Palestina
| Jul 14, ‘06 7:28 AM for everyone |
| Category: | Books |
| Genre: | Biographies & Memoirs |
| Author: | Halima Alaiyan
Dikutip dari : http://cahayahati.multiply.com
|
Halima Alaiyan lahir di Ibdis, Palestina, bersama keluarganya mereka melarikan diri dari Palestina, saat Israel didirikan tahun 1948. Kemudian mereka hidup dalam pelarian di Mesir, usia 16 tahun ia dinikahkan dengan sepupunya, yang kemudian pergi ke Jerman untuk kuliah kedokteran.
Sedangkan ia dan anak-anaknya dikirim kembali ke orang tuanya di Gaza. Tak lama kemudian ia pun diperkenankan oleh suaminya menyusulnya ke Jerman tapi tanpa anak-anaknya.
Di Jerman ia bertahan dan berjuang untuk hidupnya dan kedatangan anak-anaknya walau tanpa sepenuhnya izin suaminya, ayah dari anak-anaknya.
Ia seorang perempuan Palestina, yang berjuang demi anak-anaknya dan harga dirinya di Jerman, di mana kemudian ia berhasil juga menyelesaikan kuliah kedokteran dan menjadi seorang spesialis Ortopedi, di mana ia sekarang hidup di Saarbrücken. Saya cuplik sedikit kalimat-kalimat dari autobiografi itu yang menurut saya sangat menyentuh di bawah ini …
"…Hanya jika ia menceritakan tentang Palestina, maka ia tampak sedih, lemah dan penuh rindu. Air mata memenuhi wajahnya setiap kali ia membicarakan tanah air kami yang hilang …… (hal 17)"
"….pemilik tanah itu tidak mengatakan lagi sesuatu. Ia kemudian bertanya pekerjaan saya di Palestina. Saya katakan padanya: Tuan, saya sebetulnya memiliki banyak tanah, rumah besar di desa kecil Ibdis, tidak jauh dari Jaffa, dengan kuda, kambing, bebek, angsa, kelinci dan merpati, dengan pohon kacang, citrun dan jeruk, anggur dan ladang gandum. Kami sebenarnya keluarga cukup besar, berada dan dikenal umum. Hanya tinggal kamilah yang tersisa dari serangan Israel itu.
Kemudian, jawab pemilik tanah Mesir itu : ‘Kalian ingin bahwa orang Inggris pergi dari Palestina. Seharusnya kalian biarkan saja mereka di tanah kalian dan jangan melawan mereka. Tentulah mereka sekarang dapat melindungi kali dari serangan Israel. Kami di Mesir melihat orang Inggris sebagai teman. Seharusnya kalian juga dapat berbuat seperti itu. Tapi kalian tidak ingin ada orang Turki atau Inggris atau kekuatan lain di tanah kalian. Kalian ingin memerintah sendiri Palestina tapi kalian sendiri terlalu lemah, sehingga orang Yahudi yang di mana-mana diusir dan dibunuh, dapat menduduki Palestina dan dengan mudah mengambil begitu saja tanah kalian. Dan kukatakan pada kalian, akan sulit merebut Palestina kembali dari tangan mereka ….(hal28) "
"… aku perhatikan, bagaimana ia memandang adikku dan air matanya membasahi wajah dan menetes ke dadanya. Keheningan seperti ini sebelumnya tidak pernah kurasakan. Itulah keheningan sebuah kematian …(hal 40) "
"… Malam hari Irmgard dan Reinhard mengunjungi kami di apartemen baru. Karena mereka baru saja mendengar berita koran dan khawatir akan keadaan kami.
‘ Kapankan sebenarnya orang Yahudi mulai hidup di Palestina ?’ tanya Irmgard. ‘Kurang lebih seribu tahun sebelum lahirnya nabi Isa’ jawab Ahmed. Mereka datang dari Ur, Irak sekarang dan kemdian menetap di kanaan biblis. Kurang lebih daerah orang Palestina, yang mana oleh orang Ingris dibuat batas sebagai daerah mandat mereka setelah perang dunia ke-1. Orang Yahudi dulu adalah orang asing, yang kemudian hidup bersama dengan orang Kanaan, leluhur kami, dengan damai.’
Kemudian lanjut Irmgard’ Setelah perang dunia kedua banyak negara yang menganggap wajar orang Yahudi mendapatkan tanah, itukan bagaimanapun tanah suci mereka’
‘Tanah suci di Palestina bukan saja milik orang Yahudi !’ Ahmed memanas, ‘di sana juga ada tanah suci beberapa agama lain’
‘Tapi bukankan tanah yang diduduki orang Yahudi tidak dihuni ?? katanya di sana hanyalah padang pasir saja’ tanya Reinhard ikut bergabung dalam diskusi kami.
‘Apakah itu cukup dapat menjadi alasan untuk dengan begitu saja mengambil tanah air kami ?’ jawab Ahmed dengan wajah ketus ‘Dan lagi di sana tumbuh pohon kacang, jeruk, citrun dan buah zaitun yang terkenal. Saya tidak tahu siapa yang mengatakan bahwa itu hanyalah padang pasir yang tidak ada tanaman dan tidak dihuni. Itu adalah isapan jempol belaka, alasan tertutup untuk melegalkan pencurian tanah air kami.’ ….. (hal 151-152) "
"…. Mama, mama seorang dokter, tolonglah aku agar cepat mati … jangan biarkan aku terlalu lama dengan rasa sakit ini ‘ pintanya berkali-kali. Tapi aku tidak bisa memenuhi keinginannya. Bila melihat penderitaannya, aku harap aku bisa tapi aku tidak memiliki keberanian untuk itu … (hal 255)"
"….Setelah kematian Talat, putraku, mulailah hari-hari yang sulit buatku. Suatu hari aku berdiri di dapur putriku dan mengeluhkan padanya karena aku tidak berkewarganegaraan juga mengeluhkan kesepianku. Gada, putriku, pergi membuat kopi dan mengisi dua cangkir kemudian menaruhnya di atas meja dan kemudian berujar dengan serius: ‘Mama, duduklah. Minum kopimu dan dengarkan baik-baik. Jangan potong aku … dengarkan saja apa yang akan kukatakan ya …. Kenapa mama mengeluh ? Mama tumbuh dalam keluarga yang melindungi, di negara yang aman. Mama telah mendapat tempat pelarian di negara Arab dan Jerman, telah menyelesaikan kuliah dan dapat memberi nafkah keluarga. Mama … mengeluh hanya bolah dilakukan ibu-ibu yang hidup di Gaza dengan anak-anaknya, yang tidak dapat mereka lindungi dari rongrongan para serdadu, para penyiksa dan teroris.
Aku harus saksikan waktu kecil bagaimana rumah-rumah dijarah, bagaimana kakek dulu dipukuli, bagaimana para perempuan dibawa, dilukai dan dibiarkan tergeletak. Aku harus saksikan, bagaimana serdadu Israel membawa pergi anak muda seumurku dan mereka tidak pernah kembali lagi. Aku alami, bagaimana kakek dulu dengan Talat, kakakku, diusir dari satu dokter ke dokter lainnya. Jika Talat masih di Gaza tentulah ia sudah lama tiada, di sini bagaimana pun ia bisa hidup sampai berumur 22 tahun. Untuk itu mama harus berterimakasih .. karena mama beruntung berada di Jerman, mama berhasil melindungi kami, anak-anakmu, dengan aman, dan kita bisa hidup dengan damai dan dalam kebebasan. … (hal 264) "
Cat:
- Uncategorized | Time: 7:01 am (UTC+8)
