August 16, 2006

Kesibukan, Sikap dan Perilaku Kita

Oleh: A. Mustofa Bisri

Barangkali kita, khususnya yang tinggal di kota, memang terlalu sibuk. Urusan kita untuk kepentingan kita sendiri begitu banyak, sehingga jatah waktu yang 24 jam rasanya tidak cukup. Coba hitung sendiri; berapa jam untuk bekerja mencari nafkah? Berapa untuk olah raga termasuk senam pagi agar kondisi tubuh fit? Berapa untuk rekreasi termasuk rekreasi dinamis untuk menyegarkan kembali fikiran yang stress? Berapa untuk kerja-kerja sosial seperti arisan dan sebagainya? Berapa untuk kegiatan-kegiatan organisasi ini itu? Berapa untuk istirahat dan tidur? Lalu membaca Koran/majalah, nonton tv dan sebagainya dan seterusnya? Belum lagi jika dihitung ‘kegiatan’ menunggu dalam kemacetan lalu lintas.

Jadi umumnya kita memang tak cukup punya waktu untuk njlimeti persoalan yang tidak atau tidak segera tampak ada kaitannya langsung dengan kepentingan diri kita sendiri ? Kiranya untuk persoalan-persoalan yang seperti itu, ‘partisipasi’ kita cukuplah dengan meramaikan sambil lalu bersama mass media. Misalnya dengan sedikit menyumbang pernyataan atau pendapat, sedikit usulan atau kalau perlu protes dan demontrasi. Nanti persoalan-persoalan itu pun akan selesai dengan sendirinya.

Mereka yang mempunyai gairah, semangat dan kepedulian, yang besar terhadap agama pun, apabila terdorong ghirah mereka untuk menanggapi suatu persoalan sering kali tidak sempat sekedar menengok tuntunan agama mereka sendiri itu mengenai bagaimana seharusnya menanggapi persoalan semacam itu yang menyangkut agama, kalaupun ada konsultasi sebelumnya paling banter yah kepada akal pikiran dan emosi atau itikad kelompok sendiri jarang yang sampai kepada Allah, untuk dan demi siapa mereka hidup dan beragama.

Ambilah contoh persoalan-persoalan yang menyangkut ukhuwah islamiah dan muamalah bainan-naas kalaupun merujuk misalnya kepada firman Allah atau Rosul Nya, biasanya terlebih dahulu kita kenakan “kaca mata hitam putih” kita sendiri. Kita benci dulu kepada saudara kita, misalnya lalu kita mencari-cari dalil-dalil yang bisa mengkaitkannya dengan hal yang tidak disukai Allah; dengan demikian akan mudah kita mengambil keputusan saudara kita itu dibenci Allah; karena kita perlu ganyang. Kita curiga dulu terhadap suatu kelompok, setelah itu mudah kita cari hujjah atau argumentasi membabat setiap gagasan, atau bahkan sekedar pendapat, dari kelompok tersebut.

Ini jauh lebih mudah. Tidak banyak menyita waktu dan energi, ketibang harus cape-cape mengatur diri agar obyektif, mengkaji masalah secara jernih; dan dengan lurus merujuk firman Allah dan atau sabda Rosul-Nya.

Waba’du; Allah menyuruh kita kaum Mukminin untuk menjauhi prasangka-prasangka mencari-cari kesalahan orang lain dan menggunjing sesame (Q.s.49:12). Tapi mana kita punya waktu untuk lebih dari sekedar perprasangka dan mencari-cari kesalahan orang lain, kalau kita terlalu sibuk dengan diri kita dan kelompok sendiri?

Biasanya dengan dalih menegakkan kebenaran atau menjaga kesucian agama, prasangka dan larangan-larangan yang sudah digariskan Tuhan pun lalu diangap halal atau dilupakan. Padahal menegakkan kebenaran bagi kaum beriman pun ada cara dan rambu-rambunya. (Baca misalnya, Q.s.4:135 Q.s 5:8) Atau kita juga punya cukup waktu atau na’udzu billah, kita terlalu angkuh dan merasa tidak perlu untuk mendengarkan firman Allah tentang sikap dan prilaku yang harus kita ambil dan jalani? Semoga Allah mengampuni kita.

August 14, 2006

Makna Taubat

Apakah Makna ‘Taubat’ itu?

HerryMardian, Yayasan Paramartha.

Sahabat sekalian, jika jauh di dalam qalbu anda sudah ada ada  kebutuhan untuk mencari Allah, ingin tenteram, ingin mengetahui agama lebih baik, atau gelisah mencari kesejatian, maka ketahuilah bahwa Allah masih berkenan memanggil anda untuk bertaubat.

Taubat sesungguhnya merupakan panggilan Allah. Manusia sama sekali tidak bisa membuat dirinya sendiri ingin bertaubat. Allah sendirilah yang menumbuhkan keinginan bertaubat di dalam kalbu anda. Sebagaimana firman-Nya:
“Kemudian Tuhan memilihnya, maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.” (QS 20:122)

“Barangsiapa mengehendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. Dan kamu tidak akan mempu menempuh jalan itu kecuali bila dikehendaki Allah.” (QS. 76:29-30)

“…Bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat mengendaki (menenempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. 81: 28-29)

Keinginan Taubat Keinginan taubat itu timbul karena dipilih-Nya. Maka dari itu, jika sekarang dalam hati anda mulai tumbuh kegelisahan makna hidup, atau keinginan kembali kepada-Nya, mulai timbul keinginan akan ketentraman bersama-Nya, mulai ingin mencari jalan-jalan yang mendekatkan diri kita kepada-Nya, Itu adalah panggilan-Nya. Maka sambutlah panggilan-Nya itu.

Jika kemudian mulai tumbuh perilaku kita yang ‘mencari jejak-Nya’, seperti mencari-cari pengajian yang baik, mencari-cari bahan di internet, mulai mencari-cari buku tentang Tuhan dan agama, maka syukurilah. Ini berarti bahwa Dia masih mengingat anda. Dia masih memanggil anda untuk mendekat, untuk pulang kepada-Nya. Dia masih menghendaki anda kembali kepada-Nya. Allah sendirilah yang menumbuhkan keinginan ini dalam hati anda.

Oleh karena itu, janganlah kita sia-siakan kesempatan ini. Jangan abaikan panggilan-Nya ini. Jangan sampai dia merasa panggilan-Nya kita abaikan. Karena sebagaimana kita pun, jika orang yang kita harapkan terus mengabaikan kita, lama-kelamaan kita pun akan melupakan orang itu. Camkanlah, bahwa tidak setiap orang akan dipanggil-Nya. Tidak setiap orang terpilih untuk ditaubatkan-Nya.

Sangat sedikit orang yang ditumbuhkan keinginan untuk mulai mencari Allah di dalam hatinya. Perhatikanlah, bahwa amat banyak orang mencari pengajian dengan niat mencari kawan, mencari kelompok, mencari pengakuan orang lain sebagai ‘orang pengajian’, mencari ketentraman sesaat, meniti karir di partai politik, mencari hapalan dan pengetahuan ayat, mencari bahan diskusi, dan sebagainya. Sangat sedikit, sekali lagi sangat sedikit, orang yang benar-benar mencari pemahaman akan hakikat hidup maupun kesejatian (Al-Haqq).

Jika kita tidak mau bertaubat, tidak mengindahkan panggilan-Nya itu, maka kita termasuk orang yang zalim. Definisi ‘zalim’, menurut Al-Qur’an, adalah tidak mau bertaubat.
“Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. 49:11)

Jika panggilan-Nya ini kita abaikan, maka kita akan semakin berputar-putar saja di dunia ini, dan kalbu kita akan semakin buta saja. Oleh karena itu, akan semakin susah sajalah kita memperoleh petunjuk-Nya, ketika kalbu kita menjadi buta.
“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS 20:124)

“Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah kalbu (quluubun) yang ada di dalam dada.” (QS 22:46)

Apakah ‘Taubat’ ? Apakah ‘taubat’ itu? Taubat bukanlah istighfar. Hanya semata mengucapkan ‘astaghfirullah’, walaupun seribu kali, bukanlah taubat.
Sebagaimana qur’an mengatakan, “Karena itu beristighfarlah kepada-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya” (QS. 11:61). Maka, dari ayat di atas, jelas nampak bahwa Istighfar dan taubat adalah dua hal yang berbeda. Kata ‘taubat’ berasal dari kata ‘taaba’, artinya ‘kembali’.

Taubat adalah sebuah ‘keinginan’, kegandrungan, kebutuhan akan Allah, maupun segala yang dapat membuat kita lebih mengenal-Nya. Oleh karena itu, landasan taubat adalah mencari Allah, mencari kesejatian, mencari hakikat kehidupan ini. Orang bisa saja mengucap istighfar ribuan kali sehari, tapi sama sekali tidak bertaubat. Orang bisa zikir ribuan kali, dengan niat supaya cerdas, supaya sakti, supaya bisa mengobati, supaya karir bagus, supaya lulus ujian, macam-macam. Rajin shalat malam, supaya berwajah cerah dan cantik. Rajin puasa, supaya sehat, supaya tidak gemuk.
Di mana Allahnya? Mungkin Allah kita tempatkan nomor dua atau tiga. Maka dari itu, pertama sekali, kita murnikan niat kita dahulu. Kita niatkan semuanya hanya untuk kembali kepada-Nya (taubat), supaya semakin diberi-Nya petunjuk bagaimana taubat yang benar itu. Supaya diajari-Nya hakikat kehidupan ini.

Tidak bertaubat Jika kita tidak kembali kepada Allah (taubat), maka termasuk ke dalam golongan orang-orang yang zalim. Definisi ‘zalim’, menurut Al-Qur’an, adalah tidak mau bertaubat.

“Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. 49:11)
Padahal, Allah tidak akan pernah memberikan petunjuk-Nya kepada orang-orang yang zalim. Ketegasan-Nya ini diulang berkali-kali dalam Al-Qur’an, sebagai peringatan supaya kita benar-benar memperhatikan hal ini.
“Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (2:258)”
“Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (5:151)

Demikian pula kalimat yang sama bisa kita temukan pada Q.S. 6:144, 9:19, 9:109, dan 28:50. Maka dari itu, jika kita tidak bertaubat, tidak berusaha kembali kepadaNya, maka kita akan semakin sesat saja. Bahkan hal ini ditegaskanNya bahwa ia akan menyesatkan mereka yang zalim.

“Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim (14:27).” Jika kita tidak bertaubat, kembali pada Allah, maka sudah barang tentu akan semakin jauh saja kita dari petunjuk-Nya. Hidup kita pun dengan sendirinya akan terlempar-lempar dari satu masalah ke masalah yang lainnya saja, jauh dari petunjuk-Nya. Ke’MahaPengampun’an Allah Kita mengetahui bahwa Allah Maha Pengampun. Tapi, Maha Pengampun terhadap siapa?

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal shaleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (QS. 20:82). Allah Maha Pengampun pada yang bertaubat (saja).

Jika kita bertaubat, kembali kepada-Nya, maka barulah asma ‘Maha Pengampun’ ada implikasinya terhadap kita. Jika kita misalnya dikenal sebagai orang yang pemaaf, tentu sifat pemaaf kita tidak ada implikasinya terhadap orang yang tidak kita kenal. Jadi, kepemaafan kita berlaku pada orang tertentu saja, tidak dengan sendirinya pada semua orang. Demikian pula Allah. Dia Maha Pengampun (hanya) kepada mereka yang bertaubat.

Kepada yang tidak bertaubat, walaupun dia dikenal dengan Maha Pengampun, tentunya tidak ada hubungannya. Ke-Maha Pengampunan-Nya tidak ada implikasinya sama sekali kepada mereka yang tidak bertaubat, kepada mereka yang tidak berusaha kembali kepada-Nya. Jika kita hanya istighfar saja, maka belum tentu Allah Maha Pengampun kepada kita.

Tapi jika kita bertaubat, kemudian memperbaiki diri, maka Allah Maha Pengampun kepada kita. Taubat –harus– diikuti dengan memperbaiki diri, supaya taubat kita diterima oleh-Nya. Demikianlah yang kita lihat pada ayat-ayat berikut ini: “Maka barangsiapa bertaubat sesudah melakukan kejahatan dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 5:39)

“Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 24:5)

“Barangsiapa yang berbuat kejahatan diantara kamu karena kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 6:54)

Sebagai penutup tulisan tentang taubat, mari kita hayati penggalan puisi Jalaluddin Rumi di bawah ini: Jalaluddin Rumi tentang Taubat Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka, maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan. Begitulah caranya! Jika engkau hanya mampu merangkak, maka merangkaklah kepada-Nya! Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk, maka tetaplah persembahkan doamu yang kering, munafik dan tanpa keyakinan; karena Tuhan, dengan rahmat-Nya akan tetap menerima mata uang palsumu! Jika engkau masih mempunyai seratus keraguan mengenai Tuhan, maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja. Begitulah caranya! Wahai pejalan! Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji, ayolah datang, dan datanglah lagi! Karena Tuhan telah berfirman: “Ketika engkau melambung ke angkasa ataupun terpuruk ke dalam jurang, ingatlah kepada-Ku, karena Aku-lah jalan itu.” Wallahu ‘alam, Semoga bermanfaat.