Telanlah Amarahmu, lalu Cernalah!
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani k
Bagi orang-orang di antara kita yang tubuhnya telah ‘di atas bukit’, maksud saya bagi mereka yang telah berusia lebih dari 50 tahun, kita harus menghadapi kenyataan bahwa, tak peduli betapa baiknya kita memelihara diri kita, kekuatan fisik kita akan semakin lemah secara bertahap, dan sedikit demi sedikit kita akan mendekati kematian. Sedangkan bagi kondisi spiritual kita, tak ada batasan semacam itu, tak ada usia atau umur saat kekuatan spiritual berada pada kondisi maksimumnya, lalu berkurang. Kekuatan spiritual akan berlanjut untuk tumbuh lebih kuat selama hidup kita, tetapi kita harus memenuhi kondisi-kondisi yang diperlukan baginya untuk tumbuh dan menyiangi sifat-sifat yang mengancam dan mengganggu tanaman berharga itu.
Salah satu dari gulma (tanaman pengganggu) yang paling berbahaya, yang paling menjadi musuh dari pertumbuhan ruh spiritual kita adalah amarah yang dibangkitkan oleh kekosongan ego kita. Saat amarah timbul, dia akan membungkus cahaya hati dan mengubahnya menjadi api. Cahaya dan Iman adalah cahaya murni dari Tuhan, tetapi ketika dia berubah menjadi api, dia tidak lagi menerangi melainkan membakar.
Saat kalian mendapati diri kalian diliputi amarah, kalian harus segera berlari ke sebuah cermin dan melihat wajah kalian sendiri. Bayangan yang buruk itu seharusnya cukup untuk meredam amarah kalian, karena siapakah yang ingin dirinya terlihat seperti setan? Saat seseorang dalam keadaan marah, perbuatannya akan menjadi perbuatan setani yang merusak, termasuk merusak diri sendiri. Grandsyaikh kita menekankan perlunya kita meninggalkan amarah, karena ketika amarah dari ego mendominasi seseorang, dia mungkin malah bisa menyangkal kedaulatan Tuhan dan melatakkan dirinya sendiri sebagai pemberontak melawan Dia Yang Maha Esa, Yang Maha Kuasa—hal ini sangat berbahaya. Amarah juga akan menyebabkan kerusakan pada tubuh kita, menyebabkan penyakit dan penuaan dini, terutama ketika suatu level amarah yang tinggi dipelihara dalam jangka waktu yang lama.
Sangat sedikit orang yang mampu melawan amarahnya ketika amarah itu menyerang mereka. Inilah mengapa, sangat sedikit orang yang mengalami kemajuan dalam ruh spiritualnya. Alasan dari mengapa amarah demikian sulit untuk ditaklukkan adalah semata-mata karena amarah merupakan suatu bagian intrinsik dari tubuh fisik dan spiritual kita. Amarah terkait dengan elemen api dalam pembentukkan diri kita, yang merupakan keseimbangan antara api, air, tanah, dan udara. Hanya mereka yang telah terlatih sejak dini oleh orang tua atau guru yang ‘tercerahkan’ akan belajar bagaimana menempatkan elemen-elemen ini dalam keseimbangan. Sedangkan bagi sebagian orang, masing-masing dari unsur ini mungkin akan mendominasi dirinya pada kesempatan yang berbeda-beda menurut kondisi eksterior (luar) dan kecenderungan dalamnya, yang akan mengalihkan keseimbangan itu dari titik pusatnya. Api akan menyala ketika dihadapkan pada provokasi dan gangguan atau pada usaha-usaha untuk menghalangi kehendak (dari si anak). Karena hal-hal ini seringkali terjadi dalam kehidupan masa kecil kita, kita semua telah terbiasa untuk menjadi marah, dan ini terjadi sejak usia dini. Grandsyaikh kita juga menganjurkan agar kita melakukan dzikir khusus di malam hari untuk mendapatkan kekuatan lebih dalam perjuangan kita melawan amarah. Saat kalian bangun di tengah malam dan melakukan shalat sunnah (misalnya tahajjud), setelah berwudhu terlebih dahulu, mulailah dengan menghadapkan wajah kalian ke Baitullah (Ka’bah) dan mohon pada-Nya untuk membantu kalian dalam usaha kalian menaklukkan amarah. Kemudian ulangilah lagi seratus kali, "Ya Haliim" yang berarti, "Wahai Allah I Yang Maha Penyantun dan Lambat dalam Murka." Nama ini, al-Haliim adalah suatu sifat Ilahiah dari Allah I yang Dia inginkan untuk dikaruniakan secara berlimpah pada diri kita, seandainya kita mencari dan menginginkannya.
Langkah pertama adalah meminta pertolongan Allah I, dengan cara ini, untuk menolong kita menjadi pemaaf dan penyantun, kemudian kita mesti mentafakkuri (merenungkan) Sifat Ilahiah itu, agar sifat itu pun terserap dalam diri kita. Kita sebenarnya tengah menyerunya agar menjadi bagian dari diri kita. Berikutnya kita mesti melakukan latihan ini dalam kehidupan sehari-hari kita untuk lebih mencapai tujuan kita. Latihan ini, secara sederhana, adalah untuk tidak menunjukkan amarah, bahkan ketika kalian tengah merasakannya mendidih di dalam. Jangan muntahkan amarah itu keluar kepada orang di sekeliling kalian dan meracuni atmosfer di sekeliling kalian, bagaikan seekor naga yang menyemburkan api. Tahanlah di dalam, tetapi bukan seperti seonggok makanan yang tidak tercerna, tidak, kalian harus mencernanya. Pada jumlah tertentu, amarah adalah bagian dari karunia setiap pribadi. Tanpa adanya bagian tertentu dari api itu dalam pembentukan diri kita, kita akan mati; karena itu adalah mungkin bagi kita untuk mencerna sejumlah tertentu amarah tanpa menderita efek sampingan yang buruk. Tentu saja jika kita tetap tidak berubah dalam jangka waktu lama dan menelan jumlah amarah yang sama, kita akan mengalami overdosis; tetapi itu bukanlah kasus yang akan terjadi, karena dengan perjalanan waktu, jumlah amarah yang akan kita telan akan berkurang dalam proses belajar ini, dan kita akan dikaruniai kemampuan untuk tidak bereaksi secara cepat atas suatu provokasi dengan amarah. Maka, sebagaimana seorang bayi, mula-mula meminum susu dalam jumlah yang banyak, kemudian secara bertahap makanan padat, dan mengurangi konsumsi susunya secara drastis; maka kita pun dapat menelan dan mencerna amarah, dengan pengetahuan penuh bahwa bentuk lain dari rezeki (sebagai ganti amarah—red) akan segera datang.
Jika kalian mampu untuk menahan diri dari menunjukkan amarah selama 40 hari, kalian akan melampaui suatu titik sejarah baru. Saat amarah itu menyerang kalian, kalian harus menghindarinya, dan saat dia akan keluar dari diri kalian, kalian harus menelannya. Jika kalian berhasil menghindarinya selama 40 hari, amarah akan mulai menyerang kalian dalam frekuensi yang lebih jarang: satu kali setiap 40 hari. Jika kalian mampu menjaga diri kalian dalam sikap seperti ini selama 40 hari pertama, dan seterusnya, menghadapi 40 serangan berikutnya (40 periode dari 40 hari, atau lebih dari 4 tahun), Setan akan mengumungkan pada bala tentaranya: "Tak perlu mengganggu orang itu; kita hanya membuang waktu dan energi. Pertahanannya tak tertembus: 1000 kali serangan sama sia-sianya dengan 1 kali serangan. Biarkan dia sendiri, dia telah lari dari tangan kita." Pembantu dan bala tentara Setan adalah nafsu yang egois, keinginan-keinginan kosong dan keduniawian, ini adalah 4 musuh terbesar. Dan siapa yang belajar untuk mengendalikan amarahnya, dia akan menang melawan pengaruh-pengaruh dasar ini.
Setiap kali kalian merasa amarah tengah muncul, kalian harus waspada bahwa kalian tengah diuji. Ujian-ujian seperti itu dikirim kepada kita dari dunia spiritual untuk menguji kepercayaan (amanah) kalian. Peristiwa-peristiwa yang tidak disukai dikirim dari hakikat itu agar kalian memiliki kesempatan untuk bersikap penyantun dan pemaaf, hingga kalian pun mampu maju meraih tujuan kalian. Seandainya tak ada manfaat dalam amarah, tentu dia tak akan pernah ada. Manfaat amarah akan dijumpai pada bersikap sabar ketika kita dihadapkan dengannya. Tanpa melalui ujian ini takkan pernah ada kemajuan.
Sikap penyantun dan pemaaf adalah suatu kunci menuju maqam-maqam Ilahiah, dan kunci itu dicetak dengan menghadapi peristiwa-peristiwa yang tidak mengenakkan dengan kesabaran dan pengendalian amarah. Jadi amarah adalah pedang bermata dua, jika kalian dapat memegang gagangnya dengan kokoh, kalian akan mampu menyingkap tirai yang membutakan mata hati kalian, tetapi jika dia berada di tangan musuh-musuh kalian, iman kalian pun dalam keadaan bahaya.
Wa min Allah at taufiq
- Uncategorized | Time: 8:00 am (UTC+8)
