July 21, 2006

Rahasia Zidane kapan terbuka?

Kapanlagi.com - Zinedine Zinade (34) pasti "memendam rahasia" yang hanya ia sendiri dan bek tengah Italia Marco Materazzi yang mengetahuinya.

Mengapa Zidane tidak bersedia memberikan komentar atau menyebutkan apa yang dikatakan Marco Materazzi kepadanya, sehingga ia menanduk dada pemain Italia itu dengan tanpa ada bola di dekat mereka?

Dalam berbagai pertandingan, berapa kali Zidane dikasari di lapangan, atau diganjal dari belakang atau samping, tetapi ia tetap sabar tidak membalas.

Perlakuan kekerasan fisik kepadanya tidak diindahkannya, tetapi perkataan yang keluar dari mulut Materazzi membuatnya tersentak, berang, membalikkan badannya dan membenturkan kepalanya ke bagian dada lawannya dalam pertandingan menit ke-119 masa perpanjangan waktu kedua melawan Italia di Stadion Olympia, Senin dinihari (10/7-2006).

Beberapa saat sebelum Zidane menanduk lawannya, mereka terlibat dalam pembicaraan serius. Materazzi pasti mengeluarkan kalimat yang amat menyinggung perasaan Zidane, karena ia kembali berbalik arah menghadap lawannya, setelah sebelumnya meninggalkannya.

Walaupun kedua pemain itu belum mengeluarkan pernyataan mengenai percekcokan mereka, Fantastico, satu acara di Globo, menggunakan sejumlah ahli pembaca-bibir yang menyatakan tayangan insiden itu menunjukkan bahwa pemain Italia tersebut dua kali menghina saudara perempuannya, dengan mengatakan "pelacur".

Program tersebut mengklaim Materazzi mengeluarkan komentar serupa dua kali sebelum kemudian menggunakan satu "kata yang kasar" terhadap Zidane.

"Ia memberitahu saya, Materazzi mengatakan sesuatu yang sangat serius kepadanya tetapi ia tidak memberitahu saya apa yang dikatakannya itu," ujar Migliaccio dalam program itu.

Zidane belum mengeluarkan pernyataan apa pun mengenai insiden itu tetapi ada laporan menyebutkan Materazzi telah mengatakan "teroris" atau menyatakan ia tidak berhak bermain untuk Perancis — kedua penghinaan itu didasarkan atas leluhur Zidane yang berasal dari Aljazair, namun Zidane sendiri kelahiran Perancis.

Materazzi membantah bahwa ia memanggil Zidane seorang teroris, dengan menyatakan: "Itu sama sekali tidak benar, saya tidak menyebutnya teroris. Saya memang bodoh, saya bahkan tidak mengetahui apa artinya itu."

"Menurut beberapa sumber yang mengetahui dari dunia sepakbola, tampaknya pemain Italia Marco Materazzi menyebut Zinedine Zidane seorang teroris kotor," demikian pernyataan SOS Racism.

Tetap Sebagai Ikon

Berbagai komentar muncul di media massa, ada yang menjatuhkan Zidane dan ada pula yang tetap menghormati dan menghargainya, apalagi ia tetap terpilih sebagai pemain terbaik dan mendapatkan Golden Ball hasil pilihan wartawan peliput Piala Dunia.

Presiden Perancis Jacques Chirac yang berada di Berlin menonton pertandingan, mengatakan Zidane tetap sebagai ikon seorang pemain sepakbola paling terkemuka kendati ia sudah menyatakan akan menguundurkan diri dari kancah permainan rumut hijau itu.

"Saya tidak tahu apa yang terjadi sehingga ia mendapat hukuman itu. Saya tetap memberikan penghargaan kepada atas kontribusi amat indah yang telah diberikan Zizou kepada olahraga. Ia manusia hebat yang sulit dicari duanya. Ia symbol olahragawan Perancis yang amat bersahaja," kata Chirac.

Tokoh nomor satu penyelenggara turnamen Piala Dunia FIFA 2006, Franz Beckenbauer, pun amat memuja Zizou, panggilan Zidane, yang namanya dikenal jutaan orang dari tua hingga kanak-kanak di berbagai pelosok dunia.

Sang Kaisar Beckenbauer menyatakan ia amat mengetahui sifat dan karakter Zidane dan ia yakin pemain sepakbola kelahiran Aljazair itu terkena provokasi.

"Tidak mungkin ia melakukan itu bila tidak ada sesuatu yang luar biasa. Zidane adalah pribadi yang bersahaja dan tenang," kata Beckenbauer.

Pelatih tim nasional Perancis Raymond Domenech sendiri tidak mengetahui apa yang terjadi pada anak asuhnya itu, namun ia menyatakan simpati dan mendukung Zidane.

Ia malah menilai media Perancis tidak adil menghujat pemain handal yang mencetak gol pertama pada pertandingan final melawan Italia itu.

"Ada saatnya seseorang itu melakukan kekelirian dalam hidupnya. Saya tidak memvonis Zidane, saya memahaminya kendati menyesalkannya," kata Domenech.

Siaran ulang televisi menunjukkan Zizou dan Materazzi sama-sama tersenyum setelah sempat berseteru di dekat area penalti, namun tiba-tiba Zidane kelihatan berbalik dan menanduk lawannya. Media Perancis berspekulasi Materazzi kemungkinan mengatakan sesuatu yang buruk tentang dia atau ibunya atau saudaranya.

Sensitif Zizou

Zinadine Zidane atau Zinadine Yazid Zidane atau Zin ad-Din Zidan lahir di Marseille 23 Juni 1972. Ejaan nama pertamanya berarti "hiasan kepercayaan" dan kata kedua namanya "tumbuhnya kepercayaan".

Ayah Zidane adalah keturunan Afrika Utara bernama Kabyles, seorang Muslim non-Arab dari semenanjung Aljazair. Mereka bermigrasi ke Perancis pada 1960 dan tinggal di kawasan yang didominasi penduduk keturunan Arab di pinggir kota Marseille.

Tapi generasi kedua dari kaum migran itu lebih suka disebut orang Perancis dan ia tumbuh dengan nama panggilan Yazid dan pelatihnya Roland Curbis di Bordeaux memanggilnya Yaz pada 1990-an.

Lama-kelamaan ia dipanggil dengan nama Zizou sehingga terasa lebih Perancis. Ia menyebut dirinya Muslim tetapi tidak menjalankan rukun Islam. Ia tidak suka politik.

Namun karena politik rasial menjadi debat nasional di Perancis dalam beberapa tahun, Zidane terpanggil ikut dalam panggung politik. Ia lebih cinta pada Perancis liberal ketika ia berbicara tentang rasialisme Partai Fron Nasional Jean-Marie Le Pen ketika terjadi perdebatan menuju kursi kepresidenan pada 2002.

Tetapi ketika itu bisa saja alasan Zidane membicarakan partai itu karena ia merasa dihujat secara pribadi oleh Le Pen, yang menggambarkannya sebagai "putera Aljazair Perancis". Ini dirasa menyerang karena ucapan itu menggambarkan dia bukan Perancis dan juga bukan Aljazair.

"Pikirkan..dan saya selalu menekankan," kata Zidane ketika itu, "Tentang konsekuesni memilih partai yang tidak selalu berkaitan dengan nilai Perancis."

Perancis Liberal suka menggunakan kebesaran popularitas Zidane sebagai simbol bahwa negara menjadi terbuka dan semakin cerah terhadap kaum minoritas. Zidane amat setuju dengan faham itu dan layaknya sebagai generasi kedua, kalangan Muslim Perancis pun amat setuju dengan keterbukaan terhadapan kaum minoritas.

Filosofi Perancis tentang imigran selalu berintegrasi dengan negara ketimbang bersifat multikultural, artinya semua yang datang ke Perancis harus bertindak seperti orang Perancis, tidak lagi bergantung kepada nilai asli leluhur di negara mereka.

Hal ini diperagakan Pemerintah Perancis dengan melarang wanita muslim mengenakan cadar atau jilbab di sekolah-sekolah dan tempat bekerja mereka. Dalam hal ini, Zidane sebagai Muslim dari Afrika Utara, yang tumbuh di Perancis sebagai personifikasi gaya Gallic, dianggap sebagai poster seorang pemuda Perancis yang terintegrasi dalam bentuk model.

Ada juga yang menganggap Zidane sebagai Paman Tom. Kebaikan Perancis terhadap Aljazair di Paris dua tahun lalu terbalik menjadi mimpi buruk bagi Zidane, ketika elemen dukungan Aljazair berbalik dengan adanya ucapan dan tulisan yang berbunyi Zidane-Harki.

Harki adalah Muslim Aljazair yang bertempur membela Perancis dalam masa perang 1954-62 dan dianggap para nasionalis Aljazair sebagai pengkhianat rendahan.

Implikasi ini menunjukkan bahwa ayah Zidane adalah seorang Harki, yang sudah mengkhianati agamanya, karena berkelahi melawan banganya sendiri, bertempur melawan saudaranya sendiri, kemudian melahirkan diri dan hidup di tengah orang yang didukungnya.

Pernah pertandingan terganggu karena terjadi kekacauan karena penonton Aljazair berteriak dari tepi bahkan masuk ke lapangan dengan mengucapkan slogan tentang Osama bin Laden.

Menanggapi hal ini Zidane mengatakan, "Saya katakan hari ini dan untuk selamanya, ayah saya bukan seorang Harki. Ayah saya seorang Aljazair, dia bangga dengan itu dan saya bangga dengan ayah saya. Saya bangga dengan Aljazair. Yang paling penting ingin saya katakan, ayah saya tidak pernah bertempur dengan orang senegaranya."

Semua itu tampaknya lebih banyak "diucapkan" Zidane melalui sepakbola dan ia meneriakkannya melalui gol-gol yang diciptaknnya pada final Piala Dunia 1998 dan Liga Champion 2002 dan 2004 serta Piala Dunia 2006.

Penampilan dan gol-gol yang diciptakannya merupakan jawaban abadi tentang tidak benarnya tuduhan orang terhadap keluarganya.

Mengapa ia mengundurkan diri setelah usai Piala Dunia 2006?

Itu biasa bagi pemain yang sudah beranjak tua, seperti yang dilakukan para pemain lain yang bahkan lebih muda usianya dari Zidane. Jadi bukan karena masalah sakitnya secara fisik.

Harian olahraga Spanyol, Marca, pernah mempublikasikan Zidane menderita sakit keturunan yang secara bertahap menurunkan tingkat kebugaran fisiknya. Ini bukan masalah eksklusif, karena Zidane sendiri pernah mengakui ia menderita talasemia, penyakit keturunan yang mempengaruhi haemoglobin dalam darahnya, jenis penyakit yang biasa terdapat di Afrika Utara dan Italia.

Jenis penyakit ini akan membutuh si penderita dalam tempo tingkat pertama, tetapi hal ini tidak ada berpengaruh pada Zidane kecuali ia berkeringat banyak dalam pertandingan (dilaporkan ia minum lima liter air dalam sehari).

Pengunduran dirinya tidak ada kaitannya dengan usia dan kesehatan fisiknya. Pengunduran diri itu karena alasan pribadi.

Apa "rahasia" Zidane?

Apa sebenarnya "rahasia" Zidane sehingga ia begitu emosional mendengar apa yang dikatakan Materazzi?

Spekulasi menyebutkan, Materazzi tidak mungkin menghina ibu Zidane karena ibunya sendiri meninggal ketika ia berusia 14 tahun, terlebih pemain Italia itu mengatakan, "Saya sangat menghormati ibu saya."

Apakah ia menghina saudara perempuan Zidane? Apakah ia menjelekkan Zidane dari sisi rasial? Mengapa Zidane begitu emosional kalau hanya dikatakan "teroris"?

Kalau melihat sejarah "politis" Zidane bersama ayahnya masuk dan bermukim di Perancis, terlebih sosok ayah begitu kuat mempengaruhi kejiwaan Zidane, tampaknya ungkapan Materazzi berbau rasial yang membuat Zidane berbalik dan menanduknya.

Mungkin ada beberapa kata kasar, tetapi yang berbau rasial itu lah pemicu utama, karena tampaknya masalah itu yang amat sensitif pada kejiwaan Zidane.

Zidane berjanji akan membuka rahasia kata di tengah lapangan itu, jadi rahasia itu kita tunggu bersama saja. (*/cax)

July 18, 2006

Orang paling keren

Orang paling keren so pasti : zinedine zidane.

Palestina

ReviewReviewReviewReview

Autobiografi (Jer.) : Terusir Dari Surga

Jul 14, ‘06 7:28 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:

Halima Alaiyan

 

Dikutip dari :

http://cahayahati.multiply.com 

 

Vertreibung aus dem Paradies atau Terusir dari Surga, adalah autobiografi dalam bahasa Jerman dari seorang perempuan Palestina, yang bernama Halima Alaiyan.

Halima Alaiyan lahir di Ibdis, Palestina, bersama keluarganya mereka melarikan diri dari Palestina, saat Israel didirikan tahun 1948. Kemudian mereka hidup dalam pelarian di Mesir, usia 16 tahun ia dinikahkan dengan sepupunya, yang kemudian pergi ke Jerman untuk kuliah kedokteran.

Sedangkan ia dan anak-anaknya dikirim kembali ke orang tuanya di Gaza. Tak lama kemudian ia pun diperkenankan oleh suaminya menyusulnya ke Jerman tapi tanpa anak-anaknya.

Di Jerman ia bertahan dan berjuang untuk hidupnya dan kedatangan anak-anaknya walau tanpa sepenuhnya izin suaminya, ayah dari anak-anaknya.

Ia seorang perempuan Palestina, yang berjuang demi anak-anaknya dan harga dirinya di Jerman, di mana kemudian ia berhasil juga menyelesaikan kuliah kedokteran dan menjadi seorang spesialis Ortopedi, di mana ia sekarang hidup di Saarbrücken. Saya cuplik sedikit kalimat-kalimat dari autobiografi itu yang menurut saya sangat menyentuh di bawah ini …

"…Hanya jika ia menceritakan tentang Palestina, maka ia tampak sedih, lemah dan penuh rindu. Air mata memenuhi wajahnya setiap kali ia membicarakan tanah air kami yang hilang …… (hal 17)"

"….pemilik tanah itu tidak mengatakan lagi sesuatu. Ia kemudian bertanya pekerjaan saya di Palestina. Saya katakan padanya: Tuan, saya sebetulnya memiliki banyak tanah, rumah besar di desa kecil Ibdis, tidak jauh dari Jaffa, dengan kuda, kambing, bebek, angsa, kelinci dan merpati, dengan pohon kacang, citrun dan jeruk, anggur dan ladang gandum. Kami sebenarnya keluarga cukup besar, berada dan dikenal umum. Hanya tinggal kamilah yang tersisa dari serangan Israel itu.

Kemudian, jawab pemilik tanah Mesir itu : ‘Kalian ingin bahwa orang Inggris pergi dari Palestina. Seharusnya kalian biarkan saja mereka di tanah kalian dan jangan melawan mereka. Tentulah mereka sekarang dapat melindungi kali dari serangan Israel. Kami di Mesir melihat orang Inggris sebagai teman. Seharusnya kalian juga dapat berbuat seperti itu. Tapi kalian tidak ingin ada orang Turki atau Inggris atau kekuatan lain di tanah kalian. Kalian ingin memerintah sendiri Palestina tapi kalian sendiri terlalu lemah, sehingga orang Yahudi yang di mana-mana diusir dan dibunuh, dapat menduduki Palestina dan dengan mudah mengambil begitu saja tanah kalian. Dan kukatakan pada kalian, akan sulit merebut Palestina kembali dari tangan mereka ….(hal28) "

"… aku perhatikan, bagaimana ia memandang adikku dan air matanya membasahi wajah dan menetes ke dadanya. Keheningan seperti ini sebelumnya tidak pernah kurasakan. Itulah keheningan sebuah kematian …(hal 40) "

"… Malam hari Irmgard dan Reinhard mengunjungi kami di apartemen baru. Karena mereka baru saja mendengar berita koran dan khawatir akan keadaan kami.

‘ Kapankan sebenarnya orang Yahudi mulai hidup di Palestina ?’ tanya Irmgard. ‘Kurang lebih seribu tahun sebelum lahirnya nabi Isa’ jawab Ahmed. Mereka datang dari Ur, Irak sekarang dan kemdian menetap di kanaan biblis. Kurang lebih daerah orang Palestina, yang mana oleh orang Ingris dibuat batas sebagai daerah mandat mereka setelah perang dunia ke-1. Orang Yahudi dulu adalah orang asing, yang kemudian hidup bersama dengan orang Kanaan, leluhur kami, dengan damai.’

Kemudian lanjut Irmgard’ Setelah perang dunia kedua banyak negara yang menganggap wajar orang Yahudi mendapatkan tanah, itukan bagaimanapun tanah suci mereka’

‘Tanah suci di Palestina bukan saja milik orang Yahudi !’ Ahmed memanas, ‘di sana juga ada tanah suci beberapa agama lain’

‘Tapi bukankan tanah yang diduduki orang Yahudi tidak dihuni ?? katanya di sana hanyalah padang pasir saja’ tanya Reinhard ikut bergabung dalam diskusi kami.

‘Apakah itu cukup dapat menjadi alasan untuk dengan begitu saja mengambil tanah air kami ?’ jawab Ahmed dengan wajah ketus ‘Dan lagi di sana tumbuh pohon kacang, jeruk, citrun dan buah zaitun yang terkenal. Saya tidak tahu siapa yang mengatakan bahwa itu hanyalah padang pasir yang tidak ada tanaman dan tidak dihuni. Itu adalah isapan jempol belaka, alasan tertutup untuk melegalkan pencurian tanah air kami.’ ….. (hal 151-152) "

"…. Mama, mama seorang dokter, tolonglah aku agar cepat mati … jangan biarkan aku terlalu lama dengan rasa sakit ini ‘ pintanya berkali-kali. Tapi aku tidak bisa memenuhi keinginannya. Bila melihat penderitaannya, aku harap aku bisa tapi aku tidak memiliki keberanian untuk itu … (hal 255)"

"….Setelah kematian Talat, putraku, mulailah hari-hari yang sulit buatku. Suatu hari aku berdiri di dapur putriku dan mengeluhkan padanya karena aku tidak berkewarganegaraan juga mengeluhkan kesepianku. Gada, putriku, pergi membuat kopi dan mengisi dua cangkir kemudian menaruhnya di atas meja dan kemudian berujar dengan serius: ‘Mama, duduklah. Minum kopimu dan dengarkan baik-baik. Jangan potong aku … dengarkan saja apa yang akan kukatakan ya …. Kenapa mama mengeluh ? Mama tumbuh dalam keluarga yang melindungi, di negara yang aman. Mama telah mendapat tempat pelarian di negara Arab dan Jerman, telah menyelesaikan kuliah dan dapat memberi nafkah keluarga. Mama … mengeluh hanya bolah dilakukan ibu-ibu yang hidup di Gaza dengan anak-anaknya, yang tidak dapat mereka lindungi dari rongrongan para serdadu, para penyiksa dan teroris.

Aku harus saksikan waktu kecil bagaimana rumah-rumah dijarah, bagaimana kakek dulu dipukuli, bagaimana para perempuan dibawa, dilukai dan dibiarkan tergeletak. Aku harus saksikan, bagaimana serdadu Israel membawa pergi anak muda seumurku dan mereka tidak pernah kembali lagi. Aku alami, bagaimana kakek dulu dengan Talat, kakakku, diusir dari satu dokter ke dokter lainnya. Jika Talat masih di Gaza tentulah ia sudah lama tiada, di sini bagaimana pun ia bisa hidup sampai berumur 22 tahun. Untuk itu mama harus berterimakasih .. karena mama beruntung berada di Jerman, mama berhasil melindungi kami, anak-anakmu, dengan aman, dan kita bisa hidup dengan damai dan dalam kebebasan. … (hal 264) "

July 14, 2006

Dedicated for Zizou (3)

Pengakuan Zinedine Zidane

Paris - Inilah petikan wawancara Zinedine Zidane dengan stasiun televisi Prancis, Canal Plus, Rabu (12/7/2006), mengenai insiden di pertandingan terakhirnya di final Piala Dunia 2006 lalu, saat ia menanduk dada Marco Materazzi sehingga diganjar kartu merah.

Tanya: Anda tahu pemain-pemain Italia telah mengenal Anda dengan baik karena Anda bermain di Italia selama lima tahun. Sebelum ini, apakah Anda pernah punya masalah dengan mereka?

Zidane: Sama sekali tidak. Anda selalu punya friksi dengan pemain-pemain tertentu… itulah permainan, selalu seperti itu. Tapi aku tak pernah bertikai dengan siapapun.

Tanya: Termasuk Materazzi?

Zidane: Tidak. Tak pernah ada apa-apa dengan dia sampai dia menarik bajuku. Aku minta dia berhenti menarik bajuku. Kukatakan padanya, kalau mau baju ini kita bisa tukaran di akhir pertandingan.

Saat itulah dia mengatakan kata-kata yang sangat kasar, yang lebih kasar daripada isyarat tubuh. Dia mengulanginya beberapa kali. Ini terjadi sangat cepat dan dia mengatakan sesuatu yang betul-betul melukai perasaanku.

Tanya: Semua orang ingin tahu persisnya kata apa yang dia ucapkan…

Zidane: Sangat serius. Sangat menyangkut pribadi.

Tanya: Tentang ibu dan saudara perempuan Anda?

Zidane: Ya. Kata-kata itu sangat kasar. Anda mendengarnya satu kali, lalu mencoba pergi. Tapi Anda mendengarnya lagi untuk kedua kalinya, lalu ketiga kalinya. Aku juga manusia dan beberapa kata-kata bisa lebih sulit untuk didengarkan daripada perbuatan. Lebih baik wajahku yang dipukul ketimbang mendengar hal itu."

Tanya: Dia menyingung ibu dan saudara perempuan Anda dua atau tiga kali?

Zidane: Ya. Aku bereaksi yang sesungguhnya tak boleh dilakukan. Aku harus menegaskan itu. Kejadian itu ditonton dua-tiga miliar orang lewat televisi dan jutaan anak-anak.

Perbuatanku tidak dapat dibenarkan dan oleh karena itu, kepada anak-anak dan mereka yang memberi pelajaran kepada anak-anak tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, aku minta maaf.


Tanya: Anda minta maaf kepada mereka, tapi betulkah Anda menyesal karena melakukan hal ini?

Zidane: Aku tidak bisa menyesalinya karena itu berarti aku mengakui bahwa dia (Materazzi) berhak ngomong begitu, padahal tidak.

Kita selau bicara soal reaksi, dan tentu saja tindakan(ku) harus dihukum. Tapi kalau tidak ada provokasi, pasti tak ada reaksi.

Provokasi dia sangat serius. Tindakanku memang salah, tapi pelaku kejahatan yang sebenarnya adalah orang melakukan provokasi.

Apakah Anda membayangkan bahwa di final Piala Dunia seperti itu, dengan 10 menit tersisa dari penghujung karirku, aku akan melakukan sesuatu seperti itu karena membuatku senang?

Tanya: Dan kalau itu terjadi lagi, apakah Anda akan bereaksi sama?

Zidane Aku sudah mengutarakan apa yang kupikirkan.

Dedicated for Zizou (2)

Zidane Jaga Kotak Pandora?

Jakarta - Zinedine Zidane sudah mengakhiri kebisuannya, namun tetap provokasi Marco Materazzi masih rahasia. Begitu jahatkah, hingga Zidane seakan ingin agar Kotak Pandora tetap tertutup?

Menilai dengan ketulusan, dalam pernyataannya di Paris, Kamis (13/7/2006) Zidane mengaku salah dan meminta maaf. Tidak ada pembenaran untuk melakukan kesalahan karena kesalahan lain.

Dengan pengakuan ini, jelas Zidane berisiko menerima hukuman tambahan dari FIFA. Pesiden FIFA Sepp Blatter sebelumnya menyebutkan, Golden Ball milik mantan kapten Prancis itu bisa dicabut. Suatu hal menyakitkan bagi seorang profesional yang ingin memiliki cenderamata indah di penghujung karirnya.

Namun Zidane punya prinsip. Pria 34 tahun itu tidak membantah akan kembali melakukan "tandukan", jika dirinya mendapat hinaan serupa. Baginya, harga diri lebih penting. "Beberapa kata-kata bisa lebih sulit didengarkan daripada perbuatan. Lebih baik wajahku yang dipukul ketimbang mendengar hal itu," katanya.

Apapun yang dikatakan Zidane, akan menjadi pertimbangan FIFA untuk membuat keputusan. Selain mengakui kesalahan, dengan tegas peraih tiga kali penghargaan Pemain Terbaik FIFA itu meminta FIFA juga menghukum Materazzi. "Tindakanku memang salah, tetapi pelaku kejahatan yang sebenarnya adalah orang yang memprovokasi."

Dalam dua hari terakhir, beredar terjemahan ahli pembaca gerak bibir, yang hasilnya sangat mengejutkan. Reaksi yang ditimbulkan pun cukup luas. Presiden Aljazair langsung mengirimkan surat bernada dukungan. Publik dan media-media Prancis tetap menganggapnya pahlawan. Sponsor seperti Adidas yang biasanya sensitif dengan masalah fair play, kali ini bahkan dengan tegas menyatakan dukungannya dan tidak akan membatalkan kontrak.

Apa sebenarnya kejahatan Materazzi, hanya dua pribadi yang tahu. Pertanyaannya, jika ingin membela diri, mengapa Zidane tidak menirukan perkataan Materazzi, atau setidaknya menyebut kata-kata sensitif yang membuatnya kehilangan kendali? Apakah kata-kata Materazzi benar-benar penuh dengan setan, hingga Zidane begitu keukeuh agar Kotak Pandora tetap tertutup?

Kembali hanya Zidane yang punya jawaban. Jika benar apa yang dimengerti oleh ahli pembaca gerak bibir, bisa dibayangkan sakit yang rasakannya, juga orang terdekat. Malah, saat ini ratusan juta orang pun sudah merasakannya.

FIFA akan membuat keputusan dalam sepekan ini. Apapun itu, yang pasti tindakan Zidane akan terus dikenang sepanjang sejarah sepakbola. Inilah momentum paling manusiawi dalam melawan rasisme dan hipokrasi.

Zidane tidak lagi hanya seorang legenda sepakbola yang dipuji publik. Lebih dari itu, Zidane adalah seorang yang memiliki integritas, tidak menjual dirinya untuk sebuah Piala Emas, Bola Emas atau uang, dan membuat sepakbola sebagai tempat yang nyaman bagi siapa pun yang ingin hidup di dalamnya. (lom) 

Dedicated for Zizou

Zizou

Goenawan Mohamad (Catatan Pinggir Majalah TEMPO, 10 Juli 2006)

JIKA huruf Arab yang mengeja namanya di-Latin-kan dengan lafal Inggris, ia adalah Zîn ad-Dîn. Di Indonesia ia akan dipanggil Zainuddin. Konon itu berarti "ornamen iman".

Orang tuanya datang dari Dusun Taguemoune, di bukit-bukit Aljazair yang jauh. Seperti banyak orang dari wilayah Afrika yang dilecut niat memperbaiki nasib, Smaïl Zidane, si ayah, pergi merantau ke Paris. Tapi kemiskinan tetap menggilas, dan ia pindah ke Marseille, di selatan, sebuah kota yang tak teramat jauh dari negeri asal.

Pada pertengahan 1960-an itu, Smaïl bekerja sebagai petugas gudang, sering dalam giliran malam. Ia ingat Zainuddin mudah bermimpi buruk bila si bapak tak pulang. Sebab itu pada waktu senggangnya ia penuhkan perhatian bagi anak yang lembut hati yang dipanggilnya Yazid atau "Yaz" itu.

Ketika Zidane muda sudah jadi pemain bola termasyhur, dan seluruh Prancis mengelu-elukannya sebagai pahlawan, dan para pengagumnya memanggilnya "Zizou", bukan "Yaz", ia tak melupakan apa yang diberikan ayahnya. "Saya mendapatkan semangat dari dia," katanya. "Ayahlah yang mengajari kami bahwa seorang imigran harus bekerja dua kali lipat kerasnya jika dibandingkan dengan orang lain– dan tak boleh menyerah."

Daerah La Castellane, di bagian utara Kota Marseille, tempat Zainuddin Zidane dibesarkan, tempat ia bermain bola di lapangan Place de la Tartane, bukanlah wilayah yang ramah. Orang menyebutnya sebagai quartier difficile, perkampungan sulit. Di tepi jalan yang berdebu itu, di deretan perumahan kotak-kotak itu, hidup si muslim, si miskin, si minoritas, yang akhir-akhir ini merisaukan Prancis: beban, ancaman, atau bantuankah mereka?

Dalam hal itu "Zizou" mau tak mau memikul sebuah pertanyaan– meskipun kita tak tahu sadarkah ia akan hal itu.

Ketika Prancis keluar sebagai kampiun Piala Dunia 1998, sebuah perayaan spontan meluap di Paris: satu setengah juta manusia berderet di Champs Elysees. Sebuah potret besar Zidane, pencetak gol yang menjadikan negerinya sang juara, diproyeksikan di Arc de Triomphe. Ribuan orang berseru, tiba-tiba, "Zidane! Président!"

Zainuddin, keturunan minoritas yang disebut les beurs, serta-merta jadi sebuah ikon bagi sebuah bangsa yang sering disebut "paling rasialis" di Eropa.

Agaknya Piala Dunia sebuah simptom: kompetisi itu adalah ekspresi nasionalisme dalam demamnya yang tak berbahaya. Juga nasionalisme yang tak sama dengan rasialisme. Eropa pernah melahirkan Naziisme, tapi ada sesuatu yang sering diabaikan: nasionalisme punya kemampuan untuk melupakan.

Prancis semenjak revolusi pada abad ke-18 merupakan contohnya. Dari pengalaman itu pada abad ke-19 Ernest Renan mengemukakan pentingnya "lupa" dalam membentuk bangsa: sebuah "nasion" terjadi ketika ikatan kedaerahan, rasial, dan keagamaan tak lagi diingat- ingat. Telah tumbuh hasrat untuk berbareng (le désir de l’être ensemble) di antara anasir yang berbeda-beda. Sebuah kebersamaan pun terbangun.

Zidane menerima dan diterima oleh kebersamaan itu–yang bernama "Prancis"–ketika ada kehendak "melupakan" ikatannya dengan sesuatu yang bukan "Prancis". Juga di lapangan hijau itu: "Prancis" hadir bukan cuma pada warna kaus yang seragam, tapi juga pada agresivitas Zidane yang melupakan diri bahwa ia seorang pemain Real Madrid– seperti halnya lawannya hari itu, Ronaldo dari Brasil.

Demikianlah identitas "Prancis" berkibar dari lupa dan benturan. Kompetisi Piala Dunia memang metafora yang bagus tentang antagonisme, di mana perbedaan yang mutlak tak pernah ada. Sebuah pertandingan selalu mengasumsikan semacam persamaan: tak ada pihak yang 100 persen ganjil bagi pihak lain. Yang terjadi adalah ada yang menang, ada yang kalah.

Sebagaimana dalam kehidupan: ada antagonisme dalam tiap kebersamaan, dan si menang naik, si kalah turun. Kesetaraan yang penuh tak bisa tercapai; tiap angka 0-0 akan diselesaikan dengan tendangan penalti. Tapi dorongan ke arah kesetaraan akhirnya tak dapat dielakkan, dan argumen untuk mengekalkan perbedaan akan terguncang. "Kami berasal dari sebuah keluarga yang tak punya apa-apa," kata Smaïl Zidane menyaksikan tempik-sorak bagi anaknya di seantero negeri. "Kini kami dihormati orang Prancis dari segala jenis."

Tapi justru karena itulah Zidane membawa sebuah pertanyaan bagi Prancis: bisakah logika perbedaan diguncang oleh logika kesetaraan? Bagaimana mungkin "mereka"–yang muslim, yang lain–dianggap sederajat dengan "kita", mayoritas?

Tampak bahwa di sini yang ditekankan bukanlah lupa, melainkan ingatan–dan wajah buruk nasionalisme pun menyeringai.

Setelah kemenangan tim Prancis pada tahun 1998 itu, Jean-Marie Le Pen, pemimpin Front National–yang selalu mencurigai minoritas– akhirnya menerima Zidane dengan catatan: sang bintang adalah "putra Aljazair Prancis". Itulah alasannya kenapa Zainuddin layak diterima di antara "kita": Zizou datang dari keluarga "harki", kata Arab untuk menyebut orang Aljazair yang bertempur di pihak Prancis, sang penjajah, pada masa perang kemerdekaan.

Zainuddin membantah itu: keluarganya bukan pengkhianat. Tapi bisakah ia mendefinisikan diri, ketika dunia privat seseorang diserbu kebencian hitam-putih orang ramai? Oktober 2001, sebuah pertandingan persahabatan dicoba antara tim Prancis dan Aljazair di Stade de France. Pertandingan itu simbolik: kedua negeri itu tak pernah bertemu di lapangan bola sejak perang kemerdekaan Aljazair. Tapi seperti diceritakan Andrew Hussey dalam The Observer, menjelang hari itu Zidane diancam akan dibunuh. Poster dipasang: "Zidane-Harki". Akhirnya permainan tak selesai. Beberapa anak muda keturunan Arab berseru mengelu-elukan Usamah bin Ladin dan mengutuk Republik Prancis.

Demikianlah lupa dan ingatan bisa dibongkar pasang untuk diteriakkan, juga bagi si pemalu yang bersuara lirih itu, Zinedine Zidane.