September 8, 2006

be down to earth….


Wanderlei Luxemburgo palatih cerdas, ahli strategi, sangat disanjung pada awal kedatangannya ke Real madrid…… tak disangka-sangka enam bulan kemudian dipecat dengan caci maki….. pulang ke Brasil hanya membawa seutas….baju kotor…. karena tak mampu bayar binatu di Madrid……

Titus …… Pangeran Romawi yang gagah berani, thn. 70 masehi dia  hancurkan kebudayaan Yahudi…. enam bulan kemudian mati oleh sipilis karena seleranya tak hanya pada wanita??……

 John Barxton …… Akhirnya mengemis pada Bill Gates mohon pekerjaan bagi anaknya……. Bill Gates orang yang dia pecat enam tahun lalu dari perusahaannya saat Bill Gates tak sengaja menyenggol dengan tongkat mobil dinasnya (Bill Gates saat itu memakai tongkat untuk berjalan) …..

Marie Goretti kepala biara karmel prancis merasa tak percaya kalau Claudia Suzzane diminta untuk memimpin Ordo Biarawati tersebut di seluruh dunia termasuk Prancis…… Claudia Suzzane enam tahun lalu adalah biarawati muda yang dia rekomendasikan untuk di"buang" ke Mesir dan melewati hidupnya di  biara gurun pasir dengan iklim yang keras karena bertentangan dengan dirinya….. Marie Goretti, tadi pagi dalam Misa Pelantikan Claudia, mencium tangan Claudia sebagai tanda hormat pada pimpinan tertinggi Ordo tersebut..! .. Claudia masih tetap tersenyum dengan murah hati seperti saat dia
meninggalkan Prancis dan meminta Marie Goretti untuk tidak mencium tangannya….. Marie Gorretti hanya bisa menitikkan airmata haru..

Willy sangat berterimakasih pada Sarno, pagi tadi Sarno menyelamatkan  nyawa anaknya Caecil dengan membawanya ke Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi, anaknya ditabrak lari sepeda motor saat akan menyebrang dekat TK tempatnya bersekolah, saat itu Sarno kebetulan melintas dan segera menolongnya, jika terlambat saja, maka Caecil akan lumpuh dan kehilangan daya ingatnya,
atau bahkan meninggal…… Sarno, mantan Office Boy di Kantor Willy, saat itu sebagai Kepala Bagian Umum Willy meminta Sarno "keluar dengan Hormat" karena Sarno menjalin kasih dengan Ully resepsionis pada kantor tersebut dan berencana menikah, akhirnya Sarno dan Ully memutuskan untuk keluar dan membangun usaha kecil-kecilan…. "No, apayang bisa saya bantu untuk membalas jasamu? engkau sudah bekerja? dimana? bagaimana kabar Ully?’ demikian Willy mencecar Sarno dengan pertanyaan….. Sarno hanya tersenyum dan menitikkan airmata, ia tidak ingin menyakiti hati Willy…… Saat ini, atas nama almahumah Ully yang meninggal saat melahirkan, Sarno dan kedua anak kembarnya yang masih kecil adalah pemegang 93.5% saham perusahaan tempat Willy bekerja dan beberapa grup perusahaan karena usaha kerasnya….. dan dia tetap tersenyum seperti saat ia berpamitan dengan Willy enam tahun lalu………..

Manusia bisa berkehendak dan bertindak, tapi Tuhan punya rencanaNYA.

Enam tahun? Enam bulan? Enam pekan? Enam hari? Enam Jam? Enam menit? Enam  detik? ……….. secepat apakah DIA akan membalikkan anda jika anda tak tahu diri?

September 6, 2006

Nilai Seseorang Berhubungan Dengan Cara Dia Menilai Waktunya

Sheikh Nazim Al-Qubrusi Al-Haqqani 

Waktu ada di Tangan Tuhan, artinya waktu menggerakkan segala sesuatu agar sesuai jalur menuju takdir yang telah ditetapkan. Ada yang mampu memahami lintasan waktu dan mengamatinya dengan mata kebijaksanaan. Orang-orang seperti itu menghadapi waktu dengan mengendalikannya setiap saat, menggunakan anugerah pemahaman Tuhan itu untuk menggerakkan hidupnya menuju arah yang benar. Yang lain menggunakan waktu dengan hal-hal yang menyimpang, seperti ketika seseorang melihat pada cermin cekung atau cembung. Persepsi seperti ini terjadi karena mereka tidak berdamai dengan “Tangan Tuhan” ; belum memahami alasan mengapa Tuhan membatasi dunia ruang dan waktu. Tuhan bermaksud memberi sebuah kesempatan untuk menyempurnakan diri kita, guna meraih atribut-atribut suci-Nya melalui berbagai usaha kita ketika menghadapi situasi yang sulit. Hal itu mempersiapkan diri kita untuk hari pertemuan kita kembali dengan Sang Khalik.

 

Dalam sebuah hadist, Tuhan mengatakan : "Keturunan Adam menyumpahi waktu, dan Akulah waktu. Di dalam Tangan-Ku lintasan siang dan malam.” Bagi mereka yang belum memahami kebenaran ini, waktu terasa berjalan dengan cara yang menganggu dan tak menentu. Hal ini untuk menarik perhatian kita agar merubah diri sendiri untuk mendapatkan harmoni / keseimbangan dalam melewati waktu. Karena waktu itu sendiri, jelas dia tidak terlalu cepat ataupun terlalu lambat untuk mengakomodasi keinginan-keinginan kita.

 

Perasaan kita terhadap waktu adalah karena kemurahan Tuhan. Seperti halnya perut sakit adalah indikasi untuk merubah pola makan, sehingga sakit itu membangunkan kita untuk penyesuaian gaya hidup. Ada yang merasakan waktu cepat berlalu, bagaikan seorang penunggang yang merana diatas punggung kuda yang menyerbu sebuah kawanan ternak lalu menuju sebuah karang. Namun bagi yang lain, waktu seakan tidak bergerak seperti sedang terjerumus di dalam rawa-rawa.

 

Pertama-tama kita harus paham akan nilai dari waktu yang ketika terlewatkan tidak akan diperoleh kembali. Jika seluruh bangsa mengumpulkan sumber-sumbernya dalam usaha menebus satu detik dari masa lalu ( untuk mengubah sebuah keputusan yang menimbulkan petaka, misalnya ) akan berhasilkah mereka ? Tidak ! Sebuah gunung harta tidak bisa membawa kembali satu detik momen penting dalam hidup kalian. Jadi, waktu amat berharga untuk diperhitungkan. Namun orang-orang malah menyia-nyiakannya agar bisa mempunyai waktu rehat lebih banyak. Begitu banyak orang-orang ( bukan saja yang secara klinis mengidap depresi ) yang menderita ketidak mampuan untuk menyesuaikan waktu dengan cara agar tercapai kedamaian pikiran.

 

Nafsu anak-anak muda adalah ingin menelan seluruh dunia ini dengan seketika. Demam panas nafsu pencapaian akan kenikmatan membuat waktu terasa cepat berlalu. Seringkali, dalam waktu yang kritis ini tidak ada kebijaksanaan yang bisa dilatih, lalu memperturutkan kecenderungan ego untuk menghabiskan seluruh energi mereka. Itulah cara mudah untuk menghabiskan energi secara cepat dan ceroboh. Padahal hidup seperti sebuah lari marathon : butuh langkah-langkah, karena jika kalian berlari cepat dari permulaan maka akan roboh setelah beberapa ratus yard. Menyusun kembali sebuah persiapan energi butuh unsur-unsur kontrol diri dan kemauan, dimana hal itu jarang terdapat pada kaum muda.

 

Sebagian anak-anak muda menghindar dari cara-cara spiritual. Hanya ketika mereka sedang “jatuh” dan menderita lalu mereka datang kesini dengan terpincang-pincang untuk “perbaikan”. Ratusan orang datang padaku sambil mengatakan : “ Ya Syaikh, bisakah Anda menolong saya ?" Suatu tugas berat untuk menolong mereka yang telah menghabiskan seluruh tenaganya dengan sia-sia dan mereka yang mempunyai kekuatan fisik dan mental yang sayangnya berada di tingkat yang rendah.

 

Kadang saya merasa heran karena sebagaian dari mereka masih amat muda. Membangkitkan orang mati adalah sebuah keajaiban yang hanya diberikan pada Nabi-Nabi, namun sepanjang masih ada tanda-tanda kehidupan kami berharap mampu membangkitkan mereka dari keadaan koma.

 

Sebagai hasil apa yang dilakukan secara berlebih-lebihan, maka depresi menjangkit kaum muda-mudi ini. Sekarang waktu menjadi tidak cepat berlalu, namun menyeret seperti jalannya seekor keong. Seorang yang depresi berharap waktu akan cepat berlalu namun kenyataannya berlawanan, menit seperti berjam-jam, sejam bagaikan berhari-hari, dan sehari bagaikan berminggu-minggu.

 

Biasanya, orang-orang yang energinya tidak tersalurkan dengan cara yang bermanfaat, dan merasa tidak berhasil dalam hidupnya, akan terjangkit perasaan seperti ini. Begitu tolol bagi mereka yang berharap bahwa waktu akan cepat berlalu, karena seperti yang telah kita sebutkan, waktu bagaikan sebuah perhiasan yang tidak ternilai.

 

Dalam Thareqat Naqsybandi yang mulia ini, kita mempunyai sebuah peraturan yang menonjol : Nilai seseorang berhubungan dengan cara dia menilai waktunya. Jika kalian merasa waktu kalian sebagai sebuah beban yang tak berguna dan berharap untuk cepat berlalu, maka kalian akan menjadi sebuah beban di muka bumi ini, dan lebih baik kalian berada di bawahnya daripada di atas bumi. Mengapa ? Karena kalian dengan ceroboh memboroskan satu harta yang tak ternilai, yaitu energi vital kalian.

 

Sekarang harta tak ternilai yang lain - yaitu waktu - bukan menjadi semacam kemakmuran di tangan kalian, tapi menjadi timbunan tak terukur dibawah tanah yang telah kalian kubur. Bijaksanalah dengan energi vital kalian sehingga nilai dari waktu termanifestasi dalam hidup kalian. Jika kalian menjaga waktu kalian layaknya permata, maka kalian akan diagungkan di mata orang-orang dan di Hadirat Ilahi, disini dan di akhirat kelak.

 

Ada sebuah ungkapan : “ Seorang sufi bagaikan seorang anak bagi waktunya.” Artinya, seorang sufi memperlakukan waktunya dengan pemujaan dan rasa hormat yang sama seperti terhadap orang tuanya sendiri. Sikap baik terhadap orang tua adalah kewajiban utama dalam agama. Dalam thareqat sufi, kita ditekankan untuk menghormati waktu sebagaimana kita menghormati ayah dan ibu.

 

Seorang darwish sejati tidak akan pernah melewatkan sebuah momen dengan percuma, namun menangkapnya seperti seorang joki terlatih yang mengendalikan kudanya. Menggunakan kecakapan seperti itu agar waktu berjalan dengan arah yang benar dan dengan kecepatan yang tepat. Lihatlah seorang darwish sejati, pasti kalian akan menemukan mereka sibuk dengan sesuatu yang berguna, tidak pernah melakukan aktifitas yang merugikan atau yang sia-sia. Jika seseorang mampu menuntun dirinya sendiri pada perbuatan-perbuatan yang mengarah pada kesempurnaan, maka dia tahu apa yang harus dilakukan. Mata hatinya tidak pernah buta; dia waspada akan tanda-tanda akan segala hal yang sedang dihadapinya.

 

Grandshaykh kita sering mengatakan : "Bagaimana kalian mengisi hari-hari kalian ? Jangan sia-siakan waktu, usahakan untuk ‘menenun’ ruang dan waktu sehingga kalian meninggalkan warisan kekal didunia ini dan terhormatlah karenanya disini dan di akhirat kelak. “ Bagi pengikut thariqat, menyia-nyiakan waktu secara ceroboh atau mengisinya dengan aktifitas yang tidak berguna adalah dosa besar. Jagalah energi vital dan waktu berharga kalian, jadikan tiap saat menjadi berguna.

 

Wa min Allah at Tawfiq

posted by mevlanasufi at 11:58 PM


Telanlah Amarahmu, lalu Cernalah!

Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani k

 
Bagi orang-orang di antara kita yang tubuhnya telah ‘di atas bukit’, maksud saya bagi mereka yang telah berusia lebih dari 50 tahun, kita harus menghadapi kenyataan bahwa, tak peduli betapa baiknya kita memelihara diri kita, kekuatan fisik kita akan semakin lemah secara bertahap, dan sedikit demi sedikit kita akan mendekati kematian. Sedangkan bagi kondisi spiritual kita, tak ada batasan semacam itu, tak ada usia atau umur saat kekuatan spiritual berada pada kondisi maksimumnya, lalu berkurang. Kekuatan spiritual akan berlanjut untuk tumbuh lebih kuat selama hidup kita, tetapi kita harus memenuhi kondisi-kondisi yang diperlukan baginya untuk tumbuh dan menyiangi sifat-sifat yang mengancam dan mengganggu tanaman berharga itu.

Salah satu dari gulma (tanaman pengganggu) yang paling berbahaya, yang paling menjadi musuh dari pertumbuhan ruh spiritual kita adalah amarah yang dibangkitkan oleh kekosongan ego kita. Saat amarah timbul, dia akan membungkus cahaya hati dan mengubahnya menjadi api. Cahaya dan Iman adalah cahaya murni dari Tuhan, tetapi ketika dia berubah menjadi api, dia tidak lagi menerangi melainkan membakar.

Saat kalian mendapati diri kalian diliputi amarah, kalian harus segera berlari ke sebuah cermin dan melihat wajah kalian sendiri. Bayangan yang buruk itu seharusnya cukup untuk meredam amarah kalian, karena siapakah yang ingin dirinya terlihat seperti setan? Saat seseorang dalam keadaan marah, perbuatannya akan menjadi perbuatan setani yang merusak, termasuk merusak diri sendiri. Grandsyaikh kita menekankan perlunya kita meninggalkan amarah, karena ketika amarah dari ego mendominasi seseorang, dia mungkin malah bisa menyangkal kedaulatan Tuhan dan melatakkan dirinya sendiri sebagai pemberontak melawan Dia Yang Maha Esa, Yang Maha Kuasa—hal ini sangat berbahaya. Amarah juga akan menyebabkan kerusakan pada tubuh kita, menyebabkan penyakit dan penuaan dini, terutama ketika suatu level amarah yang tinggi dipelihara dalam jangka waktu yang lama.

Sangat sedikit orang yang mampu melawan amarahnya ketika amarah itu menyerang mereka. Inilah mengapa, sangat sedikit orang yang mengalami kemajuan dalam ruh spiritualnya. Alasan dari mengapa amarah demikian sulit untuk ditaklukkan adalah semata-mata karena amarah merupakan suatu bagian intrinsik dari tubuh fisik dan spiritual kita. Amarah terkait dengan elemen api dalam pembentukkan diri kita, yang merupakan keseimbangan antara api, air, tanah, dan udara. Hanya mereka yang telah terlatih sejak dini oleh orang tua atau guru yang ‘tercerahkan’ akan belajar bagaimana menempatkan elemen-elemen ini dalam keseimbangan. Sedangkan bagi sebagian orang, masing-masing dari unsur ini mungkin akan mendominasi dirinya pada kesempatan yang berbeda-beda menurut kondisi eksterior (luar) dan kecenderungan dalamnya, yang akan mengalihkan keseimbangan itu dari titik pusatnya. Api akan menyala ketika dihadapkan pada provokasi dan gangguan atau pada usaha-usaha untuk menghalangi kehendak (dari si anak). Karena hal-hal ini seringkali terjadi dalam kehidupan masa kecil kita, kita semua telah terbiasa untuk menjadi marah, dan ini terjadi sejak usia dini. Grandsyaikh kita juga menganjurkan agar kita melakukan dzikir khusus di malam hari untuk mendapatkan kekuatan lebih dalam perjuangan kita melawan amarah. Saat kalian bangun di tengah malam dan melakukan shalat sunnah (misalnya tahajjud), setelah berwudhu terlebih dahulu, mulailah dengan menghadapkan wajah kalian ke Baitullah (Ka’bah) dan mohon pada-Nya untuk membantu kalian dalam usaha kalian menaklukkan amarah. Kemudian ulangilah lagi seratus kali, "Ya Haliim" yang berarti, "Wahai Allah I Yang Maha Penyantun dan Lambat dalam Murka." Nama ini, al-Haliim adalah suatu sifat Ilahiah dari Allah I yang Dia inginkan untuk dikaruniakan secara berlimpah pada diri kita, seandainya kita mencari dan menginginkannya.

Langkah pertama adalah meminta pertolongan Allah I, dengan cara ini, untuk menolong kita menjadi pemaaf dan penyantun, kemudian kita mesti mentafakkuri (merenungkan) Sifat Ilahiah itu, agar sifat itu pun terserap dalam diri kita. Kita sebenarnya tengah menyerunya agar menjadi bagian dari diri kita. Berikutnya kita mesti melakukan latihan ini dalam kehidupan sehari-hari kita untuk lebih mencapai tujuan kita. Latihan ini, secara sederhana, adalah untuk tidak menunjukkan amarah, bahkan ketika kalian tengah merasakannya mendidih di dalam. Jangan muntahkan amarah itu keluar kepada orang di sekeliling kalian dan meracuni atmosfer di sekeliling kalian, bagaikan seekor naga yang menyemburkan api. Tahanlah di dalam, tetapi bukan seperti seonggok makanan yang tidak tercerna, tidak, kalian harus mencernanya. Pada jumlah tertentu, amarah adalah bagian dari karunia setiap pribadi. Tanpa adanya bagian tertentu dari api itu dalam pembentukan diri kita, kita akan mati; karena itu adalah mungkin bagi kita untuk mencerna sejumlah tertentu amarah tanpa menderita efek sampingan yang buruk. Tentu saja jika kita tetap tidak berubah dalam jangka waktu lama dan menelan jumlah amarah yang sama, kita akan mengalami overdosis; tetapi itu bukanlah kasus yang akan terjadi, karena dengan perjalanan waktu, jumlah amarah yang akan kita telan akan berkurang dalam proses belajar ini, dan kita akan dikaruniai kemampuan untuk tidak bereaksi secara cepat atas suatu provokasi dengan amarah. Maka, sebagaimana seorang bayi, mula-mula meminum susu dalam jumlah yang banyak, kemudian secara bertahap makanan padat, dan mengurangi konsumsi susunya secara drastis; maka kita pun dapat menelan dan mencerna amarah, dengan pengetahuan penuh bahwa bentuk lain dari rezeki (sebagai ganti amarah—red) akan segera datang.

Jika kalian mampu untuk menahan diri dari menunjukkan amarah selama 40 hari, kalian akan melampaui suatu titik sejarah baru. Saat amarah itu menyerang kalian, kalian harus menghindarinya, dan saat dia akan keluar dari diri kalian, kalian harus menelannya. Jika kalian berhasil menghindarinya selama 40 hari, amarah akan mulai menyerang kalian dalam frekuensi yang lebih jarang: satu kali setiap 40 hari. Jika kalian mampu menjaga diri kalian dalam sikap seperti ini selama 40 hari pertama, dan seterusnya, menghadapi 40 serangan berikutnya (40 periode dari 40 hari, atau lebih dari 4 tahun), Setan akan mengumungkan pada bala tentaranya: "Tak perlu mengganggu orang itu; kita hanya membuang waktu dan energi. Pertahanannya tak tertembus: 1000 kali serangan sama sia-sianya dengan 1 kali serangan. Biarkan dia sendiri, dia telah lari dari tangan kita." Pembantu dan bala tentara Setan adalah nafsu yang egois, keinginan-keinginan kosong dan keduniawian, ini adalah 4 musuh terbesar. Dan siapa yang belajar untuk mengendalikan amarahnya, dia akan menang melawan pengaruh-pengaruh dasar ini.


Setiap kali kalian merasa amarah tengah muncul, kalian harus waspada bahwa kalian tengah diuji. Ujian-ujian seperti itu dikirim kepada kita dari dunia spiritual untuk menguji kepercayaan (amanah) kalian. Peristiwa-peristiwa yang tidak disukai dikirim dari hakikat itu agar kalian memiliki kesempatan untuk bersikap penyantun dan pemaaf, hingga kalian pun mampu maju meraih tujuan kalian. Seandainya tak ada manfaat dalam amarah, tentu dia tak akan pernah ada. Manfaat amarah akan dijumpai pada bersikap sabar ketika kita dihadapkan dengannya. Tanpa melalui ujian ini takkan pernah ada kemajuan.

Sikap penyantun dan pemaaf adalah suatu kunci menuju maqam-maqam Ilahiah, dan kunci itu dicetak dengan menghadapi peristiwa-peristiwa yang tidak mengenakkan dengan kesabaran dan pengendalian amarah. Jadi amarah adalah pedang bermata dua, jika kalian dapat memegang gagangnya dengan kokoh, kalian akan mampu menyingkap tirai yang membutakan mata hati kalian, tetapi jika dia berada di tangan musuh-musuh kalian, iman kalian pun dalam keadaan bahaya.

 

Wa min Allah at taufiq

Pentingnya Latihan Hindari Argumentasi


Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani k

 Sebuah Jalan adalah jalan dengan perilaku yang baik. Setiap orang harus mempelajari perilaku yang baik sehingga dia akan menjadi orang yang baik. Orang bisa memiliki sifat-sifat yang baik atau sifat-sifat buruk. Menurut fitrahnya, setiap orang tanpa didukung latihan mempunyai karakteristik yang buruk. Ego sangat kuat pada awalnya. Agar memiliki karakteristik yang baik kalian harus mengambil alih kekuasaan dari tangan egomu. Jika kalian telah membiarkan diri kalian berada dalam genggamannya maka kalian akan menjadi pribadi yang buruk. Oleh sebab itu, pada saat yang bersamaan Allah I menciptakan manusia pertama. Dia menjadikannya sebagai seorang Nabi. Manusia pertama adalah Nabi yang pertama sehingga dia bisa mengajarkan anak-anaknya perilaku dan karakteristik yang baik. Manusia membutuhkan latihan, oleh sebab itu Allah I memberikan orang tua untuk mendidiknya ketika mereka masih bayi dan anak-anak. Tetapi latihan dari Rasul adalah latihan yang paling penting. Yang lainnya hanya mengajarkan kalian untuk memenuhi keinginan ego. Rasul mengajarkan kita untuk menyelamatkan kita dari keinginan ego, karena keinginan ego tidak ada batasnya, dia akan terus meminta dan meminta terus, tidak akan ada batasnya. Dengan mengikuti keinginan ego kita akan merasa lelah dan akan mati dalam keadaan lelah pula. Rasul mendidik kita untuk berhenti pada batas-batas tertentu, menjaga seseorang dari kerja yang tak berakhir dan penuh keletihan. Mereka mengajarkan kita tentang maksud dari hidup ini, mereka menunjukkan tujuan kita. Siapa pun yang mengikuti jalan ini akan memiliki sifat-sifat yang baik karena didikan Rasul merupakan suri tauladan yang baik bagi semua orang. Kini Rasul-Rasul itu telah tiada, namun deputi mereka dapat ditemukan jika orang mencarinya. Mereka mengajarkan orang untuk menyelamatkan diri mereka dari serangan ego.

Sekarang salah satu perilaku baik adalah untuk mendengar dan beraksi: obat untuk diambil. Orang yang sakit tidak meletakkannya di meja dan meninggalkannya begitu saja. Perilaku baik adalah dengan bertindak. Mendengar setiap orang yang berbicara kepada kalian juga suatu perilaku yang baik. Perilaku yang buruk adalah berargumentasi. Jika kalian 100% benar, secara konkret benar, tetap saja tidak perlu berargumen. Ini merupakan hal yang terlarang. Jika kalian melihat bahwa orang itu ingin mengetahui mana yang benar, baru kalian boleh bicara. Ada suatu pintu untuk dimasuki. Tetapi jika kalian melihat bahwa orang itu hanya ingin berargumentasi, kalain sebaiknya meninggalkannya, karena dia tertutup. Cukup katakan kepadanya, "begitu ya!" Tidak pernah ada manfaat dari berargumentasi, orang hanya akan saling bermusuhan karenanya. Inilah arti dari ayat, "Lakum diinukum waliya diin," "Bagimu agamamu dan untukku agamaku." Argumentasi memadamkan cahaya Iman dalam hati kita. Mungkin beberapa kata akan datang kepadamu yang belum pernah kalian pikirkan sebelumnya dan menyebabkan Imanmu menurun. Derajat tertinggi dari perilaku baik adalah jangan berargumen dan jangan berkata, "tidak, betapa bodohnya." Tidak ada persahabatan setelah berargumentasi, hati menjadi dingin. Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani k berkata bahwa Grandsyaikhnya tidak pernah menyangkal kata-kata orang lain bahkan dari hadapan orang-orang yang tidak pandai berbicara. Tetapi kemudian ketika beliau berbicara di depan sekelompok orang, beliau akan merujuk ke permasalahan itu dan orang-orang yang terkait akan mengetahuinya, "Ah, ini untukku." Lalu mereka akan mempertimbangkan ucapannya. Setiap orang ingin dihormati. Itu berarti jangan tunjukkan gigimu seperti anjing. Manusia tersenyum.

Penyakit Hati

Seorang wali besar yang merasa dirinya begitu dekat dengan Tuhan, Ibrahim Al Khowasi, pada suatu hari sedang melakukan safar, sebuah perjalanan untuk mendalami makrifat dan hakikat. Ia telah menempuh gunung demi gunung, hujan dan panas, sampai akhirnya ia  kehausan di tengah-tengah suatu padang yang tandus

Matahari amat terik menyengat sekujur tubuhnya sehingga zat cair di dalam jasadnya bagaikan diperas habis. Pada waktu dahaganya kian memuncak dan bibirnya sudah pecah-pecah, dengan mata yang berkunang-kunang Ibrahim Al Khowasi melihat di atas sebuah bukit kecil ada sebatang pohon delima, satu-satunya pohon buah di antara semak-semak gurun yang berduri.

Terseret-seret langkahnya tatkala ia bergegas-gegas menuju ke bukit itu. Beruntung dia, di pohon tersebut terdapat sebutir buah delima, kecil tetapi kuning ranum kemerah-merahan. Tanpa berpikir panjang lagi, Ibrahim Al Khowasi dengan gembira memetik buah itu dan segera memecahkannya, lantas memasukkannya ke dalam mulut.

Ia sudah membayangkan sebelumnya betapa nikmat dan segar rasanya apabila di tengah panas seterik itu memakan delima yang matang. Ternyata yang dibayangkan tidak seperti yang dialaminya. Buah delima  itu rasanya hambar dan pahit sampai ia memuntahkannya buru buru, karena di mulutnya bahkan terasa getir dan gatal.

kemudian ia meneruskan perjalanan. Hari telah rembang petang ketika ia tiba di sebuah daerah yang subur dan penuh di tumbuhi bunga-bungaan yang sedang berkembang serta menyebarkan bau harum. Ketika ia akan beristirahat, tiba-tiba terdengar suara tua mengerang ngerang kesakitan di balik bunga-bungaan yang rimbun. Ibrahim cepat-
cepat mendatangi tempat itu dengan maksud hendak memberikan pertolongan seandainya diperlukan.Di situ ia melihat seorang kakek yang terbaring tanpa daya dengan tubuh bengkak-bengkak bekas disengat lebah berbisa. Ibrahim berjongkok mau menolong kakek itu, namun si kakek sudah keburu bangkit, lantas duduk seraya berkata, " Apa kabar, Ibrahim Al Khowasi?"

Wali besar ini kaget. Ia bertanya, " Siapakah Tuan? Di mana Tuan mengenal saya, dan kapan kita pernah berjumpa." Kakek tadi menjawab dengan angkuh, "Wahai , Ibrahim, mengapa heran? Aku ini orang yang sangat dekat dengan Tuhan. Aku tidak perlu bertemu dulu untuk mengenal dirimu dan mengetahui apa tujuan kepergianmu."

Ibrahim tersinggung. Sombong betul kakek ini. Maka ia menjawab, "Hai, orang tua, alangkah angkuhnya sikapmu. Engkau mengaku dekat dengan Allah, tetapi badanmu penuh dengan luka luka membengkak akibat sengatan lebah berbisa. Kalau memang engkau dekat dengan Allah, bukankah seharusnya, tatkala lebah-lebah itu hendak menyerang tubuhmu, engkau bisa memohon kepada Allah agar melindungimu dari serbuan binatang-binatang kecil itu?"

Kakek tersebut tersenyum dan menyahut, "Ternyata engkau masih picik, Ibrahim. Aku tahu engkau pun menganggap dirimu telah dekat dengan Allah. Namun mengapa ketika tanganmu terangkat keatas akan memetik buah delima yang engkau tidak tahu siapa pemiliknya dan engkau belum minta izin kepadanya, engkau tidak memohon agar Allah melindungimu dari perbuatan curang seperti itu? Ibrahim, sakitku ini akibat disengat lebah hanyalah sakit badan kasar yang akan sembuh kembali, di obati ataupun tidak.
Tetapi penyakitmu yang masih mudah tergiur oleh hawa nafsu adalah penyakit dalam, penyakit hati, yang akan terus mengeram dan menyebar menjadi benih benih maksiat sepanjang hidupmu apabila engkau tidak segera bertaubat.

Karena itu pulanglah engkau kenegerimu, renungkanlah dosamu, obatilah penyakit hatimu sebelum engkau berusaha mengobati orang lain. Banyaklah berpuasa, berdzikir, mengingat Allah, di samping beramal  menyebarkan manfaat dan kebaikan kepada masyarakat sekelilingmu, kepada alam sekitarmu tempat engkau dibangkitkan Tuhan untuk menjadi orang suci, pelihara amanat Tuhan ini.

(dikutip dari "30 Kisah Teladan")