Pentingnya Latihan Hindari Argumentasi
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani k
Sebuah Jalan adalah jalan dengan perilaku yang baik. Setiap orang harus mempelajari perilaku yang baik sehingga dia akan menjadi orang yang baik. Orang bisa memiliki sifat-sifat yang baik atau sifat-sifat buruk. Menurut fitrahnya, setiap orang tanpa didukung latihan mempunyai karakteristik yang buruk. Ego sangat kuat pada awalnya. Agar memiliki karakteristik yang baik kalian harus mengambil alih kekuasaan dari tangan egomu. Jika kalian telah membiarkan diri kalian berada dalam genggamannya maka kalian akan menjadi pribadi yang buruk. Oleh sebab itu, pada saat yang bersamaan Allah I menciptakan manusia pertama. Dia menjadikannya sebagai seorang Nabi. Manusia pertama adalah Nabi yang pertama sehingga dia bisa mengajarkan anak-anaknya perilaku dan karakteristik yang baik. Manusia membutuhkan latihan, oleh sebab itu Allah I memberikan orang tua untuk mendidiknya ketika mereka masih bayi dan anak-anak. Tetapi latihan dari Rasul adalah latihan yang paling penting. Yang lainnya hanya mengajarkan kalian untuk memenuhi keinginan ego. Rasul mengajarkan kita untuk menyelamatkan kita dari keinginan ego, karena keinginan ego tidak ada batasnya, dia akan terus meminta dan meminta terus, tidak akan ada batasnya. Dengan mengikuti keinginan ego kita akan merasa lelah dan akan mati dalam keadaan lelah pula. Rasul mendidik kita untuk berhenti pada batas-batas tertentu, menjaga seseorang dari kerja yang tak berakhir dan penuh keletihan. Mereka mengajarkan kita tentang maksud dari hidup ini, mereka menunjukkan tujuan kita. Siapa pun yang mengikuti jalan ini akan memiliki sifat-sifat yang baik karena didikan Rasul merupakan suri tauladan yang baik bagi semua orang. Kini Rasul-Rasul itu telah tiada, namun deputi mereka dapat ditemukan jika orang mencarinya. Mereka mengajarkan orang untuk menyelamatkan diri mereka dari serangan ego.
Sekarang salah satu perilaku baik adalah untuk mendengar dan beraksi: obat untuk diambil. Orang yang sakit tidak meletakkannya di meja dan meninggalkannya begitu saja. Perilaku baik adalah dengan bertindak. Mendengar setiap orang yang berbicara kepada kalian juga suatu perilaku yang baik. Perilaku yang buruk adalah berargumentasi. Jika kalian 100% benar, secara konkret benar, tetap saja tidak perlu berargumen. Ini merupakan hal yang terlarang. Jika kalian melihat bahwa orang itu ingin mengetahui mana yang benar, baru kalian boleh bicara. Ada suatu pintu untuk dimasuki. Tetapi jika kalian melihat bahwa orang itu hanya ingin berargumentasi, kalain sebaiknya meninggalkannya, karena dia tertutup. Cukup katakan kepadanya, "begitu ya!" Tidak pernah ada manfaat dari berargumentasi, orang hanya akan saling bermusuhan karenanya. Inilah arti dari ayat, "Lakum diinukum waliya diin," "Bagimu agamamu dan untukku agamaku." Argumentasi memadamkan cahaya Iman dalam hati kita. Mungkin beberapa kata akan datang kepadamu yang belum pernah kalian pikirkan sebelumnya dan menyebabkan Imanmu menurun. Derajat tertinggi dari perilaku baik adalah jangan berargumen dan jangan berkata, "tidak, betapa bodohnya." Tidak ada persahabatan setelah berargumentasi, hati menjadi dingin. Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani k berkata bahwa Grandsyaikhnya tidak pernah menyangkal kata-kata orang lain bahkan dari hadapan orang-orang yang tidak pandai berbicara. Tetapi kemudian ketika beliau berbicara di depan sekelompok orang, beliau akan merujuk ke permasalahan itu dan orang-orang yang terkait akan mengetahuinya, "Ah, ini untukku." Lalu mereka akan mempertimbangkan ucapannya. Setiap orang ingin dihormati. Itu berarti jangan tunjukkan gigimu seperti anjing. Manusia tersenyum.
- Uncategorized | Time: 7:50 am (UTC+8)
