tujuan yang pasti dan terarah.

Fokus dapat kita lakukan dengan dua cara. Cara pertama adalah dengan menggunakan Will Power atau kekuatan kehendak, yang dikendalikan oleh kesadaran. Penggunaan Will Power ini ada dalam ranah pikiran sadar. Cara kedua adalah dengan menggunakan pikiran bawah sadar. Fokus dengan pikiran bawah sadar jauh lebih dahsyat dan efektif.

Untuk membantu mempercepat pencapai tujuan kita dapat menggunakan visualisasi. Visualisasi sebenarnya bersifat memperkuat atau lebih tepatnya mempertegas jenis vibrasi yang kita pancarkan. Namun ada syarat yang mutlak harus dipenuhi agar visualisasi dapat bekerja dengan efektif. Syaratnya adalah visualiasi harus dilakukan dalam kondisi gelombang pikiran berada pada gelombang bawah sadar ( pada gelombang Alfa dan Theta).

Jika visualisasi dilakukan asal-asalan maka akan mendapat distorsi dari pikiran sadar dan justru akan kontraproduktif. Hal ini menjawab mengapa begitu banyak orang melakukan teknik visualisasi namun hanya sedikit yang benar-benar bisa berhasil. Mereka yang gagal umumnya melakukan visualisasi dalam kondisi gelombang pikiran sadar (Beta).

Bagaimana dengan afirmasi? Tujuan dan fungsinya sama dengan visualisasi. Kalau visualisasi mengutamakan penggunaan gambar mental maka afirmasi lebih menggunakan kata-kata. Kata-kata juga mempunyai pengaruh yang luar biasa terhadap pikiran. Why? Karena kata-kata, setelah diterima pikiran, langsung akan diubah menjadi gambar yang relevan, yang didasarkan pada pengalaman dan programming pikiran sebelumnya. Hal ini terjadi secara alamiah karena bahasa pikiran bawah sadar adalah bahasa citra atau gambar.

Setelah semua dilakukan masih ada langkah pamungkas yang jarang orang lakukan. Apa itu? Let go alias pasrah. Kebanyakan orang, setelah menetapkan suatu tujuan, akan mati-matian dan berusaha dengan segala daya upaya untuk mencapainya namun mereka tidak pasrah.

Pasrah yang saya maksudkan di sini bukan berarti kita tidak usah berupaya. Kita tetap berusaha, bekerja keras, dan cerdas namun kita tidak memaksa alam atau pikiran Supra Sadar untuk menuruti kemauan kita. Kalaupun, setelah berusaha keras, kita belum bisa mencapai hal yang kita inginkan maka kita harus pasrah dan yakin bahwa alam akan memberikan yang terbaik bagi diri kita.

Intinya, jangan melekat kepada suatu tujuan. Kemelekatan akan sangat menghambat kemajuan kita. Seorang master pernah berkata, ”Being, and not possessing, is the great joy of living.”

Kemampuan kita dalam menarik hal-hal yang kita inginkan dalam hidup, tidak hanya soal uang, menggunakan prinsip yang sama seperti yang saya uraikan di atas. Anda bisa menggunakan pikiran anda untuk menarik hal-hal positip maupun negatip. It’s up to you.

 

Emosi: Kunci Rahasia Kebijaksanaan

Journey into the less explored universe of own mind is the most exciting and challenging adventure that only a few dare to enjoy.
- Adi W. Gunawan

Kalimat pembuka di atas adalah hasil perenungan saya dalam proses perjalanan ke dalam diri. Ternyata pikiran adalah suatu alam yang begitu luas dan sangat jarang dijelajahi oleh kebanyakan orang. Pikiran adalah the last frontier yang menyimpan begitu banyak misteri dan keajaiban. Artikel berikut mengulas salah satu aspek yang berhubungan dengan pikiran yaitu aspek perasaan atau emosi.

Minggu lalu saya mendapat telpon dari seorang kawan lama, sebut saja Budi, yang berkeluh kesah mengenai keadaan dirinya. Banyak hal yang ia keluhkan. Mulai dari kondisi keuangannya, keadaan kesehatannya, keadaan keluarganya, lingkungan kerjanya dan masih banyak lagi.

“Saya stres berat nih!” keluhnya.

”Kamu berkata ’saya’ stres berat. Bagian mana dari dirimu yang mengalami stress?” tanya saya sambil mulai berusaha mengubah mental state-nya.

”Maksudmu?” kawan saya balik bertanya dan mulai terlihat bingung.

”Tadi kamu bilang bahwa kamu stress berat. Saya ingin tahu bagian mana dari dirimu yang mengalami stress berat itu?” tanya saya lagi.

”Ya benar. Saya lagi stres berat. Saya nggak ngerti pertanyaanmu,” jawab Budi semakin bingung.

”Begini Bud. Manusia terdiri dari badan dan batin. Nah, bagian mana dari dirimu yang merasakan stres? Badan? Pasti merasakan. Badanmu pasti merasa tidak enak karena setiap bentuk emosi akan berakibat pada tubuh fisik. Selain itu yang lebih penting lagi adalah kamu perlu mengerti aspek batinmu. Batin manusia terdiri dari empat komponen yaitu: pikiran, perasaan, ingatan, dan kesadaran,” jawab saya.

”Trus… kalau saya frustasi… bagian mana yang merasakan frustasi? Bukankah yang merasakan frustasi adalah diri saya?” tanyanya dengan penasaran.

Pembaca yang baik. Apa yang saya jelaskan berikut ini adalah ringkasan dari hasil diskusi kita mengenai perasaan atau emosi.

Setiap kali kita merasa tidak enak, secara mental, maka yang terkena sebenarnya adalah perasaan kita. Aspek perasaan inilah yang akan menderita setiap kali kita merasakan emosi ”negatif”. Sengaja saya memberikan tanda kutip karena sebenarnya semua emosi adalah baik atau positip.

Lalu dari mana asalnya emosi? Apa hubungannya dengan kejadian yang kita alami setiap hari?

Sebelum bicara mengenai emosi saya ingin mengulas sedikit mengenai proses berpikir. Setiap kejadian yang kita alami bersifat netral. Tidak ada kejadian yang baik ataupun buruk. Shakespeare dengan sangat indah berkata, ”There is nothing either good or bad, but thinking makes it so”. Jadi, baik atau buruknya suatu kejadian semata-mata bergantung pada makna yang diberikan oleh pikiran kita.

Pemberian makna ini sebenarnya berlangsung sangat cepat dan terjadi di pikiran bawah sadar. Contohnya? Misalnya anda sedang mengendarai mobil dengan santai dan tiba-tiba sebuah mikrolet menyalip anda dengan cepat dan langsung berhenti mendadak di depan anda. Anda sangat kaget dan untung masih sempat menginjak rem sehingga tidak sampai menabrak mikrolet itu. Bagaimana reaksi anda? Pada umumnya orang akan langsung marah, memaki, atau mengumpat si sopir mikrolet.

Ceritanya akan lain bila ternyata anda baru menang hadiah utama, sebesar Rp. 1 Milyar, dari suatu bank. Saat itu hati anda sedang gembira. Dan saat anda disalip mikrolet, anda akan berkata, ”Kasihan ya sopir ini. Rupanya lagi ngejar setoran. Maklum ekonomi lagi sulit. Ada baiknya saya menyumbangkan sedikit rejeki saya buat sopir malang ini.” Anda kok tidak marah?

Nah, makna yang kita berikan, dari setiap kejadian yang kita alami, selanjutnya akan mencetus/men-trigger emosi yang ada di pikiran bawah sadar. Emosi ini selanjutnya akan menentukan respon/reaksi kita.

Tadi saya mengatakan bahwa semua emosi adalah baik. Tidak ada emosi yang negatip. Apa maksudnya? Anda mungkin heran dengan pernyataan ini. Bukankah emosi ”marah”, ”kecewa”, ”frustasi”, dan sejenisnya adalah emosi negatif?

Sebelum saya teruskan uraian saya, saya ingin bertanya kepada anda, ”Berapa banyak kosa kata, tentang emosi, yang anda kuasai?” Banyaknya kosa kata yang anda kuasai, mengenai emosi, mencerminkan kecerdasan emosi anda. Lho kok bisa? Umumnya orang hanya mengenal beberapa kata yang mewakili emosi. Misalnya kata ”marah”, ”kecewa”, ”frustasi”, atau ”stres”. Karena mereka hanya menguasai beberapa kata saja maka setiap kali mengalami emosi ”negatif” maka mereka langsung berkata, ”Saya lagi stres”. Singkat kata semua kondisi emosi dianggap stres. Benarkah demikian?

Ada banyak kata yang mewakili emosi. Misalnya sedih, stres, putus asa, kecewa, marah, senang, bahagia, frustrasi, gembira, gelisah, depresi, terluka, iri/dengki, kesepian, rasa bosan, takut, jengkel, khawatir, cemas, rasa bersalah, tersinggung, dendam, sakit hati, rasa tidak mampu, benci, perasaan tidak nyaman, bahagia, tersanjung, dan cinta.

Lalu apa sih gunanya emosi? Emosi sebenarnya merupakan sinyal komunikasi yang berasal dari pikiran bawah sadar. Setiap emosi mempunyai makna dan tujuan yang sangat spesifik yang sangat bermanfaat bagi diri kita. Namun sayang, tidak banyak orang yang tahu, mau repot-repot untuk mencari tahu, atau benar-benar mengerti makna yang terkandung dalam setiap emosi.

Misalnya emosi ”marah”. Mengapa kita marah? Marah berarti ada pengharapan kita yang tidak terpenuhi atau kita merasa telah diperlakukan secara tidak adil oleh orang lain.

Emosi menjadi sesuatu yang negatif bila kita tidak mampu mengartikan pesan yang terkandung dalam emosi itu. Emosi berakibat negatif bila kita dikuasai olehnya. Lalu bagaimana cara untuk bisa menguasa emosi kita? Cara mudah. Kita perlu memahami bahwa pikiran logis dan emosi tidak dapat aktif dalam waktu bersamaan. Salah satu pasti menguasai yang lain.

Jadi, bila emosi yang dominan maka pikiran logis tidak dapat bekerja. Demikian sebaliknya. Saat pikiran logis sedang aktif maka emosi kehilangan daya pengaruhnya. Hal ini bisa terjadi karena perasaan atau emosi sebenarnya adalah bentuk pikiran juga. Dengan mengubah pikiran maka perasaan akan berubah.

Cara paling mudah untuk menguasai dan menghilangkan pengaruh negatip suatu emosi adalah dengan melakukan analisa atau mencari tahu makna yang terkandung dalam setiap emosi yang sedang anda rasakan.

Misalnya anda sangat marah. Daripada larut dalam kemarahan anda, lakukan analisa. Hal ini memang tidak mudah. Namun anda harus disiplin untuk memaksa diri anda melakukan analisa. Caranya? Tanyakan kepada diri anda, ”Mengapa saya marah?”, ”Apakah karena mood saya lagi nggak enak atau ada sebab lain?”, ”Apakah benar saya telah diperlakukan tidak adil oleh orang lain?”, ”Apakah benar emosi yang saya rasakan saat ini adalah emosi marah?”, ”Apakah saya telah memberikan makna yang tepat atas apa yang saya alami?”, Apa yang saya bisa lakukan selain larut dalam kemarahan?”

Saat anda bertanya pada diri anda saat itu pula fokus anda mulai beralih. Saat anda mencari jawaban atas pertanyaan anda saat itu pula pikiran logis anda bekerja dan menjadi dominan. Bila anda sering melakukan analisa terhadap perasaan anda maka anda akan semakin mengenali diri anda dan akan timbul kebijaksanaan.

Bagaimana dengan emosi takut? Perasaan takut adalah suatu emosi yang sangat positif. Apa maknanya? Emosi takut adalah sinyal komunikasi yang dikirim pikiran bawah sadar ke pikiran sadar dengan pesan bahwa akan terjadi sesuatu di masa depan, di mana anda merasa tidak siap untuk menghadapinya. Dengan kata lain, emosi takut sebenarnya membawa pesan ”antisipasi”.

Misalnya? Saat anda mau ujian skripsi. Anda merasa takut. Nah, daripada hanya sekedar ketakutan, anda harus menyiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Anda takut karena anda merasa tidak siap. So… siapkan diri anda dengan lebih baik. Sederhana, kan?

Bagaimana dengan emosi lainnya? Misalnya rasa bosan. Rasa bosan artinya apa yang kita lakukan sekarang ini kurang menantang. Itulah sebabnya kita bosan. Lalu, apa yang harus dilakukan? Kita perlu menetapkan suatu target yang sedikit lebih tinggi dari biasanya sehingga kita merasakan tantangan dan dorongan untuk lebih giat bekerja.

So, berbahagialah bila anda yang merasakan up and down suatu emosi. Anda akan semakin bijaksana karena mendapat pesan dari guru kebijaksanaan.

Oh ya, satu hal lagi. Kalaupun anda tidak mau menganalisa atau tidak tahu makna dari suatu emosi yang sedang anda rasakan, anda cukup berdiam diri atau menahan diri untuk tidak menuruti emosi anda. Mengapa? Karena emosi sama dengan pikiran. Sekarang muncul, selang beberapa saat lagi akan menghilang. Muncul lagi, lalu hilang lagi.

 

 

January 9, 2007

Ali r.a

Satu kisah yang sungguh luar biasa tentang Ali r.a. yang barangkali belum pernah kita dengar sebelumnya. Diambil dari sebuah buku, Questions of Life, Answers of Wisdom, petikan diskusi antara seorang guru sufi asal Srilanka, Bawa Muhaiyaddeen, dengan salah seorang muridnya.

* * *
ABOUL’ALA: Ada sebuah riwayat tentang Ali r.a. di masa ia menjadi seorang
khalifah dan Allah telah menganugrahkan kepadanya pengetahuan tentang sirr. Suatu hari ketika berjalan bersama sahabatnya, ia melihat seseorang. Lalu Ali r.a. pun berkata, "Orang itu yang nanti akan membunuhku." Sahabatnya terperanjat, "Ya Khalifah Rasulullah, mengapa tak kau tangkap dia dan penjarakan dia?" Ali r.a. menjawab, "Bila kutangkap dia, lalu siapa nanti yang akan membunuhku?" Dia tahu bahwa orang itu akan membunuhnya, namun ia membiarkannya. "Siapa lagi yang nanti akan melakukannya," ujarnya. Bagaimana keberserahan diri kepada Allah yang seperti ini dapat sejalan dengan penjelasan Bawa tentang al-qada’ wal-qadar?

BAWA MUHAIYADDEEN: Ada riwayat lain tentang Ali r.a., sepupu Rasulullah Muhammad s.a.w ini. Suatu hari, ketika Rasulullah s.a.w. berbicara kepada beberapa pengikutnya, datanglah seorang kakek yang sudah sangat renta dengan janggutnya yang panjang berjalan terseok-seok mendekati Nabi. Kakek sepuh itu bertumpu pada sebatang tongkat dan berjalan meloncat-loncat seperti kelinci. Ia mendekati Rasulullah s.a.w., mengucapkan salaam, lalu berkata, "Ya Rasulullah, hidupku merana. Aku mohon potonglah tali yang melilit jempol kakiku ini. Aku tak tahan lagi."
      Rasulullah s.a.w. bertanya, "Apa yang terjadi denganmu?"
      Kakek itu pun bercerita, "Aku adalah cucu dari dia yang Allah telah mengusirnya dari surga. Kakekku menundukkan dan mengendalikan manusia di dunia ini, menghancurkan pikiran dan niat-niat baik mereka. Aku pun memutuskan untuk menyerang dan menguasai para penghuni surga dan siapa saja yang mengabdi pada Allah. Namun ketika telah kukumpulkan tentaraku dan mulai menyerang, datanglah seorang anak laki-laki dengan menunggangi seekor kuda putih. Hanya satu pandangan saja, seluruh kekuatan dan tentaraku hangus terbakar seketika itu juga. Ia hanyalah seorang anak, namun ketika ia melompati punggung kudanya dan menatapku, aku jatuh terjerembab. Dia memungut sesuatu dan dengan tangkas melilit kedua jempol kakiku menjadi satu. Tubuhku rontok dan aku menjadi seperti mayat. Lalu ia kembali menaiki kudanya dan pergi.
      Semenjak itu, aku berusaha memutus tali yang melilit jempolku ini, namun tak pernah berhasil walau cuma seutas. Aku pergi mencari seseorang yang dapat membebaskanku, aku memohon pada makhluk-makhluk suci dan agung, namun tak satu pun tahu bagaimana melepaskan lilitan ini. Usahaku ini telah berlangsung sekian lama. Sampai datanglah masa Nabi Adam. Aku pergi menemuinya dan mencurahkan penderitaanku, namun ia berkata, ‘Aku tak dapat memutuskan tali ini. Hanya yang melilitkan yang mampu memutuskannya.’ Lalu datanglah jaman Nabi Nuh. Aku pun menemuinya dan mohon pertolongannya, namun ia pun menjawab, ‘Tali ini hanya dapat diputus oleh orang yang melilitkannya.’
      Kaket tua itu melanjutkan kisahnya kepada Rasulullah s.a.w., seraya menyebutkan nabi-nabi satu per satu secara berurutan: Idris a.s., Yakub a.s., dan seterusnya. Namun tak seorang pun mampu membebaskannya. Sampai datanglah masa Nabi Ibrahim a.s., ia berkata, ‘Aku tak dapat memutus lilitan ini. Namun nanti ada seseorang bernama Muhammad s.a.w. yang diutus sebagai Penutup Para Nabi. Hanya di masanya engkau akan terbebas dari tali itu.’
      "Meski begitu," lanjut sang kakek tua, "tetap kudatangi setiap nabi yang datang, berharap salah satu dari mereka dapat membebaskanku. Namun tak satu pun jua mampu. Dan begitulah, telah sekian lama aku tersiksa. Dalam keputusasaan, aku berteriak, ‘Kapankah Nabi Penutup itu datang?’ Aku pun diberitahu, ‘Dia akan datang di akhir jaman, ketika manusia mulai melupakan Tuhan-nya. Saat itulah Nabi Penutup itu akan datang. Tak akan ada lagi nabi setelah itu.’"
      "Kini, dalam penantian panjangku, aku teringat apa yang telah diberitahukan kepadaku sebelumnya, tentang masa ketika iman hanya sedikit, ketika nabi terakhir diutus. Aku pun menyadari bahwa masa itu telah berlangsung di dunia ini selama empatpuluh lima tahun! Maka pikirku, ‘Rasul itu pasti telah datang!’ Dan kini aku menemukanmu dan mengharap kebebasanku dari lilitan yang menyiksaku selama ini."
      Setelah mendengar cerita si kakek renta, Rasulullah s.a.w. berpaling dan berbisik kepada salah seorang pengikutnya yang ikut mendengarkan kisah itu. Lalu Rasulullah s.a.w. memandang kakek itu dan bertanya, "Tidak pernahkah engkau bertemu anak laki-laki itu lagi?"
      "Tidak pernah," jawab kakek itu. "Itu adalah kali satu-satunya aku bertemu dengannya. Aku tak pernah melihatnya lagi."
      "Bila engkau melihatnya lagi, apakah kau akan mengenalinya?" Nabi s.a.w. bertanya.
      "Tidak! Tidak!" teriak kakek tua itu. "Aku tak ingin melihatnya lagi! Ingatan tentangnya saja telah menyiksaku. Jangan suruh ia kemari."
      Rasulullah s.a.w. menenangkannya, "Jangan khawatir. Duduklah di sini, nanti kita akan lihat." Kemudian Rasul s.a.w. berkata kepada salah seorang pengikutnya, "Pergilah dan panggil Ali kemari. Katakan padanya aku yang menyuruhnya."
      Kala itu, Ali adalah seorang anak berusia tigabelas tahun. Ketika menerima pesan itu, ia pun berhenti bermain dan meraih pedang dan tombaknya, menyangka bahwa Rasulullah s.a.w. pasti memanggilnya untuk turut berperang. Namun orang yang menyampaikan pesan itu menimpal, "Entah untuk apa Rasululullah s.a.w. memanggilmu. Ia hanya menyuruhmu untuk datang."
      Dan ketika Ali r.a. sampai ke tempat itu, Rasulullah s.a.w. menyerunya, "Lepaskan tali yang mengikat orang tua itu."
      Ali r.a. menoleh ke kakek tua itu. Dan seketika itu pula si kakek renta gemetar seluruh tubuhnya. "Ya Nabi, tolonglah aku! Itulah dia! Dialah anak itu! Jangan biarkan ia mendekatiku!" teriaknya.
      Kakek tua itu berusaha menyembunyikan dirinya di belakang Rasulullah s.a.w. Namun Rasulullah s.a.w. menenangkannya seraya berkata, "Jangan takut. Tunggulah sebentar."
      Ali r.a. berdiri tegak dan memandang tali yang melilit orang tua itu. Dan seketika itu pula tali itu pun putus. Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata, "Baiklah. Kini kau boleh pergi."
      Kakek tua itu memohon, "Ya Rasulullah, ajarilah aku kalimah, dzikr kepada Allah. Atau jika engkau merasa aku tak pantas menyebut-nyebut kalimat itu, paling tidak berkatilah aku hingga kuat imanku kepada Allah."
      Lalu Rasulullah menasihatinya, "Agar dapat menerima kalimah, engkau tidak boleh goyah. Engkau pastilah tahu bahwa Allah Maha Agung, karena Ia telah melilitmu dengan tali yang demikian kecil. Jika kau hendak kembali kepada-Nya, iman dan hatimu musti kuat dan kokoh. Maka jadikanlah dirimu kepada yang seperti itu," ujar Rasulullah s.a.w. seraya memerintahkannya pergi.
      Orang-orang yang mengikuti kejadian itu semenjak tadi bertanya-tanya kepada Rasulullah s.a.w., "Apa artinya ini? Ali hanya seorang anak berusia tigabelas tahun, namun kakek tua itu berkisah tentang kejadian-kejadian pada jutaan tahun yang lalu. Ini sebuah keajaiban. Apa artinya ini?"
      Rasulullah s.a.w. menjawab, "Ini adalah rahasia yang hanya Allah sendiri yang tahu. Hanya Dia yang tahu rahasia Ali."

      Nah, berkaitan dengan pertanyaan tadi: Sekalipun Ali r.a. berkata kepada sahabatnya, "Orang itu akan membunuhku," apakah Ali r.a. akan mati (lihat Note 1)? Apakah kematian yang ia lihat saat itu? Jika Ali r.a. telah hidup selama berjuta tahun, bahkan sebelum Adam a.s., apakah ia akan mati saat itu?
_____
Note: (1) Barangkali bisa dibandingkan dengan sebuah firman Allah: "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki." (Quran [3]:169)
Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia… (Quran [6]:122)